Kisah Panjang Masa Lalu Lukisan Sokaraja Hingga Kini

Kawasan kreatif lukisan Sokaraja pernah membentang sepanjang dua kilometer dan dinobatkan sebagai galeri lukis terpanjang di Asia Tenggara.

 

Salah satu lukisan Sokaraja karya Khuseri (Gerobak Pengangkut Padi, 2026). Foto: Dok. Museum dan Tanah Liat/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Sokaraja adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Selain dikenal dengan kuliner Soto Sokaraja, daerah ini juga dikenal sebagai sentra lukisan lewat keberadaan lukisan Sokaraja.

Tradisi melukis oleh penduduk Sokaraja, Banyumas, mulai berkembang dan marak menjadi ‘industri rakyat’ sejak akhir tahun 1930-an, dengan masa kejayaan terbesar berlangsung pada dekade 1950-an hingga 1980-an.

Pada 1970-an pelukis Sokaraja mereproduksi karya lukis maestro seperti Basuki Abdullah. Lambat laun, mereka mengembangkan ciri khas sendiri bergaya Mooi Indie (Hindia Molek) yang menampilkan pesona alam ideal seperti pemandangan gunung kembar, pepohonan, dan hamparan sawah.

Pada masa kejayaannya di tahun 1970-an hingga 1980-an, kawasan ini membentang sepanjang dua kilometer dan dinobatkan sebagai galeri lukis terpanjang di Asia Tenggara. Karya lukis dari Sokaraja ini bahkan banyak dikoleksi oleh pencinta seni dari Malaysia dan Singapura.

Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 20 hingga 40 orang pelukis lokal Sokaraja yang masih aktif. Ada yang bergabung dengan Komunitas Pelukis Sokaraja (Kuas), tapi ada juga yang menjadi pelukis mandiri. Kini pelukis lebih banyak mengandalkan pesanan pasar dan pameran komunitas untuk tetap berkarya. Deretan galeri lukisan Sokaraja kini banyak yang berganti menjadi sentra kuliner getuk dan soto.

Meski terjadi banyak perubahan, generasi penerus lukisan Sokarja yang lahir pada rentang tahun 1900-an hingga 2000-an masih bersemangat menggelar karya mereka pada pameran bertajuk ‘Babad Sokaraja, Pameran Seni Arsip dan Cerita Tanah Sokaraja’ di Museum dan Tanah Liat, Yogyakarta, 20 Juni – 20 Juli 2026.

Sebagian besar mereka berprofesi sebagai pelukis. Tapi ada juga yang berprofesi sebagai guru, pedagang di pasar, dan petani. “Tapi melukis tetap jadi fokus mereka,” ujar Ugo Untoro, pemilik Museum dan Tanah Liat. Mereka lahir sekitar tahun 1990-an dan 2000-an. “Yang paling senior berusia 80 tahun.”

Menurut Ugo, beberapa pelukis Sokaraja ini meneruskan kegiatan melukis dari orang tuanya. “Ada juga yang belajar sendiri dengan tema landscape gaya Sokaraja,” ujar perupa kelahiran 1970 di Purbalingga, Banyumas ini.

Jejak gaya lukisan Sokaraja klasik berupa citraan hamparan sawah dengan latar gunung bercorak lukisan naturalis masih tersisa pada lukisan mereka dengan komposisi warna kuning, biru, hijau dan coklat. Ada karya lukis Fahruri Fang berupa lanskap sawah dengan citraan dua ekor sapi dan seorang petani berlatar gunung (Senja di Kaki Gunung Slamet, 2025). Ada juga lukisan karya Mukhamad Widodo berupa hamparan sawah dan sungai dengan latar belakang gunung (Tepi Sawah, 2025). Lanskap sawah dan gunung masih dipakai Anat Putra Petir dengan menambahkan citraan sosok figur dengan deretan bebek di depannya di jalan yang bersebelahan dengan aliran sungai (Angon Bebek, 2026).

Tapi ada juga sejumlah pelukis yang keluar dari visualisasi lanskap khas Sokaraja dengan menangkap sudut pandang yang lebih khusus. Alex Andi Wijaya memotret pemandangan berupa pengkolan aliran sungai dengan kerimbunan pohon bambu di kiri-kanannya (Pemandangan Sokaraja Era 80-an, 2025). Ada juga lukisan karya Parsito berupa hamparan jalan yang diapit jejeran pepohonan di kiri- kanannya dengan andong dan petani berjalan dan naik sepeda (Jalan Menuju Desa, 2025).

Bahkan Listyo Widodo menangkap suasana alam lewat sapuan ekspresif berupa struktur pepohonan dengan hamparan semak belukar di bawahnya (En Route to Curug Penganten, 2026).

Menurut peneliti antropologi Faisal Komandobat, di tangan para pelukis Sokaraja, kanvas adalah ruang perjumpaan antara memori kolektif, kecerdikan ekonomi, dan semangat kebersamaan. “Mereka tidak sekadar melukis pemandangan, tapi juga merawat kedaulatan cara pandang yang berpijak pada alam sebagai sumber penghidupan,” ujar Faisal yang berasal dari Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah ini.

Menurut Faisal yang juga seorang perupa, di balik sapuan kuas yang sederhana pada lukisan Sokaraja, terdapat kemandirian yang menggugat: bahwa keindahan merupakan milik setiap orang yang mampu melihat kemuliaan di balik gunung, sawah, dan sungai yang mereka pijak. “Pameran seni Babad Sokaraja merupakan upaya merawat ingatan yang penuh makna,” katanya.■ Raihul Fadjri

Komentar