Ketika Cahaya Menyedot Citraan Kebentukan

Pelukis Pecut Sumantri mengeksplorasi elemen cahaya yang memudar dan pecah menjadi bercak warna dan objek yang kabur pada karya lukis.

 

Flower #2, 2026. Foto: dokumentasi Pecut Sumantri/ dialoguejakarta.com

Badung, dialoguejakarta.com – Bagaimana ketika komposisi warna dan citraan bentuk hadir secara tidak jelas batasnya, seolah bercampur menjadi sesuatu yang lain. Fenomena artistik ini muncul pada karya lukis Pecut Sumantri pada pameran bertajuk Sisa Cahaya di Sun Contemporary, Badung, Bali, 4 April – 3 Mei 2026.

Karya lukis Pecut Sumantri (1982) mengingatkan pada efek hasil jepretan kamera fotografi terhadap objek yang bergerak dengan setelan tutupan lensa dalam kecepatan rendah. Ketika cahaya yang tertangkap dari obyek tidak utuh sehingga hasilnya berupa citraan bentuk yang blur.

Sebanyak 17 karya lukis Pecut pada pameran ini menghadirkan fenomena antara ada dan tiada, antara jelas dan tidak jelas, bercampur menjadi satu. Cahaya yang memudar dan pecah menjadi bercak-bercak warna, objek yang kabur hanya menyisakan sedikit pertanyaan mendalam tentang apa yang sedang ingin disampaikan Pecut Sumantri. “Bagi saya, melukis berfungsi sebagai sarana untuk menghentikan sejenak perjalanan waktu,” katanya.

Pecut ingin bernegosiasi dengan waktu, sementara dia menghadapi tantangan dari pergerakannya yang tak henti. “Gagasan untuk menghentikan waktu ini memikat saya selama proses melukis, sehingga memungkinkan untuk merangkum emosi dan pengalaman dengan cara tertentu,” ujarnya.

Dua karya lukis Pecut Sumantri.

Secara kebentukan, Pecut seperti bermain di antara citraan impresif dengan citraan abstrak. Ada citraan bentuk kursi kayu yang muncul secara impresif di dalam satu ruang. Bentuk kursi ini masih menyisakan garis kebentukan dalam warna gelap yang kabur. Di dekatnya ada dua obyek dengan tingkat kekaburan yang lebih tinggi–cenderung abstrak–sehingga tidak bisa diidentifikasi bentuknya (Singgah Sejenak, 2026).

Ada juga citraan sosok figur telanjang dalam posisi memunggung, berbaring miring yang menyisakan citraan bentuk samar dua kaki berhimpit dan satu bentuk tangan (Memeluk Diri, 2026).

Pada karya potret, Pecut menampilkan citraan potret wajah yang mengesankan sosok pria. Potret ini cenderung berupa konstruksi citraan wajah bercorak abstrak yang hanya menampilkan bentuk blur lewat warna yang lebih kuat (Silent Man, 2026).

Dalam proses kreatifnya, Pecut melalui tahap yang biasa dilakukan perupa lewat proses awal berupa pembuatan sketsa dengan bentuk realis dan kemudian dibuat menjadi blur. “Sisa cahaya yang ditinggalkan dalam setiap karya pada akhirnya menjadi hal terpenting dalam karya dan menjadi jembatan penghubung antara proses realisme dan blur,” ujar Pecut.

Lewat proses kreatif itu Pecut dengan sengaja membawa penikmat karya lukisnya masuk ke dunia yang dia ciptakan, dimana kejujuran, keintiman, emosional yang mentah bercampur, ditangkap dan dianalisis dengan cermat. “Apa yang dulu merupakan perangkat gaya goresan kuas yang bersih dan tegas dari satu sisi kanvas ke sisi lain, digunakan untuk bereksperimen dengan linearitas waktu, kini larut menjadi kabut tanpa arah yang mengaburkan seluruh permukaan,” kata pria yang mengenyam pendidikan filsafat di UIN Sunan Kalijaga dan psikologi di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta, ini.

Efek ini mengingatkan pada tradisi lukisan maestro Barat, di mana teknik seperti sfumato– pelembutan tepi–digunakan untuk menggambarkan kehadiran keindahan, seolah berasal dari dunia lain yang misterius berupa citraan figur di dalam ruang. “Seperti dalam sinema, kabur juga menandakan ketegangan antara kedekatan dan penyamaran, keintiman dan jarak, penglihatan yang cacat atau pemisahan karakter dari kenyataan.”

Pada karya lukis Pecut sebelumnya, praktik pengaburan subject matter tidak dia terapkan sepenuhnya. Lukisannya pada karya seri yang mengeksplorasi potret wajah figur hanya mengaburkan bagian wajah termasuk mata, hidung, dan mulut, sedang bentuk kepala dan leher masih terlihat sisi tepi yang membentuk struktur kepala. Yang menarik, bentuk mata dia ganti dengan bentuk realis berupa citraan potongan buah mentimun, atau citraan bentuk realis sendok makan, atau citraan bentuk rokok yang memenuhi permukaan wajah.

Karya lukis Pecut pada seri potret ini menggambarkan proses transformasi dari realis ke semi abstrak hingga abstrak sepenuhnya.■ Raihul Fadjri

Adv Banner

Komentar