Merayakan Abstrakisme Seni Rupa Lewat Ragam Corak Karya Seni Rupa Abstrak

Ruang pameran membawa penonton ke memori masa lalu ketika melihat karya pelopor lukisan abstrak dari ITB hingga karya lukis seniman senior dari ASRI Yogyakarta.

Sejarah & Budaya247 Dilihat

 

Sejumlah karya lukis pada pameran Dari Abstrak ke Abstrakisme. Foto: dokumentasi Salihara/ dialoguejakarta.com

Jakarta, dialoguejakarta.com – Bayangkan ketika penonton pameran masuk ke dalam ruang yang semuanya berisi karya seni rupa bercorak abstrak. Pengunjung pameran melihat puluhan karya seni lukis abstrak berjejer tergantung di dinding hanya melihat komposisi berbagai warna lewat sapuan kuas atau berbagai bentuk geometris dan struktur garis lurus maupun melengkung, bahkan tanpa ada judul karya yang mungkin bisa menggiring persepsi pada makna visual tertentu.

Seni lukis abstrak memang tidak membawa orang pada persepsi kebentukan yang mewakili bentuk tertentu, atau apa yang dikenal dengan diksi non representasional, meskipun sejumlah pelukis abstrak masih menampilkan citraan bentuk yang mengarah ke bentuk representasional.

Karya semacam inilah yang dipajang pada pameran bertajuk ‘Dari Abstrak ke Abstrakisme’ di ruang pamer Komunitas Salihara Art Centre, Jakarta, 16 Jan – 22 Februari 2026. Ruang pameran bak membawa penonton ke memori masa lalu ketika melihat karya para pelukis dari Institut Teknologi Bandung (ITB), antara lain karya A.D. Pirous, G. Sidharta Soegijo, Mochtar Apin, Umi Dachlan, Kaboel Suadi, Amrizal Salayan, hingga ke generasi lebih baru: Gabriel Aries, Galih Adika Paripurna, Mujahidin Nurrahman.

Bahkan pada pameran ini juga dipajang sejumlah lukisan bercorak abstrak dalam komposisi warna-warna cerah karya Simon Admiraal, salah seorang perintis pendidikan seni di ITB pada 1947 (Ongewoon Lanscape, 1968). Pria berdarah indo inilah yang merancang pendirian pendidikan seni rupa di Universitarie Leergang Voor de Opleiding van Tekenleraren atau Balai Pendidikan Universiter Guru Gambar di bawah naungan Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik Universitas Indonesia di Bandung yang kini menjadi Fakultas Seni Rupa ITB. “Simon Admiraal, selain Ries Mulder, adalah pihak yang mengenalkan karya-karya bercorak abstraksi ini melalui pendidikan seni rupa di Bandung,” ujar Asikin Hasan, kurator pameran seni rupa abstrak ini.

Bak perayaan seni rupa abstrak, pameran ini menampilkan lebih dari 80 karya para pelukis senior abstrak yang dibuat mulai tahun 1950-an hingga 2025 dari beberapa periodeisasi generasi. Sebagian besar berbentuk dua dimensi (lukisan), sebagian kecil karya tiga dimensi (patung) dengan membentangkan kecenderungan bentuk abstraksi yang menjadi fenomena abstrakisme. Karya yang dipamerkan ada yang diberi judul karya, seolah menarasikan bentuk abstrak yang dihadirkan, tapi ada juga tanpa judul karya yang membebaskan orang lain memberi narasi sesuai dengan rasa yang diperoleh dari eksplorasi elemen rupa karya abstrak.

Ada karya lukis Mochtar Apin (1923-1994) berupa abstraksi bentuk gunung dengan struktur garis (Gunung Meletus, 1987), ada karya Kaboel Suadi (1935-2010) yang masih menyisakan bentuk representasional (Untitled, 1960), juga karya lukis Abdul Djalil Pirous (1932-2024) berupa abstraksi lanskap alam yang dibentuk dari susunan garis dan komposisi warna yang lembut (Pemandangan 12, Biru Sureleum, 2001). Atau karya lukis G. Sidharta (1932-2006) berupa komposisi bentuk geometris lewat torehan garis (Lalu Lintas Malam, 1960), dan karya Umi Dachlan (1942-2009) yang sepenuhnya mengeksplorasi bentuk abstrak (Bidang Baru dengan Bongkahan Emas, 1990).

Dalam perjalanannya abstraksi dan abstrakisme tidak melulu berkembang di ITB, bahkan muncul di kalangan seniman dari Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Yogyakarta, yang dikenal dengan karya bercorak realisme. “Abstrakisme terus tumbuh di pelbagai tempat dengan corak yang khas,” kata Asikin Hasan. Sebagaimana terlihat pada karya lukis Aming Prayitno (1943-2023) berupa abstrakai bentuk figur (Kehidupan, 1988), Lian Sahar (1933-2010) yang bertumpu pada komposisi garis berupa citraan bentuk wajah (Tanpa Judul, 1994) Fadjar Sidik (1930-2004) dengan komposisi bentuk geometris (Untitled, 1995).

Seni lukis abstrak bahkan, muncul juga pada generasi baru yang didasari penjelajahan gagasan dan kajian mendalam pada material, sebagaimana patung abstrak karya Gabriel Aries (Temu, 2024) dan karya Endang Lestari berupa susunan tekstur bercorak abstrak dari bahan terakota di atas kanvas (Measured Silence, 2026). “Di masa kini, abstraksi dan abstrakisme itu makin cair, tidak lagi sepenuhnya mencerminkan asal-usul tempat dan lingkungan pendidikan yang sempit, melainkan sebuah cakrawala yang luas,” ujar Asikin Hasan.■ Raihul Fadjri