Eksplorasi Bentuk Lewat Karya Lukis Bertekstur

Beragam corak karya lukis dieksplorasi empat perupa dengan narasi kedekatan emosional, interaksi sosial, serta dinamika kompleks antara individu dengan komunitasnya.

Sejarah & Budaya121 Dilihat

Karya lukis Tjokorda Bagus Wiratmaja (Fertility, 2026). Foto: Dok. Indie Art House/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Empat perupa mengeksplorasi hubungan antarmanusia sebagai proses merangkai, menyusun, dan merawat keterikatan yang terus berubah seiring perjalanan waktu dan ruang kultural pada pameran bertajuk Loom, berlangsung di Indie Art House, Yogyakarta, 7 – 21 Agustus 2026.

Loom secara khusus mengedepankan eksplorasi tekstur taktil (indra sentuh atau rabaan), lapisan material (layering), repetisi motif, serta ritme visual. “Elemen-elemen ini hadir bukan sekadar teknik estetis, melainkan sebagai simbolik dari hubungan manusia yang saling mengikat sekaligus menopang satu sama lain,” ujar Tjokorda Bagus Wiratmaja, salah seorang perupa dalam pameran ini.

Pameran ini memandang hubungan antarmanusia bukan sebagai kondisi yang statis, melainkan sebuah proses merangkai, menyusun, dan merawat keterikatan yang terus berubah seiring perjalanan waktu dan ruang kultural.
Dalam keseharian yang bergerak cepat, kebersamaan sering kali bermanifestasi melalui fragmen yang subtil: percakapan singkat, memori kolektif yang mengendap, hingga ruang yang dibagi bersama secara sadar maupun tak sadar.

Loom menangkap momen-momen
tersebut melalui karya empat perupa yang masing-masing mengeksplorasi
kedekatan emosional, interaksi sosial, serta dinamika kompleks antara individu dengan komunitasnya. “Satu ruang artikulasi di mana empat karakter visual membangun dialog mendalam mengenai relasi dan identitas.” Keempat perupa ini adalah, Antonius Kho, Ridi Winarno,  Tjokorda Bagus Wiratmaja, dan Holy Inne.

Sejumlah karya pada pameran Loom.

Antonius Kho (1958)  menggunakan bahan taktil yang kaya seperti goni, tali, kain perca, dan kertas buatan tangan dengan membangun bentuk potret figur yang mengacungkan dua jari tangan dan simbol cinta lewat torehan struktur garis yang menghasilkan corak dekoratif dalam komposisi warna cerah (Greeting of Peace, 2024).

Praktik seni Ridi Winarno (1965) lewat ekspresi bahasa visualnya yang spontan berupa torehan garis yang menghasilkan bentuk naif dan diimbuhi dengan tebaran bentuk huruf dan angka. Salah satu karya lukisnya berupa potret wajah yang dibentuk dari garis sederhana di atas hamparan warna latar hitam (Empat Kompodisi Topeng, 2024).

Corak lukisan abstrak dieksplorasi Tjokorda Bagus Wiratmaja (1984) lewat abstraksi bentuk hewan dalam komposisi warna cerah bertekstur (Fertility, 2026). Tjokorda mengeksplorasi tekstur kasar yang dia kembangkan melalui campuran bubuk marmer dan pasta modeling, serta tekstur semu (ilusorik) melalui permainan lapisan warna ekspresif yang berani.

Adapun Holy Inne mengeksplorasi karakter lanskap berupa laut, garis cakrawala, dan perahu  yang didominasi nuansa warna biru serta sapuan kuas yang lembut dan puitis dengan torehan bertekstur sebagai metafora tentang pergerakan hidup yang konstan serta harapan yang bersemayam dalam keheningan (Hope, 2026).

“Loom sebagai satu ruang artikulasi di mana empat karakter visual membangun dialog mendalam mengenai relasi dan identitas,” ujar Tjokorda Bagus Wiratmaja.■ Raihul Fadjri

Komentar