Kehancuran Ekologi di Atas Kanvas Perupa

Lingkungan terus berubah akibat aktivitas geologis, perubahan iklim, dan pergeseran lempeng bumi.

Sejymlah karya lukis pada pameran After Earth. Foto: Dok. Segi Tiga Art Community/ dialoguejakarta.com

JAKARTA, dialoguejakarta.com – Gelombang panas ekstrem dan cuaca kering memicu kebakaran hutan yang melanda sejumlah negara di Eropa, terutama Spanyol, Prancis, Italia, dan Yunani pada Juli 2026. Kebakaran terjadi saat Eropa bersiap menghadapi gelombang panas, dengan suhu di sejumlah wilayah diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius.

Di Indonesia saat musim kemarau berkepanjangan,  api melahap hutan dan lahan sejak akhir Agustus 2026 di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat yang menyebabkan meluasnya kabut asap dan hujan abu. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga terjadi di Riau dan Sumatera Selatan.

Kondisi bumi seperti inilah yang dieksplorasi perupa Pustanto pada pameran bertajuk After Earth di Balai Budaya, Jakarta 12 – 19 September 2026. Pustanto menampilkan karya lukis berupa citraan bumi dengan daratan benua Amerika, Afrika dan Eropa dalam warna merah menyala (Bumiku Sedang Panas, 2026). “Melalui karya ini, bola dunia saya gambarkan sebagai ruang kehidupan yang sedang membara,” katanya.

Judul pameran After Earth yang melibatkan 28 perupa ini merujuk pada kehancuran ekologi di permukaan bumi sebagai hal yang terus berulang. Lingkungan terus berubah akibat aktivitas geologis, perubahan iklim, pergeseran lempeng bumi, perubahan komposisi atmosfer dan lautan, hingga tumbukan benda-benda langit. “Kepunahan dengan demikian bukan sesuatu yang asing bagi Bumi. Ia merupakan bagian dari mekanisme alam yang memungkinkan kehidupan terus berevolusi. Namun, setiap kepunahan besar selalu meninggalkan ruang kosong yang kemudian diisi oleh bentuk kehidupan baru,” ujar Mayek Prayitno, kurator pameran ini.

Menurut Mayek, After Earth bukan sekadar imajinasi tentang masa depan, tetapi sebagai upaya membayangkan apa yang tersisa setelah sebuah peradaban mencapai batas eksploitasinya. Karya-karya di dalamnya menengok jauh ke depan, ke suatu masa ketika manusia mungkin tidak lagi menjadi pusat cerita.

“Citraan futuristik, bentuk-bentuk surrealistik dan imajinasi tentang makhluk hibrid atau lanskap yang belum pernah ada dapat dipandang sebagai semacam arkeologi masa depan, sebuah usaha untuk membayangkan bagaimana dunia membaca kita setelah kita tidak lagi berada di sana,” kata Mayek. “After Earth mengajak kita berimajinasi melalui estetika, dengan mengandaikan manusia menjadi penyebab berakhirnya sebuah dunia, atau justru mampu mengubah cara hidupnya sebelum Bumi harus menyembuhkan dirinya sendiri dari jejak aktivitas manusia yang merusak.”

Sejumlah karya dua dimensi pada pameran ini tampil menarik dengan mengusung narasi After Earth. Karya lukis Bambang Supriadi, misalnya menampilkan sosok figur dengan kulit retak bak permukaan tanah yang kering kerontang sedang bergerak meloncat keluar dari ruang kegelapan memasuki atmosfir berupa bentuk-bentuk kosmis berwarna cerah (Menjelajahi Pencerahan, 2026).

Pelukis Hugo Avianto ‘memotret’ momentum erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang terjadi pada 4 September 2026 lewat sapuan kuas ekspresif menampilkan lava pijar bak air mancur berwarna merah menyala. Sementara di bagian bawah kanvas muncul bentuk ikan purba Coelacanth –yang hanya ada di Indonesia dan Afrika– di antara puncak candi batu yang nyaris tenggelam di tengah warna latar biru (Akhir Jaman, 2026). ” Pada akhir jaman nanti bumi akan tetap menyimpan artefak dan hewan purba termasuk manusia yang berevolusi agar dapat bertahan hidup,” ujar Hugo Avianto. “Kehidupan selalu menemukan jalannya.”

Kolektor dan juga pelukis Syakieb Sungkar bak membawa orang pada masa ketika bumi ini hanya menyisakan dua mahluk manusia yang mengingatkan pada saat Adam dan Hawa turun ke bumi. Syakieb menghadirkan lukisan bercorak surealis lewat figur perempuan dan lelaki telanjang dengan kepala bertanduk di tengah lanskap kosong dalam warna kuning dan biru yang hanya menyisakan seonggok bentuk gunung (After Earth, 2016).

Menurut Syakieb, karya lukisnya adalah refleksi tentang dunia setelah dunia meninggalkan jejaknya terlalu dalam. Lanskap yang tersisa bukan lagi sekadar ruang alam, melainkan fragmen ingatan tentang peradaban yang pernah tumbuh, mengeksksploitasi, dan akhirnya menghilang. Warna, bentuk dan ruang dalam lukisan ini menghadirkan suasana sunyi sekaligus ambigu. “Apakah yang kita lihat adalah kehancuran, atau justru awal dari kehidupan baru?,” ujar Syakieb.

Maria D. Adriana menampilkan karya lukis berupa citraan sepotong pohon tua di tengah semak yang sudah menguning. Pohon tua dengan bekas luka dan berjamur sebagai sisa kerusakan, daun baru ginkgo biloba mengisyaratkan harapan yang tumbuh, bunga lily bola api mewakili perjuangan (Resillience, 2026). “Bumi berkali-kali mengalami kerusakan, baik secara alami maupun akibat ulah manusia. Namun bumi memiliki daya tahan, ketangguhan yang luar biasa untuk memulihkan diri dan memperbaruinya,” kata Maria.

Adapun Novandi mengangkat narasi tentang imajinasinya tentang masa depan lingkungan kawasan perkotaan Jakarta ketika teknologi, budaya dan alam menyatu dalam peradaban. Dia menampilkan citraan bentuk susunan gedung menjulang, futuristik, transportasi udara, dan jalur air pintar sebagai simbol perkembangan kota yang terus berevolusi. Nuansa neon pop art menghadirkan energi optimistis tentang masa depan kota yang tidak kehilangan identitasnya, di mana warisan budaya tetap hidup berdampingan dengan inovasi moderen. “Lukisan ini menjadi refleksi tentang harapan, adaptasi dan visi manusia dalam membangun dunia yang lebih maju,” ujar Novandi. Narasi Novandi menunjukkan optimisme bahwa seburuk apapun dampak perubahan iklim tetap bisa menghasilkan upaya memperbaiki kondisi bumi menjadi lebih baik.■ Raiihul Fadjri