Perjalanan Estetika Visual Seorang Kepala Dukuh Lewat Narasi Lingkungan

Abdul Haris merekam suasana kehidupan di sekitarnya lewat karya lukis bercorak impresionis yang sudah jarang dipakai seniman.

Sejarah & Budaya231 Dilihat

 

Salah satu karya lukis Abdul Haris (Merapi, 2025). Foto: dokumentasi Abdul Haris/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Ketika seni rupa kontemporer menjadi genre seni rupa arus utama saat ini, kehadiran genre seni lukis impresionis yang berkembang pada akhir abad ke-19 menjadi suatu hal yang langka dan istimewa saat ini. Hal inilah yang muncul pada pameran bertajuk ‘Merdukuh’ karya Abdul Haris, di Laku Artspace, Yogyakarta, 7 – 14 Februari 2026

Abdul Haris (1967) mengeksplorasi corak lukisan impresionis yang menangkap kesan visual sesaat (impresi) dari elemen cahaya dan warna dengan sapuan kuas pendek yang terlihat jelas pada 25 karya lukisnya. Dia mengangkat tema lukisan yang mengesankan kesederhanaan kehidupan, berupa tema lingkungan di masa kecilnya, juga karya on the spot dengan menangkap apa yang ada didepannya. “Aku mengungkapkan ekpresi nurani hatiku dengan penuh keceriaan,” ujar Abdul Haris, pelukis yang sudah 18 tahun menjabat sebagai Kepala Dukuh di desanya. “Prinsipku, melukis adalah kebahagian.”

Dari prinsip estetik seperti itulah muncul sebagian karya lukis dengan narasi bak mengenang suasana desanya yang masih asri pada masa lalu di Dukuh Wiyoro, Baturetno, Banguntapan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, lewat karya seri bertajuk ‘Kampungku Tempoe Doeloe’. “Kini kampungku sudah seperti kawasan perkotaan,” ujar Abdul Haris yang berlatar belakang pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta.

Ada citraan dua rumah di pedesaan dengan sejumlah figur seperti sedang berinteraksi di bawah kerindangan pepohonan (Kampungku Tempoe Doeloe #1, 2025). Ada juga citraan tiga ekor sapi bak sedang menikmati keheningan suasana desa di lingkungan yang terasa sejuk (Kampungku Tempoe Doeloe #2, 2025). Atau citraan figur petani sedang membajak sawah yang di bantu seekor sapi dengan latar lanskap hamparan sawah dan perbukitan (Kampungku Tempoe Doeloe #3, 2025). Sebaliknya dia juga menghadirkan suasana kampungnya yang saat ini sudah berubah dengan kehadiran bangunan moderen dan deretan mobil sedan bak sedang berusaha melewati becak dayung di depannya (Terpinggirkan, 2024).

Sebagian karya lukis lainnya berupa lanskap di tempat di wilayah pesisir Kabupaten Bantul. Ada keramaian di tepi pantai dengan perahu yang tertambat dan sejumlah figur yang membawa ikan hasil tangkapan (Pasar Ikan, 2025). Ada juga empat figur di tepi pantai sedang mendorong perahu dengan sekuat tenaga di tengah gejolak ombak laut (Holobis Kontul Baris, 2025).

Abdul Haris juga ‘merekam’ suasana hening di salah satu tempat wisata alam berupa citraan bentuk rumah dengan jejeran pohon rindang di sekitarnya (Lintang Sewu, 2025). Ada juga hamparan kehijauan pepohonan dan gunung menjulang di belakangnya dengan keindahan latar kebiruan langit (Merapi, 2025).

Perjalanan catatan visual Abdul Haris masih berlanjut lewat situs arkeologi berupa tiga struktur bangunan candi Hindu dengan latar kehijauan pepohonan yang berlokasi di Kasongan, Bantul, dekat dengan sentra kerajinan gerabah (Tirto Raharjo, 2025).

Pada karya lukisnya yang lain, Abdul Haris bak sedang rehat dalam perjalanan visualnya pada pameran ini dengan menghadirkan citraan perangkat untuk merebus air minum — ceret — di atas tungku dengan api menyala di bawahnya, seperti merayakan pameran tunggal ini (Ngopi Dab, 2025). Satu langkah perjalanan estetika visual impresionistik sang Kepala Dukuh telah dimulai, dan kelak menyusul langkah berikutnya.■ Raihul Fadjri