Sastra Bulan Purnama Luncurkan Puisi Humor Politik: Kitab Omon-Omon

Sejarah & Budaya504 Dilihat

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Setelah Prabowo Subianto memviralkan diksi omon-omon dalam ranah politik saat berlangsung debat calon Presiden 2024 lalu, kini diksi omon-omon itu dipakai pegiat sastra sebagai tema kumpulan puisi berbau humor politik yang diterbitkan dalam buku kumpulan puisi bertajuk: Kitab Omon-Omon.

Penerbitan buku puisi ini merupakan kerjasama kelompok Sastra Bulan Purnama dengan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) APMD, Yogyakarta. Sastra Bulan Purnama edisi 170, akan diisi acara peluncuran buku puisi Kitab Omon-Omon pada Sabtu, 22 Nopember 2025, pukul 15.30 di aula STPMD APMD Jalan Timoho No.317, Baciro, Kota Yogyakarta.

“Lebih dari 200 puisi yang masuk, dan dipilih 100-an puisi untuk diterbitkan menjadi buku dan diberi judul: Kitab Omon-Omon,” ujar Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama, Senin 17 November 2025.

Salah seorang penyair dari Madiun, Asti Musman, menulis puisi humor politik pada buku ini berjudul ‘Sumpah Singgasana’. Berikut sepenggal kutipannya:

“Katanya demi bangsa, demi rakyat jelata
padahal demi celengan di balik meja kerja
Baru duduk sebentar di kursi empuk istana
eh… sudah digiring KPK ke lapak derita”.

Tema puisi Humor Politik ini diusulkan Tri Agus Susanto Siswowijarjo, dosen Program Jurusan Komunikasi STPMD. Menurut Tri Agus, humor dalam politik seringkali menjadi momen yang paling diingat oleh publik. Di media sosial, potongan video yang menampilkan politisi melontarkan lelucon sering menjadi viral, menarik perhatian jutaan warganet.

“Momen-momen ini memperkuat citra politisi sebagai sosok yang menyenangkan. Dengan bantuan humor, politisi berhasil menciptakan hubungan yang lebih akrab dengan masyarakat, membuat publik merasa lebih dekat dan mendukung mereka dengan lebih antusias”, ujar Tri Agus Susanto.

Abidin Fikri, Anggota DPR RI mengatakan, ruang politik tidak pernah sepi dari humor, dalam ketegangan seringkali muncul celetukan jenaka, sehingga suasana kembali akrab. “Politik tidak alergi terhadap humor, mudah kita temukan politisi yang sering menampilkan humor, bahkan sindiran, sehingga kualitas humornya tidak kosong atau malah konyol. Melalui puisi, para penyair mengajak humor kepada politisi, bagi saya ini menyenangkan,” kata Abidin Fikri yang juga Ketua Abidin Fikri Pandjialam Foundation.

Ons Untoro, Koordinator Sastra Bulan Purnama, penyelenggara acara ini mengatakan, menulis puisi humor tidak gampang, lebih sering ditemukan puisi kritik sosial, sehingga seringkali dalam puisi humor politik, bobot kritik sosialnya lebih tebal ketimbang humornya. “Namun, dalam puisi kritik sosial, kita tetap bisa tersenyum dan tertawa, meskipun tidak harus terpingkal”, ujar Ons Untoro.

Penyair yang puisinya masuk dalam buku ‘Kitab Omon-Omon’ berasal dari berbagai kota di Indonesia: Jakarta, Bekasi, Serang, Bandung, Bogor, Majalengka, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Purwokerto, Cilacap, Purworejo, Yogyakarta, Magelang, Temanggung, Demak, Solo, Sragen, Sidoarjo, Madiun, Surabaya, Malang, Madura. Bali, Pekanbaru, Lampung dan sejumlah kota lain.

Adapun 20-an penyair yang akan hadir diantaranya: Yonas Suharyono (Cilacap), Lebe (Brebes), Ag. Andoyo Sulyantoro (Purbalingga), Acep Syahril (Indramayu), Selsa (Temanggung), Mulyadi J. Amalik (Surabaya), Toto S.Radik (Serang), Fajrul Alam (Purwokerto), Indri Kartika Putri (Magelang), Sabatina, Yuliani Kumudaswari, Purwanti, Heru Marwata, Mustofa W. Hasyim, Marwanto, Enes Pribadi, Dalle Dalminto, Afnan Malay, Sutirman Eka Ardhana (Yogyakarta), Yogira Yogaswara (Bandung) dan beberapa nama lain.■Raihul Fadjri