Perupa Mengeksplorasi Bentuk Alat Musik Kencrung dalam Bentuk Patung Hingga dari Barang Bekas

Sejarah & Budaya383 Dilihat

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Para penggemar musik keroncong mestinya akrab dengan alat musik kencrung atau juga dikenal dengan nama okulele. Meski ukurannya jauh lebih kecil dari pada alat musik gitar, kencrung yang menghasilkan bunyi crung atau crong sangat penting posisinya dalam musik keroncong. Keunikan inilah yang dieksplorasi 54 perupa lewat pameran bertajuk Lazuardi di Bentara Budaya Yogyakarta, 21 – 30 November 2025.

“Para seniman (peserta pameran) dibebaskan untuk mereka-reka benda apapun, bahkan yang bukan benda seni menjadi bentuk kencrung,” ujar Hermanu, kurator pameran.

Adapun Lazuardi (dari bahasa Arab berarti permata biru) sebagai judul pameran ini, merupakan lagu keroncong yang ditulis pada tahun 1930-an oleh Paiman, seorang seniman multi talenta.

Peserta pameran tidak hanya menghias bagian depan kencrung dengan berbagai bentuk lukisan, tapi juga mengeksplorasi bentuk kencrung. Ada karya Lindu Prasekti berupa bentuk kencrung yang lentur seperti karet sehingga bagian tangan bisa disimpul (Simpul Nada, 2025). Sedang Irwanto Letho membuat karya patung kencrung berbentuk vespa (Vescrung hehe, 2025). Adapun Bayu Wardhana membuat karya patung berupa figur perempuan dalam posisi duduk dengan tangan kanan seperti sedang meraih kencrung (Dendang Gadis Biru, 2025).

Peserta pameran juga menggunakan berbagai barang bekas (found object) untuk membuat citraan bentuk kencrung. Pelukis Bambang Pramudiyanto memanfaatkan slebor bekas kenderaan vespa menjadi badan kencrung (Rust in Peace, 2025), Ampun Sutrisno memanfaatkan panci enamel bekas sebagai badan kencrung (Watoni, 2025), Sri Krisna Encik menggunakan ceret bekas (Kencrung Ceret, 2025), bahkan Muhammad Sulthoni menggunakan tempat sampah bekas dan perangkat jerigen sebagai badan kencrung (Alat Musik Sampah, 2025).

Upaya menarik untuk menghadirkan bentuk kencrung juga dilakukan Nurohman Wahid dengan memanfaatkan tulang sapi, tulang kambing, tulang ayam, dan cangkrang kerang (Samsara, 2025). “Saya menggunakan material yang berasal dari mahluk yang sudah mati untuk mencoba menghadirkan kembali ke bentuk baru yang lebih baik,” ujar Nurohman.

Ditangan para perupa itu, alat musik kencrung yang berbau klasik berubah menjadi objek baru yang menarik. “54 seniman telah memaknai kencrung secara kreatif sehingga alat musik ini dapat menjadi sesuatu yang menarik dan baru,” kata Hermanu.■Raihul Fadjri