Jejak Lanskap Irlandia Lewat Karya Enam Perupa

Pameran seni rupa yang merefleksikan jejak kultural kehidupan pada lanskap Irlandia masa kini.

Sejarah & Budaya156 Dilihat

Sejumlah karya pada pameran The Inprint of The Irish Landscape. Foto: Dok. dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Jejak Lanskap Irlandia menghadirkan enam perupa Irlandia yang praktiknya disatukan oleh ketertarikan mendalam terhadap lanskap Irlandia, siklus organik, serta lapisan sejarah yang tertanam di dalam tanahnya. Selain di Jakarta, pameran ini juga digelar di Ruang Dalam Art House, Yogyakarta, pada pameran bertajuk The Imprint of The Irish Lanscape, 17 Juni – 15 Juli 2026.

Pameran ini merefleksikan jejak kultural kehidupan pada lanskap Irlandia masa kini. “Di jantung pameran ini terdapat ketertarikan bersama terhadap ruh suatu tempat,” ujar Mark Toyee, kurator pameran. Karya yang dipamerkan merentang lintas generasi, dari abstraksi spiritual mendiang Tony O’Malley hingga eksplorasi berbasis lensa atas mitologi Irlandia oleh Charlie Dineen.

Tony O’Malley (1913-2003) dipandang sebagai figur spiritual dalam seni rupa
Irlandia. Ia termasuk generasi pelopor yang memadukan perkembangan abstraksi pascaperang dengan sensibilitas ruang yang sangat Irlandia—khususnya dunia abad pertengahan di County Kilkenny, tanah kelahirannya.

Melalui corak citraan bentuk abstrak, ia menggali esensi lokasi historis seperti Jerpoint Abbey berupa komposisi blok warna hitam, merah, putih, biru pada karya grafis dengan tehnik teknik carborundum, metode cetak yang digemari perupa  karena mampu menangkap gestur dan tekstur yang kaya (Haria 1, 2, 2001). “Karya lirisnya terhubung erat dengan lanskap Irlandia, menghadirkan ritme dan karakter alam,” kata Mark Toyee.

Corak abstrak juga dieksplorasi Gwen O’Dowd (1957) dengan mengolah elemen elemental—tepi samudra, gesekan laut dan daratan, air dan batu, serta rekahan bumi yang dalam—mentransformasikan geografi menjadi abstraksi emotif lewat karya grafis berupa komposisi terpisah warna merah, hitam dan biru (Lunen 1, 2020).

Di County Carlow, Cora Cummins berkarya lewat medium cetak untuk mengeksplorasi gagasan tentang perubahan. Praktiknya berakar pada lanskap yang sunyi di daerah asalnya, sekaligus menelaah lanskap psikologis kehilangan personal serta bagaimana rasa duka beririsan dengan bahasa geografis lewat karya grafis dengan tehnik etsa berupa citraan bentuk bangunan memanjang di atas hamparan lanskap hijau (Factory Mountain, 2008). Ada juga bentuk rumah dalam warna hitam di tengah lanskap dengan jejeran pepohonan (Club House, 2008).

Cliona Doyle (1968) menghadirkan etsa botani dan cetakan carborundum dengan ketelitian tinggi terhadap flora Irlandia. Representasinya atas hawthorn (pohon berduri  yang menghasilkan buah beri kecil), buah kebun, dan anggrek liar melampaui sekadar still life; karya- karya itu merayakan musim serta keteguhan sunyi dunia alami yang dibentuk oleh iklim sedang Irlandia (Pear ‘Louise Bonne’, 2018). Praktiknya berfokus pada kehadiran dan pengalaman langsung di alam. Ia kerap bekerja di ruang terbuka menghasilkan karya grafis etsa tembaga sulfat dan pelat carborundum. Dalam tubuh karya terbarunya, ia memelopori penggunaan material ramah lingkungan dan teknik etsa berkesadaran ekologis, merefleksikan komitmennya terhadap tanggung jawab lingkungan bersama.

Robert Russell, seorang master cetak ternama, menggali resonansi sastra dan sejarah yang tersebar di lanskap urban Irlandia. Tekniknya yang presisi menghadirkan adegan signifikan, seperti cahaya fajar dan senja di Phoenix Park, taman kota tertutup terbesar di Eropa. Karya grafis etsanya mengundang pengalaman kontemplatif, seakan berjalan menyusuri ruang berhutan  menghadirkan corak realisme yang melampaui waktu berupa lanskap pepohonan dalam komposisi warna hijau monokrom (Marshland Mist, 2025)

Adapun Charlie Dineen lewat karya film hitam putih merekam lanskap purba Paps of Anú di County Kerry (The City Beneath Me, 2025). Anú, dewi kesuburan dalam tradisi Keltik, dihormati oleh komunitas agraris pra-Kristen sebagai pelindung ternak dan kesehatan. Pada masa itu, gunung-gunung suci dipuja sebagai sumber kesejahteraan bagi tanah dan kehidupan masyarakat sekitarnya.■ Raihul Fadjri