Kalimantan Siap Masuk dalam Arus Utama Seni Rupa Kontemporer Indonesia

Pra-Biennale Kalimantan 2026 menampilkan karya seni rupa dengan narasi lingkungan hingga budaya kuliner.

 

Karya Diah Yulianti (Trasformasi Lapisan Purba, 2026; Spiritualitas Agraris, 2026). Foto: Dok. Pra-Biennale Kalimantan 2026/ dialoguejakarta.com.

Banjarmasin, dialoguejakarta.com – Dalam peta seni rupa Indonesia, Kalimantan bukan wilayah yang ikut mengisi keriuhan pameran seni rupa sebagaimana Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Meski dari Kalimantan pernah muncul nama pelukis Misbach Tamrin (1941) yang mengisi pentas seni rupa Indonesia lewat Sanggar Bumi Tarung. Perjalanan berkeseniannya membentang dari Yogyakarta, Banjarmasin, saat badai politik 1965, hingga masa tahanan selama 13 tahun dan kembali berkarya dengan keteguhan yang tak pernah pudar.

Kini para pegiat seni rupa di Kalimantan ingin menorehkan perannya lewat pameran Pra-Biennale Kalimantan 2026 yang berlangsung di Taman Budaya Kalimantan Selatan di Banjarmasin, 10 – 24 Agustus 2026.

Pra-Biennale Kalimantan 2026 bisa menjaring 37 partisipan lintas empat provinsi dalam waktu relatif singkat. “Pra-Biennale Kalimantan 2026 adalah langkah antara sebagai latihan bersama, uji coba jejaring kuratorial, uji coba format penjaringan karya lintas provinsi, sekaligus uji coba kesiapan Kalimantan Selatan sebagai simpul penyelenggara bagi seluruh Kalimantan,” ujar Zamrud Setya Negara, salah seorang kurator Pra-Biennale Kalimantan 2026.

Karya seni rupa peserta pameran dua tahunan ini mengisi dua venue: Gedung Wargasari dan Bengkel SR Sholihin di kompleks Taman Budaya Kalimantan Selatan. “Biennale yang dicita- citakan bukan proyek yang dibangun dari nol, melainkan panggung baru bagi kerja-kerja yang sesungguhnya sudah lama berjalan.”

Sejumlah karya seni rupa pada Pra-Biennale Kalimantan 2026.

Peserta pameran mengeksplorasi berbagai narasi, mulai dari narasi tentang lingkungan hidup hingga ihwal makanan lewat berbagai tehnik dan media. Ada dua karya lukis Diah Yulianti berupa citraan perangkat alat berat backhoe sedang mengeruk tanah lewat sapuan kuas ekspresif (Transformasi Lapisan Purba, 2026) dan citraan hamparan tanaman padi (Spiritualitas Agraris, 2026). Dua karya lukis ini dilengkapi dengan karya instalasi berupa tiga gerobak sorong berisi bongkahan batu, arang, dan gabah padi.

Menurut Diah, ketika hutan dibabat, gunung digali, maka tidak ada lagi lahan untuk berhuma ladang. Kehilangan lahan mengakibatkan lumpuhnya
ketahanan pangan untuk kebutuhan primer umat manusia. “Sebuah ironi
ketika kekayaan alam Kalimantan dikeruk, dihisap, digali, dibabat,
diangkut. Penggalian perut bumi yang mengakibatkan krisis ekologis. Masyarakat adat kehilangan mata pencaharian tradisional yang turun temurun berhuma ladang dan mencari ikan,” ujar Diah, perupa asal Banjarmasin yang kini bermukim di Yogyakarta.

Sejumlah karya seni rupa pada Pra-Biennale Kalimantan 2026.

Yang menarik, 17 dari 37 perupa mengeksplorasi dunia kuliner dari aspek sosial, budaya, ekonomi, politik, dan religiusitas, berupa berbagai makanan, mulai dari nasi kuning, Wadai Banjar, Mandai pedas, pentol, Bakpia, hingga mie instan. Makanan tidak hanya dipahami sebagai objek konsumsi, melainkan juga bahasa ekspresi spiritual. “Sajian: makanan sebagai bahasa pertama,” ujar Zamrud Setya Negara.

Ada karya lukis Robert Nasrullah berupa citraan bentuk ikan, bungkus daun pisang dan teks dalam huruf Arab (Nasi Kuning, 2026). “Bagi masyarakat Banjar, nasi kuning bukan sekadar makanan, melainkan simbol kesederhanaan dan pengikat kerinduan akan kampung halaman, yang juga hadir dalam acara keagamaan dan adat seperti basalamatan, bahaul, dan bamulud sebagai simbol berkah dan harapan keselamatan,” katanya.

Ada juga Mandai yang merupakan makanan tradisional khas masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan berupa makanan hasil fermentasi dari kulit buah cempedak karya Nabila Antuku (Mandai Pedas Manis, 2026).

Wadai khas Banjar adalah sebutan untuk berbagai jenis kue tradisional asal suku Banjar di Kalimantan Selatan yang dieksplorasi lewat karya lukis oleh Daniel Lie bersama bentuk ikan asin di tengah temaram cahaya lilin (Wadai dan Iwak, 2026).

Muhammad Abby Yannur mengeksplorasi momen pembuatan Bubur Hintalu Karuang, bubur manis tradisional khas Banjar, Kalimantan Selatan, oleh empat perempuan yang sedang mengaduk makanan di dalam kuali berukuran besar. “Hintalu” berarti telur dan “karuang” berarti sejenis burung, yang menggambarkan bentuk bola-bola tepung ketan kecil mirip telur burung di dalam kuah santan dan gula merah yang kental serta gurih (Mangawah Bubur Hintalu Karuang, 2026).

Bahkan makanan bagi perupa Salamin tidak sekadar cita rasa tapi juga ekspresi kuasa politik lewat alegori seekor babi yang menimbun pangan bagi dirinya sendiri. Karya lukis ini membongkar bagaimana kerakusan dan penyalahgunaan kuasa mengubah makanan menjadi instrumen ketimpangan. “Tubuh yang kenyang berdiri di atas tubuh-tubuh yang dibiarkan kelaparan, menjadikan sajian sebagai bahasa pertama yang memperlihatkan siapa yang diberi makan, siapa yang menimbun, dan siapa yang harus menanggung akibatnya,” ujar Zamrud Setya Negara.

Lewat pameran Pra-Biennale Kalimantan 2026 ini, Kalimantan memang tidak pernah benar-benar sunyi dan senyap dalam lanskap seni rupa kontemporer Indonesia. Yang tak dimiliki wilayah ini selama puluhan tahun bukanlah karya atau perupa, melainkan panggung berskala besar yang mampu merangkum, mempertemukan, dan mempercakapkan seluruh kerja itu dalam satu peristiwa bersama semacam pameran dua tahunan: biennale.■ Raihul Fadjri