
Jakarta, dialoguejakarta.com – Bagi kebanyakan perupa, kanvas lukisan merupakan media paling populer hingga menjadi ujung tombak dalam praktek seni rupa. Tapi Ames Abadi justru memilih media gambar (drawing) dengan teknik yang rumit dan jarang dilakukan, apa yang dikenal dalam seni rupa teknik pointilis. Sebanyak 41 karya gambar di atas media kertas dengan memakai teknik pointilis menggunakan balpoin dipajang pada pameran tunggal Ames Abadi di Balai Budaya Jakarta, 12 – 19 Desember 2025.
Dengan tema pameran ‘Sendiri’, Ames mengeksplorasi peristiwa sehari-hari yang dibingkai dengan sudut pandang filsafat hidup, hingga kritik sosial yang ditransformasikan menjadi citraan visual yang penuh makna. “Melalui teknik pointilis yang detail, setiap goresan adalah sebuah titik dalam mozaik pemikiran yang lebih besar. Ames merekam peristiwa sehari-hari,” ujar Joko Kisworo, kurator pameran.
Dunia seni mulai dia jelajahi pada tahun 2000 di Teater TIM, Jakarta. Dari dunia teater Ames pindah ke dunia musik lewat Ames Ruh Band yang dia bentuk pada 2009. Dari keriuhan dunia musik dia pindah ke kesunyian studio seni rupa.
Bagi Ames seni rupa adalah panggung kebebasan yang paling intim, tempat dia bisa bercerita sepenuhnya menurut caranya sendiri. Konsistensi Ames terletak pada kesederhanaan medium dan kedalaman pesan. “Dengan hanya menggunakan pen di atas kertas dia membuktikan bahwa kekuatan sebuah karya tidak terletak pada kemahalan material, tapi pada kompleksitas ide yang diusung,” ujar Joko Kisworo.
Seni drawing menjadi kesukaan Ames. “Dalam prosesnya bisa menguji kesabaran,” ujar pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah ini. Untuk menyelesaikan satu karya drawing di atas kertas berukuran 79 x 110 sentimeter dia butuh waktu satu minggu yang dia kerjakan dalam waktu minimal lima jam dalam satu hari.
Bagi Ames, hasil karya drawing lahir bukan didorong oleh hasrat untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. “Melainkan kebutuhan spiritual untuk melengkapi dan menyempurnakan derajat kemanusiaan, seirama dan senada dengan alam semesta,” katanya.
Sejumlah karya Ames mengeksplorasi citraan tikus sebagai metafora praktek korupsi yang tak habis-habisnya (Tertangkap Satu Tumbuh Seribu, 2025). Pada karya lain Ames menampilkan citraan lima ekor tikus berkeliaran di antara tumpukan bentuk emas dan duit yang ditopang bentuk bidak catur. Sementara di bagian atas ada citraan peta Indonesia (Menangis Negeriku, 2025).
Ames juga mengeksplorasi bentuk-bentuk peralatan permainan catur berupa bentuk papan catur dengan susunan bentuk kotak-kotak hitam-putih dan berbagai bentuk bidak (buah catur). Metafora gambar catur sering digunakan untuk menggambarkan strategi, kecerdasan, perencanaan jangka panjang, konflik (perang), dan permainan kekuasaan, di mana setiap bidak (pion, kuda, benteng, gajah, raja, ratu) mewakili peran berbeda dan papan catur adalah medan pertempuran ide atau politik, melambangkan dunia nyata di mana individu bergerak dengan tujuan strategis.
Ames bak menggambarkan bagaimana penguasa politik memainkan perannya mengendalikan kekuasaannya dengan menjerat leher politisi yang disimbolkan dengan bentuk bidak catur, bak mengendalikan permainan layang-layang. Sementara ada sosok rakyat jelata berupa figur terbaring tak berdaya di atas kursi panjang sembari memeluk lambang negara Garuda Pancasila (Layang Layang, 2021).
Ada juga penggambaran praktek peradilan berupa citraan bentuk timbangan keadilan sebagai simbol penegakan hukum berisi tumpukan bidak catur di satu wadah timbangan dan tumpukan uang di wadah timbangan di sebelahnya (Hukum Tak Sebanding, 2019).
Ketajaman pandangan Ames Abadi terhadap isu sosial, politik, dan hukum lewat karya drawing bak ujung balpoin yang runcing menekan permukaan kertas dengan menebar ribuan titik di atasnya di tengah kesendiriannya.■ Raihul Fadjri






















Komentar