JAKARTA, dialoguejakarta.com – Semangat membangun Indonesia sebagai sport nation terus digaungkan berbagai elemen olahraga nasional.
Pemerintah, organisasi olahraga, akademisi, hingga komunitas masyarakat dinilai memiliki peran penting menjadikan olahraga bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi bagian dari budaya dan karakter bangsa.
Konsep sport nation sendiri dimaknai sebagai negara yang menempatkan olahraga sebagai instrumen pembangunan sumber daya manusia, kesehatan masyarakat, prestasi internasional, hingga pemersatu nasional.
Sekjen Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat Drs. Tubagus Lukman Djajadikusuma, MEMOS, menegaskan bahwa olahraga harus menjadi gerakan nasional yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
“Indonesia harus punya pondasi yang kuat sport nation untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa olahraga. Ini jalan menuju Indonesia Emas 2045,” kata Tubagus Lukman Djajadikusuma pada Podcast SportlinkNews di Gedung KONI Pusat, Jakarta, Jumat 15 Mei 2026.
Menurutnya Indonesia memiliki potensi besar menjadi sport nation. Jumlah penduduk yang besar, talenta atlet yang melimpah, serta semangat masyarakat terhadap olahraga merupakan modal utama menuju bangsa olahraga yang maju dan berprestasi.
Pria yang biasa disapa Ade Lukman menegaskan pembangunan olahraga tidak hanya fokus pada medali. Tapi juga pembinaan usia dini, sport science, industri olahraga, serta peningkatan kualitas kompetisi nasional.
“Kita harap Indonesia menjadi sport nation agar masyarakat kita sehat. Kita harap atlet muncul dari sekolah. Di Amerika begitu. Karena itu harus punya banyak kompetisi. Kita harus melihat olahraga bukan sebagai cost atau biaya tapi investasi. Kalau masyarakat sehat, prestasi olaharaga kita akan berjalan sesuai harapan,” papar Ade Lukman.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menunjukkan perkembangan signifikan di berbagai cabang olahraga. Prestasi atlet nasional di ajang internasional seperti SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade menjadi bukti bahwa pembinaan olahraga nasional mulai menunjukkan arah positif.
Lebih lanjut dikatakan, untuk menjadi sport nation, Indonesia membutuhkan sinergi jangka panjang antara pemerintah, dunia pendidikan, federasi olahraga, media, dan sektor swasta.
Peran media olahraga juga dinilai sangat strategis dalam membangun optimisme dan budaya olahraga nasional. Melalui pemberitaan yang edukatif dan inspiratif, media mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya olahraga bagi kehidupan bangsa.
“Kenapa prestasi olahraga di Amerika begitu kuat? Itu karena pembinaannya berjalan dengan baik dan benar. Mereka menjaring atlet dari usia dini dan NCCA sebagai wadah pembinaan menuju atlet profesional,” terang Ade Lukman.
Menurut KONI Pusat, konsep sport nation harus dimulai dari pembudayaan olahraga sejak usia dini, penguatan kompetisi berjenjang, peningkatan kualitas pelatih, serta pemanfaatan sport science dan teknologi dalam pembinaan atlet.
KONI juga menilai sinergi antara pemerintah, induk cabang olahraga, dunia pendidikan, swasta, dan media massa menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem olahraga nasional yang kuat dan berkelanjutan.
Selain mengejar prestasi internasional, pembangunan olahraga nasional juga diarahkan untuk menciptakan masyarakat yang sehat, produktif, disiplin, dan memiliki semangat kompetitif tinggi.
“Olahraga adalah investasi bangsa. Ketika olahraga tumbuh, maka kualitas sumber daya manusia juga ikut meningkat,” lanjutnya.
KONI Pusat berharap semangat sport nation dapat menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat, sehingga olahraga benar-benar menjadi budaya nasional yang mengakar dari daerah hingga tingkat internasional.
“Ini sangat penting menuju Indonesia Emas pada Olimpiade 2044. Setidaknya prestasi olahraga kita bisa menembus 5-10 besar,” ujarnya.
Waktu yang tersisa 19 tahun menuju Indonesia Emas pada Olimpiade 2044 ini harus benar-benar dimanfaatkan. Artinya kata Ade Lukman, pembinaan harus dilakukan usia dini, sehingga pada Hari H nanti, atlet tersebut berada usia emas.
“Jika kita tidak melakukan pembinaan dari usia dini, target 5 besar pada Olimpiade 2044 itu akan menjadi lelucon sejarah,” ujarnya.
Tapi jujur saja, rakyat perlu tahu: bagaimana kita bisa masuk 5 besar dunia jika ‘kendaraan’ untuk mencapainya, yaitu KONI, sedang dipreteli mesinnya?
“Kita punya atlet berbakat, tapi sistem pendukungnya sedang mengalami anemia kronis,” tandas Ade Lukman.
“Permenpora dibuat untuk kebaikan kita semua. Tapi, ada masukan dari KONI provinsi bahwa Permenpora tidak sesuai harapan. Kami mengapresiasi suara mereka karena pembinaan memang berasal dari akar rumput,” pungkasnya.
“Kami sudah diskusi dengan Kemenpora. Mereka menyambut baik aspirasi kami. Tentunya akan ada revisi atau penyempurnaan Permenpora untuk mempercepat prestasi olahraga Indonesia,” lanjutnya.
Ade Lukman menegaskan prestasi olahraga Indonesia tidak akan tercapai tanpa dukungan kebijakan pemerintah. Karena itu harus ada harmoniasi. Tanpa kebijakan yang harmonis dan strategis akan sulit. Ini harus menjadi konsen bersama.
“Olahraga membangun karakter bangsa, karena disana ada jiwa sportivitas. Dengan dukungan seluruh elemen bangsa, cita-cita menjadikan Indonesia sebagai sport nation tentu bukan sekadar slogan, melainkan arah masa depan olahraga nasional,” tandas Ade Lukman. (*)



























Komentar