Karya Seni Instalasi Penuhi Ruang Pameran

Karya perupa Komunitas Satu Titik bak hidangan pada pesta makan besar yang menyajikan hidangan istimewa untuk para pengunjung pameran.

Karya Instalasi Yoga Bobu (Batas, 2026). Foto: Raihul Fadjri/ dialoguejakarta.com

YOGYAKARTA, dialoguejakarta.com – Kelompok seni rupa Komunitas Satu Titik menghadirkan belasan karya instalasi, patung, seni lukis pada pameran bertajuk Andrawina 4 Meter Persegi (M²), di Jogja Gallery, Yogyakarta, 10 – 19 Oktober 2026. Andrawina yang berasal dari bahasa Sansakerta mengandung arti perjamuan resmi atau pesta makan besar yang menyajikan hidangan istimewa untuk para tamu. Pameran ini mengajak pengunjung melihat persoalan sehari-hari melalui sudut pandang berbeda.

Pada pameran ini perupa Yoga Bobo, membuat karya instalasi berupa struktur menjulang setinggi empat meter yang dibuat dari kayu bekas bongkaran atap rumah dan disusun menjadi rangkai kembali menjadi sebuah struktur baru. Struktur konstruksi  membatasi tubuh, namun pada saat yang sama menghadirkan kemungkinan untuk keluar dari melampaui batas tersebut. “Batasan yang terbentuk dari dalam diri, baik berupa rasa takut, keraguan, aturan, tekanan, maupun konstruksi pikiran yang secara perlahan membentuk ruang gerak seseorang,” ujar Yoga.

Susunan karya yang membentuk guillotine, alat pemenggal kepala dalam eksekusi hukuman mati, berupa tiang, rangka, penyangga dan bidang di tengah menjadi metafora tentang bagaimana batas-batas dalam diri dibangun dan dipotong dari berbagai pengalaman hidup yang dijalani dari pengalaman yang telah dilalui atau direncanakan (Batas, 2026).

Perupa Hans Tegar Arlen membuat kaya instalasi dari bahan besi, resin dan semen berupa patung figur dalam posisi duduk santai di atas tonggak beton dengan satu kaki diletakkan di atas paha kaki lain. Sosok figur itu berada di tengah struktur tonggak beton yang saling terhubung lewat kawat besi melengkung yang juga menghubungkan dengan sosok figur lain dalam posisi berdiri di atas tonggak beton berukuran empat meter.

Karya instalasi (Terlanjur Keras, 2026) ini berangkat dari pengalaman Hans terhadap beton, satu material yang awalnya cair dan dapat dibentuk, tapi perlahan akan mengeras dan menjadi sulit diubah. “Proses itu saya gunakan sebagai metafora tentang kehidupan,” katanya.

Figur manusia dalam karya ini menggambarkan seseorang yang berada dalam kondisi yang sudah terbentuk. Mereka tidak lagi membangun, tapi harus hidup dan menyesuaikan diri dengan keadaan itu. “Beton yang pecah menjadi gambaran dan tekanan, keputusan, dan pengalaman yang meninggalkan jejak. Karena seperti beton yang sudah mengeras ada hal soal yang tidak dapat dikembalikan seperti semula dan hanya bisa dijalani.”

Perupa Yax Yax mengeksplorasi karya instalasi patungnya dengan narasi lingkungan berupa bentuk struktur mainan jungkat-jungkit (enjot-enjotan) dengan dua bentuk roda di bagian tengah. Di ujung yang menjungkat ada patung kepala, dan di ujung lain yang menyentuh lantai dibebani patung figur tanpa kepala yang tertutup limbah botol-botol plastik.

Yax Yax (Temporary Files Around Us, 2026)

Karya instalasi bertajuk Temporary Files Around Us (2026) ini tidak bermaksud membiarkan jawaban tunggal mengenai persoalan sampah plastik. Sebaliknya ia menghadirkan situasi sederhana yang memungkinkan hubungan antara tubuh, benda, lingkungan dan perilaku manusia untuk dilihat kembali. Bagi Yax Yax, botol-botol plastik yang pernah menjadi bagian dari aktivitas konsumsi sehari hari berubah menjadi bagian tubuh dan ruang. Sementara perangkat permainan jungkat-jungkit menghadirkan pertanyaan mengenai bagaimana keseimbangan antara manusia dan lingkungannya dapat terus dipertahankan. “Pada akhirnya instalasi ini berbicara tentang sesuatu yang dekat dan sederhana: apa yang kita gunakan, apa yang kita buang, dan bagaimana semua itu pada akhirnya kembali menjadi bagian dari ruang hidup kita,” ujar Yax Yax.

Perupa Arkann mengeksplorasi narasi tentang kehidupan di dunia yang tidak diinginkan yang dikenal dengan frasa distopia, suatu konsep mengenai masyarakat atau tatanan dunia khayalan yang memiliki kondisi sangat buruk, menakutkan, dan penuh penderitaan.

Arkann memaparkan narasi karyanya lewat karya patung dari material benda bekas (found object) berupa berbagai bentuk pakaian –baju dan celana– yang diisi di bagian dalamnya dengan material padat sehingga membentuk berbagai bentuk figur dalam posisi terbaring seperti tertidur di lantai yang dalam konteks karya ini adalah kaum gelandangan yang tertidur di kaki lima sebagaimana dunia didisain bukan untuk kehidupan yang layak.

Kelompok masyarakat terpinggirkan yang dia sebut sebagai penyintas itu bertahan hidup di kawasan yang tak layak huni di tengah kekacauan yang ada. “Ketika tempat bermukim makin rapuh, seiring berjalannya waktu berupa orang yang mungkin memiliki daya untuk berpindah ke tempat yang layak. Tapi sebagian lain tidak memiliki kemampuan yang serupa sehingga hanya dapat pasrah menerima nasib,” ujar Arkann.

Sebanyak 12 bilah bentuk pedang dihadirkan perupa Aryhoxz pada karya berjudul Barangkali Ini yang Tersisa (2026). Karya ini sebagai representasi berbagai bentuk rintangan, konflik, dan pengalaman yang dilalui dalam proses kehidupan. Setiap pedang punya bentuk dan karakter yang berbeda, menggambarkan bahwa setiap persoalan meninggalkan jejaknya sendiri. “Pedang itu tidak lagi digunakan sebagai senjata, melainkan diposisikan sebagai benda peninggalan yang disimpan dan diabadikan,” ujar Aryhoxz.

Perupa Laeli Zakiya memajang tiga karya lukis paus bungkuk (Megaptera novaeangliane). Bentuk paus pada karya lukis ini direncanakan akan dilengkapi dengan imajinasi Laeli tentang bentuk paus bungkuk berkaki empat yang berevolusi ke bentuk paus bungkuk saat ini. Paus bungkuk dewasa punya panjang berkisar 14 – 17 meter dengan berat 40 ton. Paus bungkuk memiliki bentuk tubuh yang khas, dengan sirip pektoral yang panjang dan tuberkel di kepalanya. Spesies ini dikenal akan kebiasaannya melompat ke atas air dan perilaku permukaan khas lainnya, yang menjadikannya populer di kalangan pengamat paus.■ Raihul Fadjri