Pemaparan Narasi Konflik Sosial-Politik Lewat Karya Seni Rupa

Perupa Jimmy Silaen menyuguhkan realitas sosial-ekonomi masyarakat kelas bawah dengan cara yang tak biasa.

Sejarah & Budaya232 Dilihat

 

Karya Jimmy Silaen (Over Limit, 2023). Foto: dokumentasi Jimmy Silaen/ dialoguejakarta.com

Jakarta, dialoguejakarta.com – Found object atau benda temuan atau umum disebut barang bekas adalah salah satu media dalam mewujudkan karya seni rupa. Pada karya Jimmy Silaen, barang bekas tak cuma sekadar media, tapi juga mengandung narasi tentang sesuatu yang terbuang setelah dipakai fungsinya. Narasi inilah yang tampak pada karya Jimmy Silaen yang dipajang pada pameran tunggal bertajuk ‘Jejak Laen Perjalanan’ di Rasaharsa Coffe, Jakarta Timur, 15 Feb – 8 Maret 2026.

Frasa Silaen pada nama Jimmy yang menjadi salah satu kata dalam judul pameran ini tidak sekadar identitas marga dalam suku Batak Toba, tapi seolah menjadi makna ada sesuatu yang berbeda, yang dalam Bahasa Indonesia disebut: lain. Dalam pengucapan khas masyarakat Sumatera Utara kata lain diucapkan laen.

Cara Jimmy mengekspresikan gagasan memang dieksplorasi ke dalam bentuk tak biasa, lain, yang membawa penonton karyanya ke realitas lebih nyata. Dia menggunakan media found object dari beberapa properti film yang tidak dipakai, sebagian dari benda temuan, dan separuhnya dia ciptakan sendiri lewat eksperimen. Timbunan benda ini dikreasi ulang, diaduk, dikombinasi, dicangkok, dicampur, diinstal sedemikian rupa, ditata dan dibentuk, hasilnya seperti karya dua dimensi dengan citraan detil corak hyperrealis. “Ia menggunakan apa saja, sejauh benda itu mampu menimbulkan cita rasa estetik yang tidak biasa,” ujar Mayek Prayitno, kurator pameran ini.

Perupa kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara pada 1979 ini, menarasikan ledakan populasi yang tak terkontrol lewat citraan struktur bangunan yang saling tindih. Di balik dinding seng dan kayu lapuk, tersimpan perjuangan yang sunyi: bertahan dalam ruang sempit, bermimpi dalam gelap. Langitnya hitam, tanahnya penuh, tapi harapan masih menyala di tengah keruwetan (Over Limit, 2023). “Ini bukan sekadar permukiman. Inilah potret manusia yang hidup dalam keterbatasan, namun tak pernah berhenti bertahan,” ujar Jimmy yang mengenyam pendidikan seni rupa di Institut Kesenian Jakarta.

Jimmy juga menyorot rumah dipinggiran kali Kota Jakarta yang terbuat dari susunan kayu, triplek dan seng. Rumah ini tidak nyaman, rapuh secara hukum dan konstruksi, namun dihuni oleh para
pejuang kehidupan untuk bertahan hidup. Ia tidak dilindungi dan kerap kali digusur demi jargon pembangunan dan kemajuan, sementara nasib penghuninya tidak pernah dianggap. “Karya ini merupakan representasi ketimpangan sosial dan ketidakadilan, yang nyata – nyata terjadi akibat dari menyimpangnya kebijakan politik. Jimmy memperlihatkan sisi empatik dan kepekaan sosialnya,” kata Mayek.

Yang juga menarik, Jimmy mengeksplorasi bentuk wajah dengan memakai found object— benda bekas– berupa kaleng minuman bersoda menjadi media untuk menghadirkan citraan bentuk wajah perempuan yang molek dengan bibir setengah terbuka dalam komposisi warna dominan merah menyala (So Sweet, 2026). “Judul Manis dalam karya ini bukan sekadar rasa, tetapi simbol rayuan. Seperti janji yang terdengar indah, seperti kata-kata lembut yang memabukkan,” kata Mayek.

Sosok perempuan hadir sebagai metafora godaan: menarik, memikat. Kaleng bekas itu menjadi ironi, sesuatu yang dikonsumsi demi kenikmatan sesaat, lalu ditinggalkan sebagai limbah. “So Sweet adalah kritik tentang hasrat dan ilusi tentang bagaimana yang tampak indah dan manis belum tentu menyehatkan, bahkan bisa perlahan menghancurkan.”

Jimmy juga menggunakan citraan bentuk wajah yang terancam ditusuk sejumlah benda runcing di sekitarnya sebagai metafora praktek pembungkaman aspirasi dalam kehidupan sosial-politik. Karya ini dibangun dengan materi logam yang berkarat dan ornamen tradisional yang rumit dari elemen mekanik, dikelilingi bentuk bentuk-bentuk figur bak situasi tegang penuh kemarahan dalam aksi demonstrasi antara aparat dengan massa (Senyap dalam Ingatan, 2025). Jimmy seolah mengajak orang merenungi bagaimana kekuasaan membentuk dan membungkam aspirasi rakyat.

Ekspresi yang lebih jelas dengan narasi konflik antara rakyat dengan penguasa ditegaskan lewat sosok tanpa wajah berselimut kain putih sebagai simbol dari mereka yang dipaksa diam dalam ketidakadilan. Suara dari korban kekerasan yang dibungkam oleh sistem yang seharusnya melindungi. Sapuan cat merah dan kuning menyala bak kobaran amarah dan darah. Di depannya ada citraan bentuk mobil taktis anti huru-hara dan garis polisi mengunci narasi, seolah mengingatkan: ini bukan lagi ruang aman. Ini adalah zona perlawanan sebagai penghormatan dan pernyataan bahwa meski tubuh bisa dihentikan, semangat perjuangan akan terus menyala (Rest in Power, 2025). “Karya ini adalah teriakan visual dari luka sosial yang menuntut kesadaran dan keberanian untuk tidak membiarkan ketidakadilan terus melaju tanpa arah,” ujar Mayek.

Jimmy tidak cuma menarasikan konflik vertikal antara massa rakyat dengan penguasa, tapi juga konflik horizontal antara sesama warga. Konflik sosial berbau SARA dalam masyarakat yang beragam identitas suku, ras dan agama muncul pada karya dua dimensi yang menampilkan citraan bangunan yang mengesankan bentuk rumah ibadah dalam komposisi warna gelap lewat sapuan kuas bertekstur berubah menjadi menyala dengan citraan kobaran api dengan asap hitam membumbung yang bakal menghaguskannya atas nama kebencian terhadap keimanan lain (Faith Burns Hatred, 2025).

“LAEN adalah perjalanan artistik yang setia pada suara batin, bekerja dalam diam, mengolah sisa, luka dan kegelisahan menjadi bentuk, makna dan sikap serta keyakinan yang dijaga,” ujar Jimmy Silaen.■ Raihul Fadjri

Komentar