Akademisi Terbitkan Buku Seni Gambar untuk Pendidikan Tinggi Seni Rupa

Buku Seni Gambar sebagai materi pendidikan bagi mahasiswa seni rupa dan dapat diunduh secara gratis lewat format pdf.

 

Makassar, dialoguejakarta.com – Dua akademisi Fakultas Seni dan Disain Universitas Negeri Makassar, Profesor Sofyan Salam dan Dr. Irfan Arifin menerbitkan Buku Seni Gambar setebal 206 halaman. Buku ini diedarkan dalam bentuk format pdf, sehingga siapapun yang membutuhkannya bisa memperolehnya secara gratis. “Niat dasar dari penulisan dan penerbitan buku ini adalah untuk menyajikan hasil pemikiran saya tentang Seni Gambar dan disebar secara gratis,” ujar Sofyan Salam, Senin, 19 Januari 2026. Meski, katanya, bagi yang ingin versi cetak bisa memperoleh buku ini dengan mengganti biaya cetak.

Peluncuran buku Seni Gambar itu berlangsung saat Rakornas Asosiasi Pendidik Seni Indonesia (APSI) di Kampus Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan, 24 Oktober 2025. Menurut Sofyan, gagasan dasar dari penerbitan buku ini adalah untuk menyajikan hasil pemikirannya tentang seni gambar. “Banyak hal tentang seni gambar yang kurang dipahami oleh sebagian orang, termasuk mahasiswa seni rupa,” katanya. Padahal seni gambar adalah basis dari berbagai bidang seni rupa lainnya. “Seni gambar merupakan langkah awal dalam proses kreatif dalam penciptaan karya seni lukis, seni patung, seni cetak (printmaking), seni kriya, dan lainnya.”

Salah satu karya gambar pada Buku Seni Gambar. Foto: dokumentasi Sofyan Salam/ dialoguejakarta.com.

Buku ini tumbuh sebagai jembatan yang menautkan jejak purba dengan lanskap modern. Dari arang dan batu hingga media digital, dari dinding gua hingga layar interaktif. “Seni gambar selalu menorehkan kisah manusia,” ujar Prof. Dr. Agus Cahyono, M. Hum, Ketua Umum Asosiasi Pendidik Seni Indonesia (APSI) dalam tulisan pengantar buku ini.

Gambar sebagai media ekspresi sudah dilakukan sejak jaman prasejarah ketika manusia menorehkan jejak tangan di dinding gua. Pada perkembangannya gambar dijadikan alat komunikasi. Pada masa Mesir kuno misalnya, pegambar menciptakan hieroglif, yakni gambar untuk mewakili kata atau ide.

Gambar identik dengan kata drawing dalam Bahasa Inggris, dapat dimaknai sebagai goresan yang dihasilkan dari alat semacam pensil, konte, arang, spidol, pulpen, paku dan semacamnya untuk menyatakan ide atau merepresentasikan sebuah benda atau peristiwa. Gambar merupakan bentuk komunikasi yang bersifat visual dari seseorang untuk diamati, dipahami, dan ditafsirkan maknanya oleh orang lain.

Pada perkembangannya gambar menjadi media ekspresi seni. “Sejarah seni rupa mencatat bahwa pelukis legendaris semacam Rembrandt van Rijn, Pablo Picasso, Paul Klee, Juan Griss, Salvador Dali sukses menggunakan gambar sebagai media ekspresi mereka,” ujar Sofyan Salam.

Meski pada era modernisme, seni gambar tidak mendapat tempat yang sejajar dengan ekspresi seni rupa lainnya, karena modernisme memisahkan ekspresi seni rupa menjadi seni tinggi (fine art) dan seni rendah (applied art). “Gambar dikategorikan sebagai seni rendah,” kata Sofyan.

Pada era seni kontemporer dengan munculnya kebebasan berekspresi, seni gambar tidak sekadar proses menggambar bentuk dalam pendidikan seni rupa, tapi menjadi entitas sendiri sebagaimana seni lukis, grafis, dan patung. Pada buku Seni Gambar ini dihadirkan karya gambar Syaifuddin Halid berjudul “Represi Aparat”, berupa citraan figur yang terlentang dengan ekspresi ketakutan di bawah todongan pistol dan pijakan sepatu lars. Ada juga karya gambar Salamun Kaulam berjudul “Rupa Rupa” berupa kumpulan citraan wajah dengan mata mendelik dan mulut terbuka bak sedang berteriak, atau mulut terbuka dengan gigi atas dan bawah menyatu bak ekspresi orang sedang menahan kemarahan.

Seni gambar juga mendapat tempat di media massa sebagai karya ilustrasi rubrik editorial, yang dikenal sebagai karikatur. Ada karya gambar Sungging Priyanto berupa citraan sosok Bung Karno sedang memegang payung di atas gulungan karpet dengan teks tulisan: Bung Besar Masih Hidup. Ada juga karya gambar Syafiuddin Halid berupa sosok mantan Presiden Joko Widodo menunggang hewan berkaki empat — banteng — untuk ilustrasi editorial tentang hasrat Joko Widodo menjadi presiden tiga periode.

Kini seni gambar sudah mendapat apresiasi yang setara dengan ekspresi seni rupa lainnya. “Akar sejarah panjang dan peran seni gambar, menjadikan seni gambar memiliki raut wajah yang kompleks. Dalam konteks itulah, buku ini hadir,” ujar Sofyan Salam.■ Raihul Fadjri