Ketika Tubuh Dieksplorasi Lewat Citraan Berbagai Posisi dan Gestur

Citraan figur tunggal dalam  berbagai posisi dan gestur tubuh muncul dalam citraan siluet yang diwarnai dengan semburan berbagai warna.

 

Karya lukis Deni Setiawan. Foto: dialoguejakarta.com/ dokumentasi Deni Setiawan

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Perupa mengeksplorasi tubuh manusia yang ditambahi elemen bentuk lainnya sudah hal yang biasa. Tapi semata-mata hanya mengeksplorasi tubuh manusia adalah hal yang tak biasa. Hal inilah yang dilakukan Deni Setiawan (1980) lewat pameran bertajuk The Book of Silent Resonance di IndiArt House, Yogyakarta, 17 – 31 Desember 2025.

Sebagian besar karya lukis dosen di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi, Universitas Negeri Semarang, ini menampilkan citraan figur tunggal dalam berbagai gestur tubuh yang muncul dalam citraan siluet yang diwarnai dengan semburan berbagai warna. Dampaknya, tubuh-tubuh itu seperti muncul dalam kesendirian nan abadi. “Deni Setiawan mengamati tubuh dan jiwanya saat merespon segala sesuatu di luar dirinya dengan kemampuan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya,” ujar Jajang R Kawentar, kurator pameran ini.

Menurut Jajang, bentuk dan gestur tubuh itu bahasa respon alamiah yang lebih mendasar dan jujur, karena gerakannya berdasarkan kekuatan dari dalam jiwa. “Dari perasaan, pengalaman tubuh dan pengalaman kejiwaannya itu dieksplorasi ke dalam citraan bentuk, gestur, garis, dan warna. Mengajak orang lain dapat turut serta tenggelam merasakan suatu peristiwa pengalaman lahir batin yang dialaminya,” kata Jajang.

Bagi Deni Setiawan, judul pameran The Book of Silent Resonance ini memberikan dimensi baru yang mengubah cara dia memandang karya lukisnya, bukan sekadar sebagai ‘peta sifat’, melainkan sebagai visualisasi energi yang dipancarkan oleh jiwa
manusia.

Deni yang merupakan seorang doktor dalam bidang pendidikan anak usia dini ini mengajak menelusuri apa yang tersembunyi berdasarkan eksplorasi visual narasinya dengan pendekatan filosofis organik. Ada sosok manusia bak sedang  berjalan menjauh, terbungkus dalam semburan warna-warna yang intens dan dinamis. Figur itu tampak larut dalam ruang visual yang dominan kuning, warna yang dalam telaah psikologi warna sering dikaitkan dengan cahaya, kesadaran, dan transformasi (Langkah dalam Cahaya, 2025). “Posisi figur yang berjalan menjauh memberi nuansa naratif: seolah ia tengah meninggalkan dunia lama menuju dimensi kesadaran baru,” ujar Deni.

Ada juga figur dalam posisi berdiri dengan gestur tangan terbentang seolah sedang menyerahkan diri atau melepaskan sesuatu yang paling dalam dari eksistensinya. Dominasi warna merah dan hijau yang mengalir ke bawah menghadirkan kontras antara vitalitas dan penderitaan, antara kehidupan yang terus tumbuh dan luka yang tak henti berdarah (Rebirth: Tubuh yang Menyala di Antara Luka, 2025)

Pada karya lain Deni Setiawan menampilkan figur manusia yang tampak melangkah maju, namun sosoknya seolah larut dalam pusaran warna dan tekstur yang mengalir bebas. Tubuhnya dibentuk dari lapisan warna biru, hijau, dan merah yang menetes, menyiratkan energi hidup yang terus
bergerak dan berubah. Di antara tetesan dan percikan warna, terdapat bintik-bintik putih seperti cahaya bintang, memberi kesan spiritual. Seakan tubuh ini bukan sekadar jasad, melainkan juga wadah kesadaran kosmik (Menembus Lapisan Waktu, 2025). “Karya ini merupakan perwujudan dinamisnya figur manusia menembus waktu yang tak terbatas, tubuh terus berevolusi melampaui perkiraan nalar,” ujar Deni.

Deni mengeksplorasi berbagai gestur tubuh lainnya. Ada tubuh dalam posisi tampak samping dengan kepala mendongak (Metamorfosis Cahaya, 2025) ada tubuh bagian atas dengan posisi kepala seperti sedang melihat ke bawah (Tubuh dalam Ladang Getar, 2025).

Selain itu ada pula figur dengan tangan kiri mengepal dengan posisi terangkat ke atas dan dua kaki dalam posisi menyilang (Langkah yang Menyala, 2025), atau figur separo badan dalam posisi agak tertunduk seolah baru terbangun (Bayang yang Terbangun, 2025).

Eksplorasi bentuk tubuh Deni Setiawanan ini bak sesuatu yang tunggal –visualisasi tubuh–tapi sekaligus menunjukkan keberagaman ekspresi emosional dan gestur tubuh. Bagi Deni, mengerjakan lukisan-lukisan ini adalah sebuah latihan empati. “Saya tidak sedang melukis benda mati, melainkan sedang membedah spektrum rasa manusia. Setiap tarikan garis adalah logika, setiap tetesan warna adalah emosi, dan hasil akhirnya adalah
perayaan atas kompleksitas jiwa manusia itu sendiri,” ujar Deni Setiawan.■ Raihul Fadjri