Perupa Generasi Z Ungkap Luapan Kritik terhadap  Penguasa

Nyoman Suarnata eksplorasi narasi  kekuasaan yang represif lewat bahasa sindiran dan humor getir.

Karya lukis Nyoman Suarnata, Waiting for The Hero #4 (2025). Foto: dokumentasi Nyoman Suarnata/ dialoguejakarta.com

Jakarta, dialoguejakarta.com – Masih ingat lukisan berjudul Berburu Celeng karya pelukis Djoko Pekik (1937-2023), karya lukis yang sarat dengan muatan kritik terhadap penguasa Orde Baru yang runtuh pada 1998. Celeng (babi) pada karya lukis itu sebagai metafora kekuasaan politik yang rakus dan otoriter. Dalam konteks ini seni rupa menjadi salah satu media kritik sosial yang muncul di tengah masyarakat.

Kini ketika politik sudah lebih terbuka, kritik yang muncul di ruang publik  diangkat melalui karya seni rupa, salah satunya dieksplorasi oleh perupa  Generasi Z, Nyoman Suarnata (1981), lewat karya lukis pada pameran bertajuk ‘Small Talks for Serious Times’ di Galeri Zen1, Jakarta, 18 Januari – 10 Februari 2026.

Pada karya lukisnya Suarnata menarasikan  kritik yang muncul di ruang publik lewat bahasa sindiran dan humor getir seperti yang sering ditemui dalam obrolan sehari-hari. “Pameran ini adalah hasil dari kegelisahan saya terhadap situasi sosial politik saat ini,” ujar Suarnata.

Alih-alih mengungkap narasi kritik dengan nada angker atau retorika moral yang menggurui, Suarnata memilih bahasa yang lebih akrab. “Karya lukis Suarnata bekerja seperti lelucon yang begitu dekat dengan kenyataan. Memancing orang untuk tersenyum atau tertawa, lalu terdiam berpikir,” ujar Arif Bagus Prasetyo, kurator pameran ini.

Propaganda, 2025

Terdapat empat sub-tema yang dijelajahi Suarnata dalam karyanya: elite kekuasaan, prajurit, budaya kontemporer, dan sosok superhero. Suarnata menggunakan corak visual animasi yang karikatural dengan kehadiran figur tunggal berupa sosok bertubuh tambun, sehingga orang bisa langsung melihat pesan utama yang dia diungkap lewat karya lukisnya. Figur tunggal itu diimbuhi dengan simbol budaya pop yang mengesankan kehadiran publik dalam narasi utama. Bentuk figur tambun itu dibalut narasi tentang bagaimana kekuasaan dijalankan dengan ketat bahkan brutal lewat dukungan politisi, militer, dan oligarki dengan mengangkat sejumlah isu.

Suarnata menggunakan idium senjata mesin dengan moncongnya bengkok mengarah kebelakang bak narasi peringatan resiko bagi orang yang melontarkan kritik terhadap penguasa politik di ruang publik (Kritikmu Harimaumu, 2026).

Sebaliknya narasi senjata makan tuan juga muncul lewat citraan sosok serdadu berseragam doreng dengan senjata mesin di tangan bak siap melepaskan tembakan, tapi moncong senjata itu malah berkelok ke arah sang prajurit (Suicidio, 2025). Idium senjata api juga muncul lewat citraan tank tempur yang siap beraksi (Symbol of Dictator, 2025). “Aparat negara yang mestinya sebagai pelindung masyarakat malah sering dijadikan alat untuk melawan masyarakatnya sendiri, bertindak secara represif,” ujar Suarnata.

Dia juga mengulik isu tambang lewat sosok tambun mengenakan pakaian doreng dengan ekspresi wajah penuh nafsu sedang mengarahkan meriam dari atas citraan kemasan minuman Pepsi (Cola) dengan roda di bawahnya (Berburu Tambang, 2025).

Narasi nasib rakyat kecil dia eksplorasi lewat citraan karikatural rumah susun yang tampak compang-camping seolah menyindir janji kosong pemerintah untuk menyediakan rumah sederhana layak huni untuk rakyat (Janji Seribu Rumah, 2025). Bahkan Suarnata menggambarkan ironi kondisi sosial ekonomi rakyat lewat citraan rumah susun yang tampak ringsek dengan citraan sejumlah figur sedang pesta di bagian atap rumah susun (Pestanya Para Elit, 2025).

Kekuasaan tidak cuma hadir lewat peran militer,  politisi, dan oligarki, tapi juga lewat media massa berupa citraan figur tambun mengenakan jas dan dasi dengan kedua tangan dalam posisi mendekap, sementara bagian kepala berupa citraan perangkat televisi bak menyemburkan ancaman lewat citraan bentuk pesawat tempur dan rudal (Propaganda, 2025).

Di tengah ironi penderitaan rakyat kecil itu muncul harapan kehadiran sang pahlawan lewat karya seri  berupa sosok figur tambun dengan jubah berkibar yang mengingatkan orang pada tas kresek (plastik) berupa garis hitam putih sedang duduk di atas kotak kardus mie instan, atau sosok tambun duduk di atas kuda (Waiting for The Hero, 2025).

Pameran “Small Talks for Serious Times” menyajikan rangkaian percakapan visual tentang dunia yang semakin absurd, kekuasaan yang tidak amanah, manusia yang kehilangan arah, dan harapan yang keras kepala. “Seperti obrolan warung kopi, lukisan Suarnata tidak menuntut persetujuan. Hanya mengajak berhenti sejenak, menertawakan kenyataan, dan mungkin melihat dunia dengan sedikit lebih awas dan waspada,” ujar Arif Bagus Prasetyo.■ Raihul Fadjri

Komentar