Pameran Karya Lukis dan Karya Sulam Mia Bustam di Museum Vredeburg

Sejarah & Budaya547 Dilihat

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Khasanah seni rupa Kiri di Indonesia mengenal sosok Mia Bustam (1920 – 2011), seorang perempuan pelukis yang punya nama asli Sasmiyati Sri Mojoretno. Selain dikenal sebagai pelukis, Mia Bustam juga dikenal sebagai perempuan aktivis yang memperjuangkan hak-hak sosial dan politik perempuan di tengah dominasi kuasa patriarki.

Dari kiprahnya sebagai seniman dengan pilihan politik sosialisme dan aktivitasnya sebagai aktivis perempuan sejumlah karya lukis dan karya sulam Mia Busyam dipamerkan pada Biennale ke-8 Yogyakarta di Ruang Sultan Agung Museum Vredeburg Yogyakarta, 6 Oktober – 20 November 2025.

Kehidupan Mia bersinggungan dengan pelukis kondang yang dikenal sebagai pelopor seni moderen Indonesia Sindoedarsono Sudjojono (1913–1985). Mia dan Sudjojono menikah pada 1943, dan dikaruniai delapan anak. Tapi pernikahan mereka kandas pada 1959 karena sang suami ketahuan berselingkuh. Sejak itulah Mia menekuni dunia seni sepenuhnya. Ia kemudian bergabung dengan Seniman Indonesia Muda (SIM) dan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Pada 1963, Mia dipercaya memimpin LEKRA Yogyakarta.

Lukisan Potret Diri (1959) karyanya sempat dipamerkan keliling di Eropa Timur sebelum akhirnya hilang di tengah prahara anti-komunis 1965. Lukisan potret yang hilang ini dia lukis kembali pada tahun 2000 saat berusia 80 tahun. Pada lukisan itu, selain potret dirinya, ada juga sosok pria yang disebut sebagai Sudjojono pergi membawa koper sebagai momen perceraiannya dengan Sudjojono. Mia melukis karya ini memakai cat yang dibelikan Kartika Affandi.

Setelah Mia Bustam ‘menceraikan’ Sudjojono, dia hidup sebagai ibu tunggal dengan delapan anak, yang paling sulung berusia 15 tahun dan paling kecil empat tahun. Seorang ibu yang mengalami dilema ketika ingin memegang kuas sekaligus bayi. “Lagi momong bayi, eman tangane mambu cet, mesakake bocahe (sedang mengasuh bayi, sayang tangannya nanti bau cat, kasihan bayinya,” ujar Mia.

Selama 16 tahun kehidupannya dengan Sudjojono, dia terus-menerus melakukan kerja reproduksi fisik sekaligus perawatan, sementara sang suami leluasa berkarya dan menghidupi gelora berkeseniannya di ranah seni dan sosial politik sepanjang periode historis. Pengkhianatan terhadap komitmennya sebagai suami dan ayah terhadap istri dan anak-anaknya, rupanya juga dilakukan Sudjojono terhadap ideologi serta kawan-kawannya yang progresif. Akibatnya, Sudjojono dipecat dari keanggotaannya di DPR, juga dari Partai Komunis Indonesia (PKI) dan LEKRA.

Adapun Mia ditangkap di kediamannya pada 23 November 1965, di hadapan anak-anaknya. “Aku tidak mencium mereka. Aku tahu kalau aku mencium mereka aku akan menangis, dan aku tidak mau. Air mataku hanya untuk mereka yang kukasihi, tidak untuk diperlihatkan kepada mereka yang memusuhi diriku,” ujar Mia sebagaimana dikutip buku Dari Kamp ke Kamp (2008).

Ia mendekam selama 13,5 tahun tanpa proses peradilan di berbagai penjara perempuan di Jawa, termasuk Kamp Plantungan, hingga akhirnya bebas pada Juli 1978.

Di tengah dahsyatnya kemelut hidup, Mia gigih berkarya. Ia antara lain menciptakan Sriyoga Plantungan (sekitar 1971–1976) dan sulaman yang merupakan imajinasinya atas kunjungan cucu-cucunya ke Kamp Plantungan.

Tapi sebagian besar karya seninya lenyap akibat tragedi 1965–1966, impiannya menggelar pameran tunggal juga tak pernah terwujud. Kariernya terhenti akibat panjangnya masa penahanan dan kentalnya stigma sebagai mantan tahanan politik rezim Orde Baru.■ Raihul Fadjri

Komentar

Kolom Berita