
Tangerang Selatan, dialoguejakarta.com – Warung makan Tuman di BSD Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten, tidak cuma menyajikan lezatnya masakan khas nusantara, tapi juga jejeran karya kartun yang dipajang di halaman terbuka warung makan ini yang terasa sejuk dengan kerimbunan pohon bambu pada 1- 30 Agustus 2026. Sebanyak 80 karya kartun 20 kartunis dari Kelompok Kartunis Kaliwungu (Kokkang) membuat pengunjung tersenyum bahkan tertawa melihat karya kartun sembari menikmati lezatnya makanan warung Tuman.
Pameran bertajuk “Tawa Merdeka” ini sebagai penanda Hari Ulang Tahun ke-81 RI. “Angka 81 bukan sekadar hitungan umur republik ini, tapi juga simbol bahwa kemerdekaan masih layak dirayakan dengan cara yang ringan, cerdas dan menggelitik,” ujar Syaifuddin Ifoed, ketua pelaksana pameran ini yang juga pentolan Kokkang.
Kalau ada yang bertanya apa hubungan kartun dengan kemerdekaan, jawabnya sederhana: dua-duanya sama-sama butuh keberanian. “Di zaman ketika orang mudah tersinggung, kartun justru mengajak kita belajar tersenyum. Bukan karena semua masalah selesai, melainkan karena bangsa yang bisa menertawakan dirinya sendiri biasanya lebih sehat akal sehatnya,” kata Syaifuddin.
Pameran ini menampilkan karya kartun gag (kartun tunggal untuk membuat orang tertawa), kartun strip dan kartun editorial. Sebagian besar kartunis mengeksplorasi narasi tentang korupsi di Indonesia yang ironisnya pemerintah tidak bertindak tegas terhadap koruptor, mulai dari pemberian remisi hukuman bagi para koruptor saat peringatan HUT Kemerdekaan lewat karya kartun, sebagaimana yang digambarkan kartunis M. Najib berupa rombongan orang keluar dari pintu PENJARA KORUPTOR sembari berteriak MERDEKA dengan menunjukkan kertas bertuliskan: GRASI. Sementara Presiden negeri ini enggan merampas harta hasil korupsi dengan pertimbangan keadilan proporsional. Bahkan Rancangan UU Perampasan Aset hingga kini belum disahkan oleh DPR sejak resmi diajukan dan masuk dalam draf usulan pemerintah kepada DPR sejak 2012.
Kartunis Wawan Bastian menggambarkan tarik ulur RUU Perampasan Aset itu lewat dua kartun berupa sosok figur mengenakan jas lengkap dengan saku penuh duit sedang bersukaria di atas ayunan di dalam sel penjara. Pada kartun di sebelahnya sosok sang koruptor mengenakan kaus singlet dan celana pendek bersaku kosong dengan gestur minta ampun diimbuhi teks: Sita Semua Asetnya. Di bawah dua figur koruptor itu ada dua sosok komentator menyebut: “Kayaknya koruptor tidak takut dipenjara.” Sementara komentator lain menyebut: “Tapi takut dimiskinkan.”
Kartunis M. Qomarudin menuding situasi buruk ini bisa terjadi lewat sosok setan dengan gestur mengancam rakyat jelata di depannya. Pada tubuh sosok setan itu terdapat teks: “Sekarang kita dijajah Oligarki Korupsi Pungli DLL”.
Karya kartun lainnya mengeksplorasi narasi proyek Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan alokasi anggaran tahun 2026 sebesar Rp 268 triliun yang menghasilkan korban keracunan sebanyak 40.759 orang sejak dimulainya program MBG pada awal tahun 2025 hingga awal Agustus 2026. Karya kartun M Najib mengangkat narasi korupsi pada program MBG lewat sosok berseragam narapidana kaget melihat dari tembok Dapur MBG yang dibobolnya keluar empat ekor tikus. Karya ini mengingatkan pada kasus korupsi proyek MBG yang kini menjadi tersangka yakni Dadan Hindayana (Mantan Kepala Badan Gizi Nasional), dua wakilnya dan seorang jendral polisi.
Isu lain yang diangkat peserta pameran adalah pembangunan gedung Koperasi Merah Putih yang kini sudah mencapai belasan ribu unit dan terus dikebut oleh pemerintah dari target sekitar 80 ribu unit di seluruh Indonesia. Anehnya koperasi ini dibangun di lokasi terpencil yang jauh dari permukiman penduduk sebagaimana karya kartun M Najib berupa citraan figur tiga pendaki gunung yang bingung dan kaget menemukan gedung Koperasi Merah Putih berada di puncak gunung yang mereka daki.
Karya kartun Agus Widodo seperti menutup wajah suram Indonesia akibat praktek korupsi, kolusi, nepotisme lewat sosok figur bertubuh tambun memegang bungkusan bersi uang dolar dan saku jaket yang penuh lembaran duit, dengan bentuk layang- layang bertuliskan: masa depan Indonesia. Sementara di bagian bawah ada sosok figur dengan ekspresi kemarahan menebas tubuh sang koruptor dengan bendera merah putih.
Kartun pada pameran ini mengingatkan pada karikatur dan kartun editorial di Harian Kompas dan di majalah Tempo. Sosok Om Pasikom yang berkacamata tebal dan berpeci ini menyampaikan kritik sosial-politik secara santai, cerdas, dan tajam oleh karikaturis legendaris G.M. Sudarta sejak tahun 1967 di koran Kompas.
Adapun majalah Tempo selain menyajikan karikatur berisi kritik tajam yang mengangkat isu korupsi, kebijakan publik, hingga dinamika kekuasaan pejabat tinggi, Tempo juga membuat sampul depan majalah ini dengan bentuk karakter kartun, sebagaimana kartun wajah Presiden ketujuh Joko Widodo dengan citraan bayangan dirinya di sebelahnya dengan hidung panjang bak figur Pinokio dengan judul liputan utama “Janji Tinggal Janji” pada edisi 16-22 September 2019. Kover depan Tempo ini dipermasalahkan Ketua Relawan Jokowi Mania, Joman Immanuel Ebenezer, yang belakangan divonis hakim empat tahun enam bulan penjara dan denda Rp 200 juta di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Juni 2026, karena terbukti bersalah melakukan korupsi dan pemerasan saat menjabat sebagai Wakil Menteri Ketenagakerjaan. Noel, panggilan Ebenezer yang juga Ketua Relawan Prabowo Mania ini melaporkan Tempo ke Dewan Pers dengan tuduhan penghinaan. Tapi tuduhan itu dibantah Redaktur Eksekutif Majalah Tempo Setriyarsa. “Tempo tidak pernah menghina kepala negara sebagaimana dituduhkan. Tempo tidak menggambarkan Presiden sebagai pinokio. Yang tergambar adalah bayangan pinokio,” kata Setri sebagaimana dikutip Tempo.co, 16 September 2019.
Karya visual berupa karikatur dan kartun memang berpotensi menimbulkan masalah hukum, meskipun sebagai karya jurnalistik juga dilengkapi dengan deretan teks tertulis sesuai dengan etika jurnalistik: keberimbangan berita.■ Raihul Fadjri