
Jakarta, dialoguejakarta.com – Hari Ulang Tahun Kota Jakarta yang ke 499 tahun 2026 dirayakan komunitas Perupa Jakarta Raya (PERUJA) lewat pameran bertajuk Semau Gue di Balai Budaya Jakarta, 25 Juni – 4 Juli 2026.
“Semau Gue adalah frasa bahasa gaul sehari-hari di Jakarta yang akrab dan sering kita mendengarnya. Berarti sesuka hati. Dalam konteks berkesenian berarti sesuatu hal yang berkonotasi imajinasi tanpa batas,” ujar Rindy Atmoko, Ketua Pelaksana Pameran.
Menurut Rindy, seni yang bebas secara imajinasi adalah eksplorasi tanpa batas. “Penciptaan karya yang menembus
logika melalui teknik kontemporer, ataupun kolase yang menggabungkan benda sehari-hari, foto maupun tulisan tangan untuk menciptakan narasi baru,” katanya.
Sejumlah karya menggunakan simbol-simbol populer Jakarta, antara lain citraan bentuk Monumen Nasional (Monas), patung Selamat Datang, dan jejeran gedung menjulang. Ada karya lukis cat air berupa bentuk buaya dengan latar belakang bangunan heritage dan jejeran gedung tinggi menjulang (Cindy A. Budiono, Roti Buaya, 2026).
Ada lukisan bercorak pop art berupa bentuk Tugu Monas di tengan bangunan lain (Rindy, Urban Life, 2026). Atau karya grafis dalam warna monokrom berupa suasana jalan yang padat kenderaan, ada figur yang mengangkat sepeda motor menyeberang tembok pembatas jalan (Susi Neklin, Nyebrang, 2026). Waktu menjadi komoditas yang mahal di Jakarta. Akibatnya, pelanggaran lalu lintas sering dianggap sebagai jalan pintas yang dapat dimaklumi. “Di sinilah mentalitas ‘semau gue’ menemukan pembenarannya,” ujar Mayek Prayitno, pengamat seni rupa.
Jakarta juga dikenal sebagai kawasan urban yang punya akar kultur Betawi. Populasi suku Betawi saat ini 6,8 juta jiwa, sebanyak 76 persen menetap di Kota Jakarta.
Yang menarik dari segi etnografi, suku Betawi terbentuk lewat proses asimilasi dari berbagai budaya, termasuk Sunda, Jawa, Melayu, Bugis, Ambon, Manado, Makassar, Arab, Tionghoa, India, dan Eropa, sehingga menciptakan identitas budaya yang unik. Tak heran salah satu karya pada pameran ini punya akar Tionghoa lewat budaya encim sebagai hasil akulturasi budaya Betawi dan Tionghoa pada abad ke-19 yang muncul pada karya lukis Nuryanah berupa sosok perempuan dalam gestur menari memakai kebaya encim (Encim Encing, 2026).
Pada pameran ini muncul tradisi Betawi Ondel-ondel lewat karya lukis Kartika Agst berupa empat bentuk topeng dalam komposisi warna kuat (Neo Ondel, 2026). Ada juga potret wajah Benyamin Sueb (1939-1995) sosok legenda seni dan ikon budaya Betawi (Feriendar, Mukelu Jauh, 2026).
Keberagaman narasi tentang Jakarta ini menjadi cerminan praktik demokrasi yang sehat, yakni melihat perbedaan tetap hidup tanpa harus saling menegasi. “Semau Gue adalah sebuah potret tentang zaman yang sedang kita hidupi,” kata Mayek Prayitno.■ Raihul Fadjri