Perupa Eksplorasi Citraan Bentuk Kerangka Manusia di Atas Kanvas Lukisan

Risao Pambudi membawa imajinasi orang ke alam kubur ketika tubuh sudah beralih rupa menjadi tulang-belulang.

 

Pria yang Meninggal Sambil Berdiri (2025). Foto: Dok. Risao Pambudi/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Ruang pamer Nalarroepa Ruang Seni, Yogyakarta, bak membawa orang ke alam baka dengan sejumlah karya lukis berbentuk kerangka manusia dan hewan. Risao Pambudi (1988) memajang karya lukis yang tak biasa itu pada pameran tunggalnya bertajuk “Kuburan: Menggali Sisa-Sisa Kenangan”, di Nalarroepa Ruang Seni, Yogyakarta, 25 Juli – 15 Agustus 2026.

Menurut Risao, karya lukisnya banyak membicarakan tentang ingatan. “Kerangka menjadi bahasa visual yang saya pilih karena ia adalah struktur yang paling lama bertahan, seolah seperti menyimpan arsip waktu dan jejak kehidupan,” kata Risao. “Selain itu saya juga tertarik pada bentuk bentuk arkeologis, yang menyimpan cerita tentang masa lalu.”

Risao yang menempuh pendidikan seni patung di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini, mengeksplorasi ketertarikannya pada bentuk, material, tekstur, dan ruang pada karya lukisnya. “Kanvas memberi saya kemungkinan untuk menggabungkan pendekatan melukis dengan cara berpikir seorang pematung, terutama melalui relief, lapisan, dan kualitas permukaannya,” ujar Risao. Bagi dia, media dua dimensi adalah perluasan cara berkarya.

Risao menggambarkan tubuh manusia yang hanya menyisakan kerangka tulang dalam posisi berdiri di tengah semak belukar (Pria yang Meninggal Sambil Berdiri, 2025). “Lukisan ini terinspirasi dari kisah nyata paman saya, Mbah Sukar, seorang petani yang merawat tanah dengan sepenuh hati, namun dihancurkan oleh sistem pertanian yang tidak adil,” katanya. Mbah Sukar menanam dengan harapan, namun ketika panen datang, harga jual anjlok dan tak mampu menutup ongkos tanam. “Ia tetap berdiri di ladangnya, hingga ajal datang seakan mati sambil menjaga tanah yang tak pernah membalasnya.”

Pray (2024).

Ada juga karya lukis yang mengeksplorasi tubuh sebagai lanskap yang perlahan kembali ke alam berupa citraan bentuk tengkorak dan fragmen tubuh yang muncul dan tenggelam dalam permukaan gelap dalam warna monokrom abu-abu (Taman Kematian, Fragmen 1, 2026). “Karya ini menghadirkan momen antara keberadaan dan pelapukan,” kata Risao. Unsur tumbuhan yang tumbuh dari dalam tubuh dimaksudkan sebagai penanda simbol transformasi, bahwa tubuh tidak benar-benar hilang, tetapi beralih menjadi bagian dari siklus kehidupan yang lebih luas. “Karya ini mengajak penonton untuk merasakan waktu sebagai sesuatu yang lambat, organik, dan tak terelakkan.”

Pada karya lain Risao menghadirkan citraan dua kerangka manusia yang saling bertaut, terpampang seperti fosil yang terperangkap dalam satu lapisan waktu (Till We Rot, 2026). “Tekstur yang kasar dan permukaan yang arkeologis menciptakan kesan seolah tubuh-tubuh ini ditemukan kembali setelah lama terkubur,” ujar Risao.

Bak mengakhiri episode tubuh yang menulang menjadi kerangka, Risao menghadirkan sosok ambigu antara manusia dan makhluk asing lewat citraan bentuk tengkorak kepala dalam posisi tengadah dan dua kerangka tangan merapat di dada bak sedang melantunkan doa dalam keheningan abadi di tengah hamparan semak (Pray, 2024). Sosok ini boleh jadi sisa peradaban yang punah, atau entitas yang baru belajar tentang harapan. “Doa menjadi bahasa universal, melampaui spesies, waktu, dan dunia,” kata Risao Pambudi.■ Raihul Fadjri