Ketika Falsafah Jawa Bersinggungan dengan Ekspresi Seni Rupa

DialogLingkungan1242 Dilihat

Yogyakarta – dialoguejakarta.com – Bagaimana ketika seni rupa kontemporer mengeksplorasi narasi falsafah Jawa? Inilah yang terasa dalam pameran kelompok Wawasima Art bertajuk Roso Pitu di Galeri BJ Arifin, Yogyakarta, 13 Juni – 13 Juli 2025.

Konsep pameran ini berangkat dari frasa roso (rasa) dan pitu (angka tujuh) yang punya makna tidak tunggal, tujuh perupa ini mengeksplorasi elemen kebentukan pada karya dua dimensi dan tiga dimensi.

Frasa roso punya makna sebagai sensasi indera pengecap, emosi, hingga respon psikologis dalam hubungan dengan konteks yang lebih tinggi. Adapun makna pitu yang pengembangannya menjadi pitutur (nasehat), pituduh (petunjuk), pitulungan (pertolongan) hingga makna pitungkas (pesan).

“Kedalaman dan keluasan makna roso dan pitu itulah yang menjadi dasar narasi karya tujuh perupa itu yang diterjemahkan secara bebas,” ujar Wawasima, kurator pameran ini.

Ada karya BJ Arifin berupa bentangan kanvas berisi citraan sederet figur dalam cerita wayang dengan gestur gerak, muncul diantara bangunan menjulang di tengah keramaian di ruang publik. Suasana itu disapu dengan warna dominan merah yang cenderung gelap (Gotong Royong, 2025).

Hanya satu karya pada pameran ini yang mengeksplorasi bentuk realis dalam karya tiga dimensi, karya patung Tri Suharyanto berupa sosok bentuk hewan babi dalam warna coklat dengan dengan ukuran besar sedang menyusui empat anaknya dalam perbedaan ukuran kecil yang signifikan seolah memberi makna perlindungan sosok ibu terhadap anaknya (Memberi Kedamaian Anak-anak, 2025).

Adapun pelukis lainnya mengeksplorasi corak abstrak untuk mengekspresikan roso pitu lewat beragam komposisi warna pada karya mereka. Pelukis Ferry Gabriel, misalnya, menghadirkan karya lukis bercorak abstrak berupa bentuk yang dibangun dari susunan garis bertekstur melingkari bentuk kerucut berhiaskan struktur garis melingkar bak gelombang di sisi luarnya (Kosmos Batin, 2025). Dengan pendekatan berbeda Lio Gusca Vianos mengeksplorasi corak lukisan abstrak dalam komposisi warna dominan hijau dengan sapuan kuas berbentuk garis melingkar di bagian tengah (Miving To Be Balancing).

Corak abstrak juga dieksplorasi RH Satriyo Wibowo dengan mengulik alemen dekoratif untuk menghasilkan susunan bentuk melingkar dan persegi dalam berbagai warna dasar (Sesanti Ngawiji #2, 2025).

Adapun Tri Sasongko lewat tiga panel karya lukisnya mengeksplorasi suasana alam terbuka dengan sentuhan elemen dekoratif yang kuat berupa bentuk-bentuk yang mirip citraan flora dan fauna dari susunan garis dalam komposisi warna cerah (Field of Fleurs, 2021).

Hanya satu karya pada pameran ini yang mengeksplorasi bentuk realis dalam karya tiga dimensi, karya patung Tri Suharyanto berupa sosok bentuk hewan babi dalam warna coklat dengan dengan ukuran besar sedang menyusui empat anaknya dalam perbedaan ukuran kecil yang signifikan seolah memberi makna perlindungan sosok ibu terhadap anaknya (Memberi Kedamaian Anak-anak, 2025).

Corak lukisan abstrak memang lebih membuka peluang untuk mengekspresikan rasa yang menghasilkan sensasi emosional, sehingga bisa mendorong munculnya respon baik lewat fikiran maupun tindakan.■ Raihul Fadjri

Komentar