Perempuan di Garis Depan Kerajinan Gerabah Sambirata

Kerajinan gerabah di Sambirata tetancam punah dengan semakin sedikit penerusnya.

 

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Ketika belum ada perangkat dapur seperti sekarang ini yang dibuat dari berbagai macam material, pada masa lalu penduduk desa khususnya menggunakan perangkat dari gerabah yang dibuat dari tanah liat. Sejumlah tempat dikenal sebagai tempat pembuatan gerabah, salah satunya yang masih tersisa di Sambirata, satu dusun di Purbalingga, Jawa Tengah.

Saat ini kerajinan gerabah semakin berkurang beredar di pasaran dan pemanfaatannya juga makin berkurang. Jaman dulu hampir semua warga Sambirata adalah perajin gerabah. Tapi akhirnya  hanya tinggal 70 orang perajin, bahkan saat ini hanya tersisa 23 perajin yang masih melakulan proses produksi dengan energi yang masih tersisa. Yang menarik, pelaku produksinya justru kaum perempuan ibu rumah tangga.

“Kini pekerjaan membuat gerabah terlihat sebagai pekerjaan sampingan kaum perempuan– ibu rumah tangga–dengan ritme kerja rutin sejak subuh hingga menjelang tidur malam,” ujar Dr. Koni Herawati, pengamat budaya, Sabtu 6 Desember 2025.

Koni merangkum hasil penelitian disertasinya di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta pada 2023 yang kemudian diterbitkan lewat buku pada 2025 berjudul ‘Suatu Hari di Sambirata : Pengalaman Estetis Keseharian Bersama Perempuan Pelestari Gerabah’.

Peran kaum perempuan dalam melestarikan budaya gerabah inilah yang dipaparkan Koni Herawati dalam diskusi di Bentara Budaya Yogyakarya, Kamis 4 Desember 2025. Menurut Koni, keterampilan membuat gerabah merupakan tradisi turun temurun yang diwariskan oleh seorang biyung (ibu) khusus kepada anak perempuannya sejak kecil, rata-rata usia 10 tahun.

Proses membuat gerabah dimulai dari bangun tidur pagi hingga tengah malam menjelang tidur. “Tidak ada kata berhenti bagi para perajin untuk menghasilkan gerabah,” kata Koni.

Keterlibatan kaum perempuan dimulai dari   menggali tanah liat (ndudug) sebagai bahan dasar gerabah pada sore hari. “Ibu-ibu itu berusaha berdiri saat menggendong hasil ndudug tanah liat dan berjalan pulang,” kata Koni.

Esok harinya mereka membentuk tanah liat menjadi gerabah (muter) kemudian dijemur hingga kering setelah produksi mencapai 350 hingga 1000 gerabah kendhil. Proses dilanjut dengan membakar gerabah (ngobar) yang dilakukan di ladang kosong yang sudah ditinggalkan petani karena sudah tidak subur untuk ditanami padi.

Setelah dibakar gerabah dihaluskan (ngerik) dengan batu kali yang halus untuk  meratakan permukaan gerabah agar bentuknya lebih sempurna sehingga menjadi gerabah siap pakai. “Mengerjakan gerabah tidak cukup sehari. Bisa berminggu-minggu. Bahkan pada saat musim hujan bisa sebulan lebih gerabah diselesaikan,” ujar Koni.

Perajin kemudian menjual gerabah lepek (piring kecil) ke pengepul Rp 500 – Rp 800 perbuah. Di pasar dijual Rp 800 – Rp 1.500 perbuah. Dari penjualan gerabah lepek, perajin bisa memperoleh Rp 300 ribu sampai Rp 600 ribu. Adapun gerabah kendhil (kuali kecil) dijual ke pengepul Rp 500 hingga Rp 2.500 perbuah. Perajin memperoleh Rp 800 ribu – Rp 1.750.000.

“Secara ekonomi memang tidak layak, tapi estetika keseharian akan mengungkap bagaimana pengalaman hidup perajin gerabah dalam menjalani atau memaknai hidup agar bisa bertahan hidup,” kata Koni.

“Nilai kehidupan inilah yang menjadi kekuatan atau  keindahan pengalaman hidup, yang tepat disebut sebagai nilai estetis atau estetika keseharian.”■ Raihul Fadjri