Misteri Kegelapan Visual Miranda Marzuki

Karya lukis dan drawing bercorak impresif muncul dalam warna cenderung gelap yang mengesankan suasana misteri.

Sejarah & Budaya204 Dilihat

 

Merindukan (2026).

JAKARTA, dialoguejakarta.com – Nuansa misteri yang biasanya menimbulkan rasa takut, tapi juga mengandung rasa keindahan di dalamnya, sebagaimana yang dieksplorasi perupa Miranda Marzuki (1993) lewar pameran runggal bertajuk “Witnes” di Ara Contemporary, Jakarta, 26 September – 8 November 2026.

Sebanyak 18 karya lukis dan drawing bercorak impresif muncul dalam warna cenderung gelap yang mengesankan suasana misteri. Dalam pameran tunggal perdananya ini, Miranda menghadirkan serangkaian lukisan yang sebagian besar berlatar suasana di malam hari, di mana malam mengganggu cara pandang biasa tanpa menutup kemungkinan citraan lanskap dan figur muncul di antara obyek yang masih bisa diidentifikasi dalam suasana visual yang mengandung ketidakjelasan.

Miranda menggunakan teknik pelapisan dan penghapusan bukan untuk menghilangkan, tetapi untuk membiarkan kehadiran subjeck matter muncul secara tidak stabil dari dalam cat, menggemakan cara ingatan diubah oleh waktu dan penolakan terhadap deskripsi objek yang tepat. Menyaksikan karya lukis Miranda seperti sesuatu hadir tanpa sepenuhnya menangkap citraan bentuk, apalagi memahaminya.

Praktik seni Miranda lewat karya lukis dan drawing sebagai proses introspektif, dengan menangkap keadaan yang cepat berlalu dan momen transisi yang berada di antara abstraksi dan figurasi. Karyanya berkaitan dengan gagasan tentang kemunduran, ketidakakraban, dan kefanaan.

Narasi karya Miranda tentang hubungan antar manusia. Ada dua citraan figur lelaki dan perempuan dalam posisi berhadapan dan saling memegang tangan di tengan pulasan warna gelap (Resitatif Akhir, 2026). Ada juga sosok figur perempuan memegang tangan anak kecil seperti sedang belajar berjalan yang disemangati sosok pria dalam posisi jongkok di depannnya dalam komposisi warna merah dan hitam (Langkah Pertama, 2026). Karya ini mengambil inspirasi dari karya gambar Jean-François Millet dengan judul yang sama (1859–66), yang kemudian diolah kembali oleh Vincent van Gogh (1890).

Miranda juga mengeksplorasi potret psikologis individu pada karya lukisnya. Ada sosok tanpa busana dalam posisi terlentang dengan satu kaki tertekuk, sementara kedua belah tangan menutup dada di tengah kegelapan (Rasa Sakit, 2026). Ada juga sosok bocah perempuan sedang duduk bersandar pohon menatap kegelapan perbukitan (Melepaskan, 2026).

Dengan mengambil referensi gambar yang kemudian diproses melalui referensi sejarah dan Alkitab, lukisan-lukisan Mazuki memasuki sejarah panjang gambar yang berkaitan dengan kerentanan manusia, sambil mengkonfigurasinya kembali melalui eksplorasinya sendiri tentang persepsi dan ketidakpastian.

Miranda Mazuki telah tinggal dan bekerja di Paris sejak 2019. Dia lulus dengan gelar Seni Rupa dari Paris College of Art dan belajar Desain Mode di Fashion Institute of Design & Merchandising di Los Angeles. Pengalaman sebelumnya di bidang mode dan pengarahan kreatif memengaruhi bahasa visualnya saat ini, dan berkontribusi pada pendekatan yang disiplin terhadap komposisi, materialitas, dan gestur.■ Raihul Fadjri