Eksplorasi Bentuk Lewat Tekanan Sebagai Proses Pembentukan Objek Abstrak

Fenomena fisika dimunculkan lewat karya tiga dimensi bercorak abstrak yang mengeksplorasi tekanan sebagai proses pembentuk.

Sejarah & Budaya413 Dilihat

Rekahan, 2026. Foto: dokumentasi Duvrart Angelo/ dialoguejakarta.com

Yogyakarya, dialoguejakarta.com – Bagaimana ketika elemen fisika berkelindan dengan elemen estetik karya seni rupa? Hal inilah yang dieksplorasi Duvrart Angelo (1976) lewat pameran tunggal bertajuk ‘Antara Massa dan Rongga’ di Nomore Gallery, Yogyakarta, 10 Maret – 10 April 2026.

Massa adalah bagian fundamental dari gejala fisika. Dalam ilmu fisika, massa didefinisikan sebagai jumlah materi yang terkandung dalam suatu objek dan merupakan salah satu besaran pokok. Pada pameran ini fenomena fisika dimunculkan lewat lima karya tiga dimensi bercorak abstrak berbahan semen dan beton yang mengeksplorasi tekanan sebagai proses pembentuk.
“Melalui bentuk-bentuk abstrak dengan rongga, retakan, dan distorsi, karya-karya ini memposisikan material sebagai ‘tubuh’ yang menyimpan beban dan ingatan,” ujar pria berdarah Minang-Jawa ini.

Duvrart Angelo menghadirkan lima karya patung berbahan semen dan beton yang mengeksplorasi tekanan sebagai proses pembentuk. Tekanan zat padat adalah besarnya gaya yang bekerja tegak lurus pada setiap satuan luas bidang tekan. Tekanan sebanding dengan gaya dan berbanding terbalik dengan luas permukaan; semakin kecil luas bidang tekan, semakin besar tekanannya.

Kemunculan (2026), Endapan (2026), Fragmen (2026), Penjagaan (2026).

Hasilnya, lima karya itu disusun sebagai satu rangkaian naratif, setiap patung merepresentasikan fase berbeda dari hubungan antara massa dan kekosongan. “Finishing dengan kesan metalik di beberapa bagian berfungsi sebagai ilusi permukaan, menantang persepsi terhadap sifat material,” ujar Duvrart.

Lima karya ini berawal dari eksperimen terhadap material semen. Dia membuat bentuk bentuk rongga dengan tehnik plastering. Saat belum mengeras Duvrart mencoba mengisi bentuk ini dengan objek bentuk lain, tapi malah terjadi retakan dan jebol dan meleleh keluar  (Rekahan, 2026). “Walau gagal pada prosesnya, tapi akhirnya momen ini yang memberi ide narasi ini,” katanya.

Tapi, ujar Duvrart, pameran ini tidak menawarkan narasi figuratif atau resolusi akhir. Melainkan menghadirkan kondisi tekanan yang terus bekerja di dalam bentuk. Bentuk massa yang  terbelah memperlihatkan inti yang tersembunyi di dalam tubuh material. “Retakan bukan kerusakan, melainkan proses terbukanya ruang yang selama ini tertutup,” katanya.

Dari rongga yang terbuka, muncul bentuk baru  berupa bentuk mirip perangkat minuman – teko –  yang di salah satu sisinya seperti mencuat bentuk yang mirip pilinan lembaran kertas (Kemunculan, 2026). “Massa keras menjadi wadah bagi energi yang perlahan naik ke permukaan,” ujar Duvrart.

Dia menghadirkan perjalanan berikutnya berupa bentuk seperti sisa endapan proses panjang di dalam tubuh material sebagai satu jejak tekanan, waktu dan perubahan (Endapan, 2026). Fase berikutnya berupa terjadinya proses pecahan sebagai penanda momentum ketika massa tidak mampu menahan tekanan energi liar di dalamnya yang menyemburkan bentuk dari dalamnya bak letusan vulkanik (Fragmen, 2026).

Duvrart Angelo menutup semua proses tekanan terhadap massa yang berujung pada ‘letupan’ yang memorak-porandakan bidang yang semula kukuh dengan kemunculan bentuk baru berupa ruang terbuka seperti bentuk cangkang yang melindungi bentuk inti di tengahnya (Penjagaan, 2026). “Bentuk inti ini mengisyaratkan hubungan antara perlindungan terhadap kerentanan dan energi tersembunyi,” katanya.

Karya seri tiga dimensi ini membawa penonton pada narasi satu proses estetik yang tidak biasa dalam jagat seni rupa.■ Raihul Fadjri

Adv Banner

Komentar