Perupa Eksplorasi Berbagai Bentuk Plastis Perangkat Teko

Karya seni keramik berbentuk perangkat minuman berupa teko dengan citraan bentuk yang rentan, riskan, dan ganjil.

Sejarah & Budaya108 Dilihat

 

Karya seni keramik Cecil Mariani (Glaze Stoneware Vessel, 2026). Foto: Dok. Orbital Dago/ dialoguejakarta.com

BANDUNG, dialoguejakarta.com – Bagaimana ketika perangkat teko tidak bisa difungsikan sebagai wadah untuk air minum? Alih-alih membuat teko sebagai perangkat minuman, perupa Cecil Mariani (1978) malah mengeksplorasi bentuk teko sebagai karya tiga dimensi pada pameran bertajuk The Missing Cup of Tea di Orbital Dago, Bandung, 27 Agustus – 20 September 2026.

“Karya-karya dalam pameran The Missing Cup of Tea berangkat dari perjumpaan Cecil Mariani dengan tanah liat bakaran tinggi (Stoneware) pada suatu masa perubahan hidup,” ujar Rifky Effendy, kurator pameran ini. Pada pameran ini Cecil memajang 21 karya keramik, satu karya keramik instalasi dan 13 karya drawing.

Semula Cecil tidak berniat membuat bentuk teko sebagai karya seni saat belajar membuat keramik. “Saya membayangkan membuat teko stoneware dan menggunakannya di rumah, juga dapat memberikannya sebagai hadiah untuk ibu saya yang suka minum teh tiap hari,” kata Cecil.

Namun dalam proses membuat teko dia selalu merasakan semacam gangguan penolakan dalam dirinya ketika berkutat merapihkan dan mematutkan fungsi teko. “Alhasil saya tergoda terus membentuk yang liyan dari sekedar fungsi dalam menyelesaikan tiap teko. Godaan ini terus berulang setiap kali saya mencoba lagi membuat teko yang jinak dan berfungsi,” ujar Cecil yang juga berprofesi sebagai dosen program sarjana dan pascasarjana di Fakultas Seni Rupa di Institut Kesenian Jakarta.

Dari gangguan inilah lahir apa yang dia sebut sebagai “gejala-gejala teko”, yakni wadah yang memiliki cerat, pegangan, tangan, tungkai, lipatan, dan permukaan menyerupai bentuk tubuh. “Bentuknya rentan, riskan, dan ganjil,” kata Cecil. Dia mengolah materi yang kaku menjadi bentuk yang plastis.

Ada teko berbentuk geometris dengan penutup berupa bentuk kaki yang menjulur ke atas dengan mulut teko yang berfungsi mengeluarkan air berbentuk tangan yang berongga di ujungnya, sementara pegangan teko yang terkesan tidak nyaman dipegang saat mengangkat teko (Seduhan Kala 4, 2024).

Cecil juga membuat bentuk persegi badan teko dengan penutup berupa bentuk tangan, sedang pegangan teko berupa bentuk dua kaki (Seduhan Kala 2, 2024).

Imajinasi Cecil makin liar dengan mengeksplorasi plastisitas bentuk teko dengan dua bentuk kaki dan dua bentuk tangan menjulur di bagian atas bentuk teko (Glaze Stoneware Vessel – Tea pot, 2025). Bentuk plastis teko lainnya karya Cecil bak tubuh yang duduk dengan dua kaki dan tangan tampak lunglai (Divanation Ware, 2025).

Karya keramik Cecil bak menempatkan teko sebagai tubuh yang menghasilkan gestur untuk mengeluarkan cairan yang bakal membasahi organ tubuh. Menurut Rifky Effendy, dalam peta seni rupa kontemporer Indonesia sekarang, praktik Cecil dapat dibaca sebagai seni keramik ekspansif yang berangkat dari tubuh kerja dan benda domestik. “Karyanya mempertemukan kepekaan kriya, cara pikir desain, pengalaman afektif, serta kritik terhadap tuntutan kebermanfaatan, atau soal benda fungsional,” ujar Goro, panggilan akrab Rifky Effendy.■ Raihul Fadjri

Komentar

Kolom Berita