Yogyakarta – dialoguejakarta.com – Potret wajah merupakan salah satu subject matter yang acap dieksplorasi pelukis, sebagaimana tampak pada pameran kelompok Barbaradoz bertajuk Aesthetic State di Jiwa Gallery, Yogyakarta, 1 – 17 Agustus 2025.
Adhik Kristiantono (1979), misalnya, mengeksplorasi berbagai bentuk wajah dari gaya realis yang diisi dengan corak kubistis dalam berbagai blok warna (Duality, 2016), hingga susunan bentuk wajah dari torehan garis yang kuat untuk membangun susunan bentuk kubistis dalam berbagai blok warna hingga warna monokrom (Die Hard, 2025). Citraan bentuk wajah itu masih diimbuhi denga teks tulisan antara lain: menolak padam, Freedom, Sick.
Melihat parade wajah pada lukisan Adhik seperti berhadapan dengan kerumunan berbagai ekspresi wajah. “Tiap hari saya selalu bertemu manusia dengan wajah yang berbeda karakter. Ada yang tampak susah, merasa sedih, gembira, marah, merenung, bahkan kosong tanpa ekspresi. Dari wajah muncul banyak misteri drama kehidupan manusia,” ujar Adhik.
Bagi Adhik, gambar wajah adalah sebagai pengingat untuk banyak orang, meski tidak harus sebagaimana potret wajah orang yang sedang diburu aparat keamanan, sehingga dia akan selalu mencoba untuk membuat gambar wajah. “Bahwasanya manusia hidup di muka bumi harus saling mengerti satu sama lain dan harus hormat menghormati apapun persoalan hidupnya,” katanya.
Bahkan Huda Desember (1981) mengeksplorasi ekspresi wajah pada 18 karyanya dengan mengolah corak lukisan realis, ekspresif dan impresif. Ada bentuk wajah dalam ukuran dominan dari tampak samping dalam sapuan ekspresif yang diimbuhi dengan bentuk-bentuk figur (Dancing Together, 2025). Ada juga potret wajah dari tampak samping yang berisi struktur gambar sejumlah figur dengan deretan tulisan tangan mengisi bidang bagian luar karya ini (I See You, 2025).
Adapun Agus Cavalera (1986) yang lebih banyak mengeksplorasi corak abstrak ekspresif juga menampilkan figur-figur dengan wajah tak biasa. Ada yang dengan wajah dalam warga hitam (Setara, 2017) dan figur yang dibangun dari struktur sapuan ekspresif (Mau Makan Jamur, Tapi Tidak Mau Makan Batangnya, 2018). Sedang Ronggo Prasanto (1978) mengeksplorasi corak dekoratif dalam warna-warna cerah lewat potret separo wajah (Mata Merah-Merah, 2025), dan bentuk dua wajah yang tidak utuh (Kongkalikong Para Cukong, 2025).
Wajah adalah bagian tubuh yang paling ekspresif, dan pelukis dapat menggunakan ekspresi wajah untuk menyampaikan berbagai emosi seperti kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, dan ketakutan. Ekspresi wajah merupakan bentuk komunikasi non-verbal yang kuat. Pelukis dapat memakai ekspresi wajah untuk berkomunikasi dengan penonton, bahkan tanpa perlu memakai kata-kata.■ Raihul Fadjri
























Komentar