Kuasa Teknologi Digital Rambah Lanskap Seni Rupa

Tiga perupa memanfaatkan teknologi artificial intelligence, sementara dua perupa lain bertahan lewat teknik manual.

Karya Agan Harahap (Jenny Holtzer at Indonesian Parliament Building, 2026). Foto: Dok. Ace House Collective/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Kuasa teknologi digital lewat kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) yang dioperasikan dengan kekuatan algoritma telah menguasai perilaku individu saat ini. “Tanya Meta AI,” begitu pernyataan tertulis saat orang membuka aplikasi WhatAps, atau perintah: Telusuri Google. “Tinggal di-googling aja”.

Di tengah keniscayaan kuasa teknologi digital ini individu tak lebih sebagai mahluk dengan perilaku yang sudah terdeteksi semua riwayat dan apa yang akan dilakukan.

Relasi individu dengan kuasa teknologi digital inilah yang mendasari sejumlah karya seni rupa pada pameran bertajuk No Longer Human (gagal menjadi manusia), Broken White Project
Ace House Collective, Yogyakarta, 31 Juli – 4 September 2026.

“Kelima seniman ini memosisikan diri, berusaha melihat posisi manusia dalam perubahan dan ketercacahan,” ujar Febrian A. Hasibuan, pengamat seni rupa.

Agan Harahap (1990) bekerja dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence), sistem komputasi yang mampu meniru karakteristik secara sempurna. Perupa fotografis ini dengan teknologi digital meletakkan citraan visual berupa tulisan “Protect Me From What Want” di fasad gedung MPR-DPR Senayan (Jenny Holfzer at Indonesian Parliament Building, 2026).

Sementara Azizi Al Majid (1994) mengkolase secara sembarangan berbagai citraan bentuk berupa robot berkaki empat, perangkat komputer, patung, teks, garis-garis kasar (Cache Eats The Body, 2026). “Ia seperti sedang menunjukkan bahwa keacakan kolase merupakan bagian dari pola atau perilaku digital,” ujar Febrian.

Rizal Nugraha (1994) memungut objek-objek di dekatnya berupa perangko yang disandingkan dengan citraan hewan berbentuk aneh hasil AI generatif. Ilustrasi perangko merujuk secara jelas pada spesies burung maleo dari Sulawesi, sementara spesies satunya merujuk pada korpus data hasil perintah AI: menyerupai kuskus, tapi juga menampakkan kelamin jantan (Half-Bird, 2026).

Ketika seluruh diri kita tercacah menjadi data, mesin meniru perilaku manusia, dan memengaruhi keputusan manusia, apa yang masih tersisa untuk disebut manusia?

Sebaliknya Popok Tri Wahyudi (1973) memilih jalan memutar saat berhadapan dengan dunia digital. Perupa yang dekat dengan media komik ini menyusun lima blok persegi bak deretan cerita komik yang berisi kerumunan figur dalam narasi kekerasan militer dan perang rudal balistik dan drone (Mata Kotak: A Markers of Humanity Recurring Wounds, 2026).

Pada dua sisi kotak kayu yang melengkapi karya dua dimensinya, Popok menulis tentang pembantaian oleh pasukan Angkatan Darat Amerika Serikat di Dakota Selatan pada 29 Desember 1890 terhadap Kepala Suku Indian  bersama rakyatnya di tepi Wounded Knee Creek, dan pembantaian para pemburu-pengumpul di Jebel Sahaba, tepi Sungai Nil, di Sudan sekitar 13 ribu tahun yang lalu.

Meski berada di tengah dunia digital, pelukis Eko Nugroho (1977) tidak terjerumus dalam hiruk dunia digital yang menggelendot pada teknologi AI. Dia mengkreasi sendiri citraan bentuk karya lukisnya dengan memilih menyembunyikan citraan bentuk tubuh dengan menyisakan bentuk mata yang menatap sahdu dari balik kehijauan rimbunan pepohonan lewat empat karya seri (Watched Peacefully the Sparks From Wars, 2025). Sisi manusia masih muncul di tengah kuasa teknologi digital yang sudah merambah ke lanskap seni rupa.■ Raihul Fadjri