Ketika Rumah Menjadi Metafora Perjalanan Hidup Lewat Karya Seni Rupa

Perupa menelusuri jejak perjalanan hidup personal dari masa lalu, masa kini, hingga masa mendatang.

Sejarah & Budaya328 Dilihat

Sejumlah karya pada pameran Rumah; Ingatan Mitologi Sehari-hari. Foto: Dokumentasi Vinautism Gallery/ dialoguejakarta.com.

Surabaya, dialoguejakarta.com – Rumah acap kali dibayangkan sebagai konstruksi fisik, berupa bangunan, tempat aktifitas sehari-hari. Tapi sejatinya  rumah juga hadir sebagai memori yang mengendap di dalam tubuh, berupa jejak pengalaman, aroma masa kecil, dan potongan keseharian yang menyimpan berbagai potongan rasa. Ihwal narasi rumah inilah yang dieksplorasi 16 perupa lewat pameran bertajuk “Rumah; Ingatan Mitologi Sehari-hari”, di Vinautism Gallery, Surabaya, 6 Desember 2025 – 6 Januari 2026.

“Pameran Rumah Ingatan mengajak kita menelusuri bagaimana objek, lanskap, dan memori domestik dapat berubah menjadi mitologi pribadi, sederhana dalam bentuk tetapi kaya dalam makna,” tulis Cynthia Zhafira Aulia Imas, pengamat seni rupa, dalam teks pengantar pameran.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tersentuh kenangan tanpa menyadarinya. Seraut wajah dapat memunculkan kembali perasaan lama, atau sudut rumah yang dapat membangkitkan cerita yang pernah terlupakan.

Pada pameran ini para perupa mengeksplorasi narasi rumah mulai dari rumah dalam citraan fisik hingga rumah dalam makna psikologis. Edam E. Taufik membangun deretan struktur bentuk rumah dengan tehnik media campur (The Imaginary Home of An Uncoscious, 2025). Ada juga karya lukis Ernanta Hem berupa lanskap berhiaskan citraan bentuk rumah (House at The Lakeside, 2025). Atau Iskandar SY dengan citraan bentuk rumah tempat anak-anak bermain (Dream Theatre, 2025).

Para perupa juga mengeksplorasi narasi rumah sebagai atmosfir antara dengan membuka hubungan antara realitas harian dan ingatan. Mereka menghadirkan kembali hal-hal kecil yang sering terlewat dan menjadikannya penanda untuk membaca diri. “Rumah tidak lagi dipahami sebagai bangunan, melainkan sebagai lanskap batin yang tersusun dari pengalaman yang pernah dirawat,” kata Cynthia Zhafira.

Melalui lukisan dan karya tiga dimensi, para perupa membangun ruang di mana batas antara nyata dan ingatan menjadi cair. Heripe menelusuri gema masa kecil melalui karya seperti I Can Be Hero, Just for One Day, Child of the Moon, dan Eryan Chander menghadirkan sosok ibu sebagai pusat kehangatan domestik dalam trilogi Alfa Madame, di mana figur hibrida dan lanskap surealis menegaskan hubungan antara ingatan, identitas, dan rumah sebagai ruang psikologis.

Adapun Putra Eko Prasetyo merawat ingatan tentang suasana pedesaan dan suara pagi melalui My Neighbors, Morning Song, dan The Queen, menghubungkan kehidupan tradisional dan modern sebagai ruang memori. Sedangkan Hery Sudiono melalui karya lukis dan patung berupa sosok hewan dan manusia di tengah lanskap alam  (Waktu Terlipat di Beranda, 2025).

Samsul Arifin berupa karya patung dari materi onderdil otomotif berbentuk figur robotik (Anglerfish, 2023), sedangkan Febritayustiani menemukan kembali kepuitisan bentuk melalui bahan plastik yang direkonstruksi pada karya seperti Laguna dan Geothermal. Adapun Yusup Dilogo mengeksplorasi lanskap berupa bentuk bukit dan jalan membentang dalam komposisi warna cerah menyala seri lanskap (Mengajak Pulang, 2025).

Karya pada pameran ini seolah mengingatkan setiap individu pada masa lalu, melewati jalan berliku menuju masa kini untuk menghadapi masa mendatang.■ Raihul Fadjri

Adv Banner

Komentar