
YOGYAKARTA, dialoguejakarta.com – Saat memasuki ruang pamer Bentara Budaya Yogyakarta, perhatian pengunjung langsung terserap pada karya tiga dimensi berupa sosok perempuan dalam posisi berdiri di sudut ruang dengan gestur peragawati berpose di atas catwalk. Citraan bentuk tubuh perempuan itu ditutup gaun transparan yang menampakkan seluruh permukaan tubuhnya berhiaskan motif batik.
Patung karya Nita Azhar ini merupakan salah satu dari karya 19 perupa pada pameran bertajuk “Mbesuuk” di Bentara Budaya Yogyakarta, 26 September – 9 Oktober 2026. Pameran ini menghadirkan gambaran bagaimana potret Yogyakarta dalam bentangan masa lalu, masa kini, dan masa datang?
Karya patung ini interpretasi fashion masa depan ketika teknologi semakin menyatu dengan tubuh manusia. Batik tidak lagi sekadar hadir sebagai kain yang dikenakan, tetapi berevolusi menjadi “second skin“, lapisan identitas yang melekat pada tubuh.
Motif batik klasik ditransformasikan pada tubuh sebagai gambaran kemungkinan fashion di tahun 2076: ketika tubuh, tekstil, dan teknologi semakin saling terkait. Batik menjadi jembatan antara warisan masa lalu dan imajinasi masa depan Yogyakarta. Teknologi berubah. Fashion berevolusi. Batik tetap membawa ingatan dan identitas (BATIK – The Second Skin Serat, 2026).
Judul pameran ini, “Mbesuuk”, merupakan ungkapan bahasa Jawa yang berarti satu hari setelah hari ini. Persis sama dengan “esok” atau “besok” dalam bahasa Indonesia. Pengulangan konsonan “uu” pada “Mbesuuk” berkonotasi untuk menjangkau lebih jauh ke masa depan. Bentangan waktu itu kerap digambarkan dalam garis imajiner dari Gunung Merapi, Tugu, Keraton, Panggung Krapyak, hingga Pantai Parangtritis.
Kurator pameran, Sindhunata dan Hermanu, mengajak para perupa mencermati kembali Yogyakarta dalam bentangan masa lalu, masa kini, dan masa datang pada pameran yang digelar dalam rangka ulang tahun Bentara Budaya ke-44 yang didirikan di Yogyakarta pada 26 September 1982. Bentangan yang kerap digambarkan dalam garis imajiner dari Gunung Merapi, Tugu, Keraton, Panggung Krapyak, hingga Pantai Parangtritis.
Perupa menyajikan beragam karya, seperti dari lukisan, graffiti, patung, miniatur, diorama, atau instalasi dengan mengkombinasikan citraan bentuk seni tradisi dengan teknologi. Pelukis realis Susilo Budi Purwanto melukis Hanoman dan Rahwana bertubuh robot dengan gestur bak sedang berdialog dengan latar citraan bentuk candi (Ramayana Mbesuuk, 2026). “Tanpa tuntunan, wayang hanya menjadi tontonan saja. Seperti robot-robot mainan anak yang bersifat seru-seruan,” ujar Susilo.
Pelukis Sriyadi Srinthil mengusung citraan bentuk sosok perempuan yang mengenakan atribut berbagai perangkat teknologi di tengah deru ombak laut yang tercemar sampah industri, sementara di depannya ada sosok pria bepakaian adat Jawa duduk di atas perahu (Ibu Ratu Kidul: Sang Pengayom, 2026). “Ibu Ratu Kidul, penguasa istana samudera raya. Sang pengayom penjaga kutub sumbu filosofis. Di abad kemajuan sain, tehnologi dan Industri tinggi, bahkan AI saat ini, Sang Ibu Ratu, masih setia menjaga,” kata Sriyadi Srinthil.
Adapun pelukis Andry Boy Kurniawan mengeksplorasi narasi sumbu filosofis bernuansa pariwisata lewat bentuk Tugu Pal Putih di bagian tengah kanvas yang di kelilingi gedung menjulang dan citraan bentuk plang bertuliskan Jalan Malioboro yang menggambarlan Yogyakarta pada tahun 2075 (Postcard from Malioboro 2075). Sementara saat ini di Yogyakarta tinggi bangunan dilarang lebih dari 32 meter, atau setara dengan delapan lantai demi menjaga estetika, nilai sejarah, serta keistimewaan kawasan Yogyakarta.
Potret hiruk Kota Yogyakarta juga disorot pelukis hyper realist Bambang Pramudiyanto dengan Tugu Pal Putih yang dikelilingi bangunan menjulang, lintasan rel kereta commuter line bangunan menjulang, deretan mobil mewah mengkilap dan robot hewan berkaki empat melintas di jalan raya (Sudut Tugu, 2026). “Membayangkan kota Jogja pada masa depan. Jogja menjadi kota metropolitan dengan segala perkembangan pembangunan dan sarana transportasi. Suasana hiruk pikuk dan gemerlap namun terasa sepi dan kosong,” ujar Bambang.
Perupa Budi Ubrux menggambarkan perubahan peran manusia ke mesin lewat deretan figur dengan struktur mesin berlapis citraan kertas koran (Humanoid, 2026). “Manusia bergerak seperti mesin, sistematis, teratur, dan mengikuti mekanisme yang telah dibentuk. Hubungan antar manusia yang intim, kemudian tergantikan dengan hubungan yang dimediasi dan diatur oleh sistem mesin,” ujar Budi Ubrux.
Robot pun mengganti peran tukang cukur pada karya lukis Agung Pekik dari tradisi praktek tukang cukur di bawah pohon (Cukur Pithingan, 2026). Di masa-masa ke depan akan banyak pekerjaan yang akan digantikan oleh teknologi untuk memudahkan pekerjaan
manusia, bahkan hingga pekerjaan yang sangat sederhana.■ Raihul Fadjri























Komentar