Makassar, dialoguejakarta.com – Ketika smartphone tidak cuma berfungsi sebagai perangkat komunikasi tapi juga dilengkapi dengan kamera untuk merekam objek visual baik berupa perangkat fotografi dan video, kini setiap orang menjadi fotografer dan videografer. Umumnya para pengguna perangkat kamera smartphone hanya memfungsikan untuk membuat foto dokumen. Tapi seorang profesor emiritus dari Universitas Negeri Makassar, Sofyan Salam (1952) justru membuat karya seni fotografi lewat perangkat smartphone. Hasil karyanya bisa dinikmati lewat buku bertajuk: Berkhidmat Melalui Fotografi.
Seni fotografi merupakan salah satu pilihannya untuk berkhidmat di masa
purnabakti. “Dengan kemajuan teknologi, fotografi menawarkan berbagai kemungkinan untuk merekam peristiwa unik dan historis, atau mengeksplorasi
imajinasi,” ujar Sofyan, Rabu, 21 Januari 2026.
Menurut Sofyan, gagasan dasar karya seni fotografinya adalah bagaimana dia mengekspresikan gagasan estetik melalui permainan cahaya yang dia rekam via handphone. “Saya melihat banyak peluang artistik yang lebih mudah saya jelmakan melalui fotografi ketimbang, misalnya dgn melukis, atau menggambar,” katanya.
Fotografi dan Seni Fotografi merupakan dua istilah yang merujuk pada hal yang sama, yakni karya yang dihasilkan dengan memakai kamera, baik kamera khusus maupun kamera yang melekat pada gawai. Dibalik kesamaannya, kedua istilah itu punya perbedaan, yakni: karya fotografi dapat diciptakan oleh siapapun yang mampu menjepretkan kamera, sedangkan karya seni fotografi hanya dihasilkan oleh mereka yang tak hanya mampu menjepretkan kamera tapi juga paham aspek teknis kamera dan punya kepekaan estetik yang memungkinkan menghadirkan karya fotografi yang artistik. “Fotografer yang demikian, menghasilkan karya fotografi yang tak hanya merekam obyek atau peristiwa, tetapi juga menebar pesona keindahan,” ujar Sofyan.
Pada bukunya, Sofyan memuat sebanyak 62 karya seni fotografi yang dibuat memakai kamera pada perangkat telpon selular dengan subject matter berbagai benda yang ada di sekitar manusia.
Hasilnya, kaya seni fotografi yang mengeksplorasi elemen rupa, berupa bentuk alam benda (serangga dan tumbuhan) dan benda yang ada disekitar manusia. Yang menarik objek-objek itu diselimuti berbagai komposisi warna, dari warna yang cenderung monokrom hingga komposisi warna-warna cerah. “Gagasan dasarnya adalah bagaimana saya mengekspresikan gagasan estetik saya melalui permainan cahaya yang direkam via hand phone,” ujar Sofyan.

Menurut Sofyan, dalam menggeluti seni fotografi, banyak hal yang secara kebetulan memicu imajinasinya secara tiba-tiba. Misalnya, saat dia belanja di supermarket dia melihat satu set timba air berbahan plastik dalam berbagai ukuran yang tampak artistik. “Saya spontan membelinya hanya untuk saya foto,” katanya.
Timba air itu aslinya berwarna hijau tapi berubah menjadi warna biru karena disorot cahaya berwarna biru. Dia menata satu set timba itu, dipadukan dengan bekas meja berbahan kaca yang kebetulan ada bulatan mirip bentuk bulan yang merupakan bekas tempat tiang meja (Citraan 512 a, 2026). “Tantangan teknis pada foto itu adalah bagaimana sorotan cahaya biru tidak bersentuhan dgn cahaya kuning untuk menciptakan citraan bulan,” ujar Sofyan.
Ada juga karya foto berbentuk payung dengan komposisi warna menyala merah dan kuning yang difoto dengan cahaya alamiah yang menimpa payung. Adapun bintik-bintik yang tampak adalah refleksi dinding lemari pakaian tempat dia menyandarkan payung (Alam Benda 97 d, 2024).
Komposisi berbagai bentuk gelas juga menjadi jepretan kamera pada perangkat gawai Sofyan, berupa deretan bentuk gelas berukuran besar dalam warna hijau, dan komposisi warna kuning dan coklat. Warna-warna itu lahir dari bias latar belakang dari layar televisi yang melewati air dalam gelas (Alam Benda 153, 2025).
Karya seni fotografi itu pernah dipamerkan di Makassar dan Semarang. Fotografi merupakan salah satu pilihan Sofyan Salam untuk berkhidmat di masa
purnabaktinya sebagai akademisi. “Dengan kemajuan teknologi, fotografi menawarkan berbagai kemungkinan untuk merekam peristiwa unik dan historis, atau mengeksplorasi
imajinasi,” katanya.■ Raihul Fadjri



















Komentar