
Jakarta, dialoguejakarta.com – Perubahan adalah keniscayaan, sebagaimana yang dialami dan dilakukan perupa Handiwirman Saputra lewat pameran tunggal bertajuk ‘Alih’ dengan memajang karya dua dimensi dan tiga dimensi yang tak biasa di Nadi Gallery, Jakarta, 2 Februari – 9 Maret 2026.
Makna alih pada judul pameran ini adalah sesuatu yang berpindah, berganti, bertukar, atau berubah menjadi dasar berkarya perupa kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat pada 1975 ini. “Alih adalah perpindahan makna, perubahan keadaan, atau pergantian fokus dari satu hal ke hal lain secara metaforis,” ujar Handiwirman yang bermukim di Yogyakarta.
Awalnya Handi dikenal lewat karya seni instalasi berupa objek temuan yang dia susun. “Objek-objek berupa benang, kawat, potongan kertas, gumpalan plastik, dan rambut hadir hampir apa adanya” ujar Dhira Dwinanda, Gallery Director Nadi Gallery.
Sepintas, semua karya terbaru Handiwirman masih menampilkan subject matter yang biasa dia eksplorasi. Benda yang biasa ditemui dalam keseharian berupa kapas, benang, dan busa hadir kembali diangkat menjadi materi utama. Secara visual tampak tidak ada perubahan yang signifikan, tetapi jika digali lebih dalam ke proses pembuatan karya ada proses adaptasi yang dia lakukan.
Sebelumnya, untuk membuat karya lukis, Handi menyusun atau mengolah terlebih dahulu objek asli yang dia inginkan dari material yang ditemukan di sekitarnya, baru kemudian menuangkannya ke atas kanvas. Dengan memakai metode itu, terdapat hambatan yang tidak bisa diatasi, dari masalah jumlah material yang terbatas hingga
waktu pengerjaan yang relatif lama. “Maka dia memutuskan membebaskan diri dari penggunaan benda temuan,” kata Dhira Dwinanda.
Handi pun meninggalkan penggunaan benda temuan secara fisik, tapi dia memindahkan citraan bentuk benda temuan itu ke atas media kanvas. “Pembebasan diri itu membuka jalan untuk karya yang tidak terbelenggu dengan bentuk tertentu, sehingga dia dapat lebih leluasa menuangkan teknik artistik yang sudah berakar di dalam dirinya dengan subjek yang jauh lebih bebas. Hasilnya, karya yang lebih liar, tanpa merusak esensi yang sudah terbentuk.”
Selain metode berkarya, Handiwirman juga merekonstruksi citraan dua dimensi berupa lukisan di atas media kanvas atau kertas dan digantungkan di dinding yang biasa dilakukan dalam pameran seni rupa. Kini Handiwirman berusaha mendobrak batasan itu dan membuka jalan lain untuk bisa menikmati lukisan.
Dengan caranya sendiri, dia meletakkan lukisan di atas penyangga yang dilengkapi roda. Dia juga melukis di atas penampang yang dibuat seolah-olah seperti tembok bata dan beton. “Dia memperlakukan karya lukisan sebagaimana objek tiga dimensi,” ujar Dhira Dwinanda.
Hasilnya, ada citraan bentuk seperti bentuk susunan tulang belakang manusia berhiaskan bentuk jalinan benang berpilin dalam warna merah yang menghasilkan garis berbentuk tubuh manusia bagian atas (Menara Susun Taut Berpilin, 2026).
Karya lukis ini tak sebagaimana karya lukis lain yang digantung di dinding, tapi dengan frame yang diberi roda di bagian bawah seolah karya dua dimensi yang bisa digerakkan. “Cara menikmati lukisan menjadi lebih dalam karena tidak hanya berhenti sebagai gambar yang dipasang di dinding, tetapi menyatu dengan suasana dan lingkungan sekitar serta semua yang mengelilinginya,” kata Dhira.
Ada juga karya lukis berupa citraan bentuk kapas yang digarap dengan tehnik hyperrealist dalam warna dominan kuning dan putih dengan citraan bentuk lekukan berbayang pada permukaan kapas itu dalam warna coklat. Bentuk kapas ini berhiaskan untaian benang berwarna merah yang muncul dari dalam (Serap Bersulam, 2026).
Pada karya instalasi, Handi menggunakan konstruksi besi dalam struktur persegi dengan meletakkan jejeran bentuk yang mirip seperti bentuk ember berukuran besar yang biasa dipakai untuk memandikan bayi (baby bather). Bentuk ember itu dibuat dari bahan resin dalam warna merah bata, tapi mengesankan benda yang terbuat dari bahan karet yang lentur sehingga dengan mudah berganti posisi bagian dalam menjadi bagian luar dan sebaliknya (Menara Susun Dalam Tampak Luar, Luar Tampak Dalam, 2026)
Sebaliknya Handi membuat citraan bentuk yang kukuh tapi tampak belum selesai lewat struktur bentuk tembok mirip bentuk sumur dengan dinding yang memperlihatlan susunan batu bata. Sementara di bagian atasnya ada lukisan bercorak abstrak di atas dinding batu bata (Susun Bertumpuk #1, 2026). Handi juga melukis dalam corak abstrak di atas struktur bongkahan dinding tembok (Susun Bertumpuk #1, 2026).
Pameran ini menunjukkan eksplorasi yang dinamis dalam proses kreatif Handiwirman Saputra dalam hal media maupun corak karyanya yang secara siknifikan membedakan dengan karya perupa lain.■ Raihul Fadjri