
YOGYAKARTA, dialoguejakarta.com – Pelukis cat air Nanang Wijaya menggelar pameran tunggal yang ke 26 bertajuk
Never Stop Exploring di Jogja Gallery 27 Agustus ‑ 7 September 2026. Pria kelahiran Jakarta pada 27 Agustus 1970 ini bak merayakan hari kelahirannya dengan memajang 110 karya lukis cat air, 72 diantaranya menggunakan media kanvas dengan tahun pembuatan 2025 – 2026.
Teknik lukisan cat air biasanya menggunakan media kertas, tapi pelukis cat air Nanang Wijaya malah memakai media kanvas. “Supaya ada perbedaan karya lama dan karya baru,” ujarnya. Nanang mulai mengeksplorasi teknik cat air di atas media kanvas pada 2015. Dia memakai media kanvas karena punya kelebihan saat memakai cat air. “Aliran airnya di atas media kanvas masih bisa di redam, kalau di kertas gak bisa.”
Nanang Wijaya juga dikenal sebagai pelukis cat air yang banyak melakukan kegiatan artistiknya di luar negeri. Hingga saat ini dia mengikuti 23 pameran internasional cat air di luar negeri. Perjalanan terbaru Nanang ke satu desa pegunungan di Kabupaten Youyu, Provinsi Shanxi, Cina, yang berbatasan dengan Mongolia, pada 4 – 15 Agustus 2026. Dari perjalanan ini Nanang menghasilkan 12 karya lukis on the spot bersama 200 pelukis yang diundang pemerintah daerah Shanxi bersama dua pelukis dari Indonesia, 40 pelukis dari Malaysia, dan 100-an pelukis dari Cina. Pada pameran ini Nanang memajang empat karya lukis bercorak impresionis berupa citraan bentuk rumah warga dan salah satu sudut kota Youyu (Youyu County Shanxi, 2026).
Dalam perjalanan kreatifnya Nanang juga mengunjungi delapan negara yakni Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Cina, Jepang, Korea, Nepal, India, Bangladesh atas undangan untuk mengikuti kegiatan melukis on spot.
Dia melukis secara on the spot berbagai bangunan cagar budaya dan rumah ibadah berupa kuil dan candi di berbagai kota dan di berbagai negara. “Saya merasa terhormat menjadikan bangunan heritage yang punya aura spesial sebagai obyek lukisan saya,” ujarnya.
Nanang sangat menyukai praktek melukis on the spot, bukan melukis di studio. “Melukis on the spot itu berbeda auranya dengan melukis di studio. Dengan kondisi melukis di luar yang sangat berbeda kondisinya, panas, hujan, dan angin, serta suara-suara yang sangat mengganggu. Tapi kondisi itu justru menjadikan seorang pelukis menjadi kuat dan tegar berkarya di segala situasi,” katanya.
Menurut Nanang, kepercayaannya terhadap lukisan cat air meningkat karena dia menggunakan media kanvas. Sementara karya lukis memakai media kertas dianggap sebagai karya seni kelas dua.
Pengembangan dari media kertas ke media kanvas bukannya tidak beresiko. Praktek menggunaan media kanvas mendapat sorotan negatif dari pelaku seni lukis cat air. Tapi karena Nanang tetap mempertahankan membuat karya lukis cat air di atas kanvas, dia malah dapat penghargaan, karena keberaniannya menggunakan media lain–kanvas–di luar media kertas. “Saya anggap hoki lah,” katanya. Eksplorasi tiada henti.■ Raihul Fadjri
















Komentar