Perjuangan Pertahankan Kehidupan Lewat Sosok Sri

Sosok Sri pada karya  Muhamad Yusuf, tampil dengan rias rambut khas penganten Jawa yang memandang ke depan seolah menantang siapapun di hadapannya.

Never Surrender (2018). Foto: Dok. Muhamad Yusuf/ dialoguejakarta.com

YOGYAKARTA, dialoguejakarta.com – Idiologi Kiri tak selamanya mengenyampingkan keelokan rupa perempuan yang biasanya dieksploitasi untuk kepentingan kaum kapitalis. Situasi inilah yang muncul pada pameran bertajuk “Sisi Sri” yang menampilkan karya Muhamad Yusuf di ruang pamer Survive Garage, Yogyakarta 6 – 20 September 2026.

Perupa anggota kelompok seniman Taring Padi ini menampilkan 65 karya dua dimensi yang menyuguhkan citraan visual perempuan bernama Sri. Nama “Sri” adalah nama tradisional untuk perempuan di Indonesia yang berasal dari bahasa Sanskerta (Śrī), yang berarti cahaya, kemakmuran, kekayaan, keindahan, atau tuah baik. Dalam tradisi Nusantara (khususnya Jawa), Sri juga merujuk pada Dewi Sri, yaitu dewi padi dan kesuburan. Sri juga dipakai sebagai nama depan raja keraton Jawa.

Sosok Sri pada karya Ucup, panggilan akrab Muhamad Yusuf (1975), tampil dengan rias rambut khas penganten Jawa yang memandang ke depan seolah menantang siapapun di hadapannya. Karakter visual yang khas pada sosok Sri juga ada bayangan hitam di bawah matanya bak kondisi orang yang lelah karena kurang tidur. “Sosok perempuan itu dihadirkan sebagai figur dengan kehidupan yang berat. Namun meski penderitaan hidup berbekas di wajahnya, ia tetap kekar. Ia memandang kita tanpa menunduk, lurus dan tanpa malu,” ujar Katrin Bandel, pengamat budaya. Tak heran jika Ucup menyebut Sri mewakili sisi tertentu dirinya yang yang direpresentasikannya dalam bentuk perempuan. “Sri adalah simbol perjuangan kemanusiaan.”

Nandur Makmur (2020)

Perjuangan Sri dimulai dari pemenuhan kewajiban seorang ibu yang dia lahirkan berupa sosok Sri sedang menyusui bayi di tengah sembari membayangkan keinginannya terhadap sang bayi kelak menjadi pahlawan sebagaimana  berbagai citraan topeng tradisional Jawa dan topeng super hero antara lain topeng Spiderman, juga berbagai citraan senjata api untuk bertempur dan pistol dengan simbol Nazi dan  teks: Senjata adalah Ketakutan. Ada juga sederet potret pria dengan teks: Revolusi. Juga potret tokoh yang pernah mengobarkan revolusi seperti Che Guevara, Walisongo dan Sultan Hasanuddin. Semuanya di berlabel IMITATION OF FICTION (Heroes on Sale, 2018).

Sri tidak cuma tampil sebagai sosok yang berperan sebagai ibu rumah tangga, tapi juga seorang pekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga lewat sosok Sri  sebagai pekerja sedang membawa hasil panen berupa padi, jagung, pete, dan buah sembari memegang arit dengan latar lanskap gunung,  hampan sawah dan pohon kelapa dengan tulisan SRI REJEKI (Safety Food, 2016). Atau kegiatan Sri di ruang terbuka dengan memegang cangkul dan tanaman ubi kayu hasil penanaman di lahan subur di kaki gunung merapi (Nandur Makmur, 2020).

Ucup tidak cuma menampilkan peran Sri dengan latar kehidupan agraris sebagai petani, tapi juga sosok Sri di tengah hiruk kehidupan kota dengan menghadirkan Sri  memakai pakaian moderen di dalam bis kota yang penuh sesak sembari memegang berkas bertuliskan ijazah, bak menggambarkan perjuangan Sri memperoleh ijazah (Never Surrender, 2018), atau sosok Sri sebagai pekerja salon kecantikan Salon Nona Sri (Hey, 2017).

Ekspresi Ucup tentang perjuangan hidup tak cuma lewat elemen visual lewat sosok Sri dan elemen kebentukan lainnya untuk menggambarkan Sisi Sri, tapi juga dengan berbagai teks tertulis sebagaimana karya seni rupa aktivis Taring Padi lainnya untuk menegaskan pesan yang mereka sampaikan ke publik.■ Raihul Fadjri