Dua Penyair Yogyakarta Luncurkan Buku Puisi Sastra Bulan Purnama

Karya puisi dua penyair berisi narasi tentang ingatan masa lalu dan proses merawat sebagai ritual tapa pendhem.

Sejarah & Budaya129 Dilihat

 

Buku puisi karya Marjuddin Suaeb dan Sutirman Eka Ardhana. Foto: dokumentasi Sastra Bulan Purnama/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Dua penyair Yogya, yang aktif menulis sejak Persada Studi Klub (PSK) asuhan penyair Umbu Landu Paranggi, tahun 1970-an, akan tampil di acara Sastra Bulan Purnama edisi 174. Dua penyair itu, Sutirman Eka Ardhana (74 tahun), dan Marjuddin Suaeb (72 tahun). Keduanya akan meluncurkan buku puisi karya masing-masing. Sutirman Eka Ardhana bukunya berjudul ‘Amuk Kenang’ berisi 74 puisi sesuai usianya, dan Marjuddin Suaeb bukunya berjudul ‘Tapa Pendhem’ berisi 72 puisi, sesuai umurnya. Selain dibacakan oleh sang penyair, puisi mereka juga akan dibacakan oleh pembaca lain.

Sastra Bulan Purnama dalam rilisnya pada Jumat 6 Maret 2026, menyebutkan kedua buku tersebut akan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama, Sabtu 14 Maret 2026, pukul 15.30 di Museum Sandi Jalan Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasi Museum Sandi ini di utara Raminten dan Balai Bahasa Yogyakarta, atau sebelah barat SMA Stella Duce 1, atau juga di sebelah selatan penjual ban Gondolayu.

Puisi karya Sutirman Eka Ardhana akan dibacakan Oka Swastika Mahendra, Amastasia, Muhammad Sheva Athaya, Noviyanti Alfitri. Adapun puisi Marjuddin Suaeb akan dibacakan Krishna Miharja, Dwi Winarno, Ray Sawit, Fathia Sari Buana Jajayanti dan Tari Sudhiarto. Hadir juga pembaca tamu, Tuntas Subagyo, seorang produser film.

Selain dibacakan, penyair Joshua Igho akan menggarap puisi Sutirman Eka Ardhana dan Marjuddin Sueab, masing-masing satu puisi menjadi lagu. Sebagai selingan, Bimo Wiwohatmo, koreografer, akan melantunkan satu lagu puisi karya almarhum Remy Sylado.

Sutirman Eka Ardhana kelahiran Bengkalis, Riau, merasa masa lalu di tanah kelahiran, terus memburu, seperti tak mau lepas dari ingatan. Berbagai macam kenangan, termasuk kenangan tinggal di Kebumen dan Yogya, terus mengisi ingatannya. “Saya seperti diamuk oleh kenangan masa lalu saya, di tanah kelahiran maupun kampung halaman yang pernah saya tinggali. Kenangan jalan hidupnya seperti terus memburunya,” kata Sutirman Eka Ardhana.

Sedang Marjuddin Suaeb, yang lahir dan tinggal di Pengasih, Kulonprogo, bukunya berjudul ‘Tapa Pendhem’, selain hidupnya selalu menjalani puasa setiap hari. Dia juga mengambil jalan sepi: beberapa tahun merawat hidupnya yang sudah tua, dan tidak bisa melakukan aktivitas. Proses merawat ibunya itu dia renungkan sebagai menjalani tapa pendhem. “Macam-macam jenis puasa saya lakukan, bukan untuk mencari kesaktian, lebih untuk melatih batin saya agar bisa semeleh dalam menjalani hidup,” kata Marjuddin.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, Sutirman Eka Ardhana dan Marjuddin Suaeb, dua penyair Persada Studi Klub, dari banyak penyair pada masa itu, sampai sekarang masih terus menulis puisi. Teman seangkatan di Persada Stud Klub di antaranya Emha Ainun Najib, Fauzi Absal, almarhum Linus Suryadi AG dan sejumlah nama lain. “Marjuddin hanya suntuk dengan puisi, tidak menulis yang lain. Adapun Sutirman Eka Ardhana, selain menulis puisi, juga menulis cerpen dan novel. Eka juga aktif sebagai jurnalis. Sastra dan kerja jurnalistik dia lakukan secara bersamaan, dan di era digital ini, Eka terus menulis karya sastra,” ujar Ons Untoro.■ Raihul Fadjri

Adv Banner

Komentar