Semarang, dialoguejakarta.com – Bagaimana ketika seorang mantan aktivis mahasiswa yang pernah menempuh pendidikan tinggi di bidang hukum, dan penulis puisi, juga mengekspresikan perasannya lewat karya seni lukis bercorak abstrak?
Inilah yang dilakukan Afnan Malay (1965) yang dikenal lewat Sumpah Mahasiswa pada 1988 dan pada aksi demontrasi menentang rezim Orde Baru pada 1998. Saat itu Afnan akrab dengan yel-yel yang jelas maknanya lewat orasi maupun poster dan spanduk yang dibentangkan saat aksi unjuk rasa.
Setelah aktif menulis puisi, kini Afnan menumpahkan gejolak emosi jiwanya lewat karya seni lukis bercorak abstrak ekspresionis. “Saya melukis abstraks ekspresionis karena dalam kehidupan sehari-hari saya memang seorang yang ekspresif, blak-blakan,” ujar Afnan yang pernah mengenyam pendidikan senirupa di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta dan sempat kuliah seni rupa di ISI Yogyakarta.
Hasilnya, sebanyak 18 karya lukis abstrak yang dipajang pada pameran bertajuk ‘ALIR’ di Tan Artspace, Semarang, 8 – 20 Februari 2026. Dia mengeksplorasi corak lukisan abstrak ekspresionis dengan menorehkan kuas dengan sapuan panjang secara horizontal dan bertekstur dalam komposisi warna-warna dasar maupun campuran di atas kanvas. “Tekstur menjadi elemen penting, menegaskan bahwa lukisan ini hasil kerja tubuh, bukan sekadar representasi visual,” kata Rain Rasidi, kurator pameran ini.
Toh jejak-jejak citraan bentuk representasional kadang muncul pada beberapa karyanya, juga muncul lewat narasi yang melekat pada judul karyanya. Ada citraan yang mengesankan bentuk pinggang perempuan lewat torehan garis tegas yang diisi sapuan kuas ekspresif (Nyonya dengan Kucingnya, 2026).
Citraan bentuk representasional juga tampak lewat susunan objek yang mengesankan bentuk gelas minuman anggur dan deretan citraan bentuk botol lewat komposisi garis geometris (Winery, 2026).
Pada karya berjudul Pelukan Ibu (2026), masih tampak jejak citraan figur perempuan tampak belakang dengan sosok anak dalam pelukannya. “Afnan menghadirkan pengalaman afektif yang tidak dituturkan secara normatif, melainkan dirasakan lewat pertemuan gestur, warna dan ruang, berupa torehan cat secara tebal, memakai sapuan kuas besar yang membentuk garis-garis tegas bernuansa kasar,” kata Rain.
Tapi pada karya berjudul Wolf, Afnan tidak menghadirkan representasi figuratif seekor serigala, melainkan sebagai sugesti atau sifat, naluri, kewaspadaan dan kebebasan bergerak. “Lukisan ini tidak menghadirkan sosok, tapi menghadirkan energi, yaitu keadaan di mana tubuh, intuisi, dan gerak alamiah saling bertaut,” ujar Rain.
Menurut Rain, dalam konteks ALIR, sosok serigala menegaskan sikap Afnan terhadap proses melukis sebagai peristiwa yang berlangsung di antara kendali dan pelepasan, antara intensitas naluriah dan kesadaran komposisi. “Afnan tetap bertolak dari proses yang mengutamakan spontanitas, gestur, dan kepercayaan pada gerak intuitif tubuh.”
Frasa ALIR tidak hanya menjadi judul pameran, tapi juga cara kerja dan sikap artistik yang ia jalani. “Saat menulis puisi Afnan kerap memulai dari judul, penggalan kata yang kuat, atau kerangka makna tertentu yang kemudian dirangkai menjadi teks. Maka dalam melukis ia justru menanggalkan narasi awal tersebut dan membiarkan proses berjalan dikunci oleh tujuan yang pasti,” ujar Rain.
Melihat karya lukis absrak ekspresionis Afnan Malay, orang seperti merasakan dan menikmati deretan kata dan kalimat puitis seperti karya puisinya.■ Raihul Fadjri
Komentar