Catatan Perjananan Hidup Lewat Metafora Pohon Kelapa

Perupa Teguh Paino memakai materi yang diambil dari pohon kelapa untuk karya seni instalasi.

Karya instalasi Teguh Paino (Kelahiran, 2026). Foto: Dokumentasi Teguh Paino/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejalarta.com – Kelapa (Cocos nucifera) dikenal sebagai “Pohon Kehidupan”. Setiap bagian dari pohon Kelapa memiliki aneka manfaat bagi kehidupan manusia. Mulai dari akarnya, batang, daun kelapa (janur), pelepah, sampai dengan buahnya. Bahkan perupa Teguh Paino menambah manfaat pohon kelapa dengan menggunakan semua elemen pohon Kelapa untuk tiga karya instalasi pada pameran bertajuk Tuwuh Lan Ngrembaka (Tumbuh dan Berkembang) di Studio Kalahan, Yogyakarta, 27 April – 4 Mei 2026.

Teguh Paino (1974) tertarik mengeksplorasi material dari unsur pohon kelapa  berdasarkan pengetahuan pada masa kecil hidup di pedesaan Kulon Progo, Yogyakarta. “Pohon kelapa saya maknai sebagai identitas lokal warga desa sebagai simbol kebersamaan dan menjadi ketahanan pangan serta sumber ekonomi,” kata Teguh.

Materi dari pohon kelapa bermanfaat untuk kebutuhan sehari hari warga desa untuk bahan bakar seperti daun kelapa, batok dan sabutnya, buah atau daging kelapa diolah menjadi berbagai olahan makanan, barang kelapa untuk bahan rumah.

Namun seiring perkembangan jaman dan tehnologi unsur pohon kelapa tergantikan dengan alat dan sarana hasil industri, seperti bahan bakar memasak beralih ke gas, makanan tergantikan dengan makanan cepat saji dan bahan bangunan beralih ke besi atau galvalum. Pohon kelapa pun mulai ditinggalkan manfaatnya oleh  masyarakat. “Menjadi menarik untuk mengeksplorasi dan menghadirkan pohon kelapa sebagai pengetahuan lokal yang penting dikenalkan kembali dengan bentuk karya seni instalasi yang unik, artistik dan berbeda,” ujarnya.

Pada pameran ini Teguh membuat karya instalasi berupa susunan pelepah daun pelapa dalam empat struktur melingkar yang mengesankan bentuk batang pohon kelapa dari bagian bawah menjulang ke atas. Di bagian atas dan bawah berjejer melingkar bentuk buah kelapa berhiaskan bentuk kulit buah kelapa. Sementara di bagian tengah struktur pohon kelapa tergantung citraan bentuk bayi yang juga dari bahan pohon kelapa seolah baru keluar dari rahim sang ibu dengan dengan jalinan ari-ari yang menghubungkannya dengan sang ibu (Kelahiran, 2026).

Kelahiran dimaknai sebagai perubahan mendasar dalam diri, transformasi hati, budi, atau kehidupan rohani, menjadi manusia baru yang meninggalkan pola lama menempuh pengalaman kehidupan selanjutnya. “Kelahiran sebuah peristiwa menuju pintu gerbang yang terus membuka rangkaian pengalaman, pembelajaran, dan peristiwa kehidupan yang membentuk diri berkelanjutan,” kata perupa yang menyelesaikan pendidikan seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Perjalanan material pohon kelapa berlanjut ke karya instalasi dari bahan pohon kelapa, berupa konstruksi bentuk persegi citraan gapura yang berfungsi sebagai akses ke luar masuk lokasi atau wilayah tertentu yang memiliki fungsi tanda, hiasan, dan keamanan (Lawang, 2026). Karya instalasi ini berwujud susunan kulit kelapa yang dimulai dari bawah satu sisi tonggak gapura bak struktur tumbuhan menjalar menyusuri bentuk gapura berupa rangkaian bentuk bunga. “Pergulatan dalam dinamika kehidupan yang terus bergerak seiring ruang dan waktu, pada akhirnya manusia harus beradaptasi dan berdamai dengan aturan alam semesta sebagai kekuasaan Tuhan yang maha esa dapat diraba dilihat dan dirasakan,” kata Teguh.

Dia juga memanfaatkan cumplung (tempurung kelapa utuh yang berlubang akibat dimakan tupai) pada karya instalasi berupa deretan citraan figur dengan kepala berlubang, juga materi bambu yang tersebar di lingkungan sekitar Gunung Gempal Kulonprogo diadaptasi untuk menyiasati
bentuk dan fisik Wayang.

Wayang Cumplung wujud dari Mangan Ora Mangan Kumpul. “Bentuk dari semangat kekeluargaan dan kebersamaan yang sejatinya sumber kebahagiaan hidup,” ujarnya.

Karya lukis Teguh Paino (Ledakan Konflik, 2000).

Teguh Paino melengkapi narasi Tuwuh Lan Ngrembaka dengan 11 karya dua dimensi. Salah satu karya lukisnya menampilkan dua sosok figur sureal yang dipisahkan bentuk persegi berisi citraan sobekan kertas koran (Ledakan Konflik, 2000). Karya ini merefleksikan realitas yang kontradiktif yang menjadi pengalaman dalam kehidupan sosial kota. “Rutinitas kehidupan yang kompetitif melahirkan ketidakpastian, ketidak nyamanan yang melahirkan konflik dalam diri tidak mampu mencari jalan keluar,” ujar Teguh.

Menurut kurator Mayek Prayitno, pada akhirnya pameran ini mengajukan satu pertanyaan yang lebih mendasar, bagaimana seni dapat terus hidup dan relevan di tengah perubahan zaman? “Jawaban yang ditawarkan tidak bersifat definitif, melainkan terbuka, seperti proses Tuwuh Lan Ngrembaka itu sendiri. Seni bukanlah sesuatu yang selesai, melainkan sesuatu yang terus “menjadi”, yakni tumbuh bersama pengalaman dan berkembang bersama kehidupan,” kata Mayek.■ Raihul Fadjri

Adv Banner

Komentar