Beragam Respon Artistik Perupa terhadap Lanskap Pegunungan Kapur Giri Sela Kandha

Sejarah & Budaya982 Dilihat

Yogyakarta – dialoguejakarta.com – Sebanyak 35 perupa mengrudug kawasan konservasi alam Giri Sela Kandha di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Ada apa? Kunjungan pada 10 hingga 11 Februari 2025 itu merupakan bagian dari proyek seni rupa yang hasilnya digelar pada pameran bertajuk Kisah Giri Sela Kandha di Jogja Gallery, 10 – 20 Agustus.

Para perupa dihadapkan pada kawasan berbukit batu kapur (karst) yang ditumbuhi berbagai tanaman dan dihuni hewan primata kera yang mulai terancam keberadaannya. Karst adalah bentang alam yang terbentuk dari proses pelarutan batuan, terutama batu gamping dan dolomit, oleh air. Ciri khas karst berupa lubang (doline atau sinkhole), sungai bawah tanah, dan gua-gua.

Area pegunungan kapur Giri Sela Kandha ini kemudian dikembangkan sebagai kawasan konservasi alam dalam upaya menjaga situs bebatuan asli daerah itu dan kelestarian lingkungan. Selama dua hari para perupa (pelukis, pegrafis, pematung, fotographer, dan instalator) mengamati kawasan itu. Bahkan ada yang tidak puas dan datang kembali ke lokasi untuk memperoleh gagasan berkarya.

Dari pengamatan para perupa muncul sejumlah karya yang menarik. Ada suasana kesejukan di bawah kerindangan pohon dalam posisi miring dengan juntaian akarnya di atas bongkahan batu dalam warna monokrom (Januri, Back to Nature, 2025). Ada pula lukisan bernada sureal berupa susunan bentuk bongkahan batu yang berisi panorama punggung bukit dengan kehijauan pepohonan, bentuk tetes air yang berisi bentuk pohon dan seekor burung elang dengan sayap mengepak (Imron Syafii, Kembali Pulang, 2025).

Masih dengan gaya sureal, ada lukisan berupa bentuk kuncup bunga bersanding dengan bentuk kayu kering (Husin, Bunga Kehidupan, 2025). Ada juga sosok perempuan bertopeng mengenakan kebaya, memegang kuncup bunga, berdiri diantara tanah gersang dengan pohon-pohon kecil (Dyan Anggraini, Daun Bertumbuh – Saling Berbisik, 2025).

Karya lain merupakan hasil pengamatan lebih detil terhadap objek tertentu dari lanskap Giri Sela Kandha. Gusmen Heriadi mengeksplorasi bentuk biologis tanaman berupa susunan fisik dan struktur tumbuhan pada karya serinya dalam berbagai variasi bentuk (Mustika Rasa, Lindung, Hulu, Akar, 2025)

Pelukis hyperrealis Suharmanto menggunakan kayu jati dalam warna coklat dengan teksturnya yang khas untuk menorehkan sapuan kuas berupa citraan bocah mengenakan seragam sekolah sedang terbaring bak sedang menanam bibit pohon hijau (Bertumbuh #1, #2, 2025). Keindahan bunga tumbuhan ditampilkan Kun Tanubrata lewat citraan kuncup bunga berwarna kuning dan merah menyala (Kelopak Lembar Bunga, 2025). Adapun

Pameran ini dilengkapi dengan karya tiga dimensi, seolah menekankan narasi kegersangan di pegunungan karst Giri Sela Kandha. Pada karya Simbul Pranov ada jejeran bentuk yang mengesankan gestur tubuh dengan deretan tumbuhan berukuran kecil di atasnya dalam warna monokrom abu-abu (Sunrise At The Hill, 2025).

Adapun Khusna Hardiyanto menghadirkan bentuk serangga sedang memegang bentuk tanaman hijau bak sedang menyelamatkan kondisi hidup yang sulit di atas bentuk batu kapur (Tanah Surga, 2025). Sedang Ludhy Astaghis seperti sedang memimpikan keindahan alam bukit kapur dengan menghias struktur bentuk batu dalam warna biru dan kuning dengan berbagai bentuk daun yang tumbuh di atasnya (Pangeran Ijem, 2025).

Pegunungan karst Giri Sela Kandha bukan subject matter tunggal yang hanya menghasilkan lukisan bercorak panorama alam. “Pameran ini menampilkan beragam sudut pandang terhadap kawasan pegunungan karst Giri Sela Kandha yang menunjukkan kreativitas perupa,” tulis Alex Luthfi, akademisi seni rupa, pada katalog pameran ini. Dari respon estetika yang terjadi, terlihat perupa secara bebas menampilkan dan memberi makna pada gugusan gunung dan bentangan alam. “Seni bukan sekadar merepresentasikan subjek maupun objek.” ■Raihul Fadjri

Komentar