Ragam Dokumen Menjadi Inspirasi Karya Lukis

Syam Terrajana memungut dokumen lama dan mengkolase ribuan ingatannya tentang masa lalu menjadi karya seni lukis.

 

Ibu, Peluru dan Tepian Biru, 2025-2026. Foto: dokumentasi Syam Terrajana/ dialoguejakarta.com

Jakarta, dialoguejakarta.com – Masih ingat Ibrahim Datuk Sutan Malaka atau juga dikenal sebagai Tan Malaka (1897 – 1949)? Sosok nasionalis yang dikenal sebagai Pahlawan Nasional ini ironisnya ditembak mati oleh aparat bangsanya sendiri pada 1949. Tan Malaka dikenal sebagai Bapak Republik Indonesia karena ia adalah tokoh pertama yang menggagas konsep negara Republik Indonesia melalui bukunya, Naar de Republiek Indonesia (1925).

Sosok Tan Malaka (1897 – 1949) muncul pada karya lukis Syam Terrajana yang dipajang pada pameran tunggal bertajuk “Ibu, Peluru dan Tepian Biru” di Jakarta Art Hub Ranuza, 18 April – 30 Mei 2026. “Lukisan tentang Tan Malaka ini untuk penghormatan bagi segelintir generasi kini yang belajar sejarah dan akhirnya terbuka mata dan pikirannya untuk menghadapi hari ini,” ujar Syam.

Pada karya ini Syam menampilkan potret Tan Malaka dengan wajah ditutup sapuan kuas tebal, bentuk rumah gadang, bangunan tradisional Minang (Hymne Bawah Tanah, 2025-2026).

Pada pameran ini Syam memajang 12 karya lukis bercorak abstrak figuratif dengan komposisi warna cerah yang menyegarkan mata untuk mengeksplorasi narasi sejarah. “Karya-karya dalam pameran ini merupakan kumpulan kepingan kisah. Saya menemukannya dimana-dimana. Pada buku-buku, majalah dan surat kabar tua yang saya baca, pada foto-foto lama yang entah dari mana dan siapa,” kata pria kelahiran Gorontalo pada 1982 ini.

Bak seorang pemulung, Syam memungut dokumen lama seperti bocah sedang tamasya di belantara memori. “Saya begitu berhasrat memetik, menggunting dan menumpuk. Tanpa saya sadar benar, ternyata saya sedang mengkolase ribuan ingatan,” ujar Syam.

Judul pameran “Ibu, Peluru, dan Tepian Biru” terdiri dari tiga elemen: “Ibu” merujuk pada sosok pencipta dan pelindung dalam rumah tangga, atau “Ibu Pertiwi” untuk menyebut tanah tumpah darah.

“Peluru” adalah sesuatu yang begitu kecil, tapi mengandung kekuatan maha hebat. Sedangkan “Tepian Biru” sebuah tafsir dan ekspresi dari garis horizon. Tempat dimana hari bermula dan berakhir yang mewakili satu harapan (Ibu, Peluru, dan Tepian Biru, 2025 – 2026). “Ini kisah kaum perempuan sebagai tumpuan kehidupan yang bertahan dengan sisa alam yang dia punya,” kata Syam.

Pada karya lain Syam mengeksplorasi perbedaan gender lewat sosok perempuan terbaring seperti sedang dipijat tubuhnya oleh perempuan lain, sementara di bagian depan ada bayangan sosok lelaki memakai topi baja sedang mengarahkan senapannya ke atas dengan gestur siap bertempur (Perang dan Rembulan, 2026). “Ini cerita kontras antara perang sebagai hasrat laki laki dan rembulan sebagai representasi perempuan,” ujar Syam.

Syam Terrajana adalah seniman multidisipliner. Sebelum menenteng profesi pelukis, dia telah berkecimpung di dunia pertunjukan, sastra, bahkan jurnalisme, dimana semua itu menyalurkan ketertarikannya terhadap sejarah dari masa kecilnya yang dikelilingi oleh buku.

Sejak usia belia, Syam sudah gemar bacaan sejarah, biografi, dan seni sastra. Selain membaca sejarah, ketertarikannya pun mencakup sejarah
keluarga. Dia sering mencari album foto
keluarga, membalik halaman satu demi satu dan menanyakan tentang identitas figur yang menarik.■ Raihul Fadjri