Urban Provokatif Karya Lukis Hudi Alfa

Karya Hudi Alfa mengingatkan pada agresi militer Israel eskalasi besar terhadap Gaza yang masih berlangsung hingga kini.

 

Salah satu karya lukis Huda Alfa. Foto: Dok. Huda Alfa/ dialoguejakarta.com

Jakarta, dialoguejakarta.com – Perupa Hudi Alfa (1969) memajang empat karya lukis pada pameran bertajuk Urban Provokatif di Taman Menteng, Jakarta, 17 juli – 26 juli 2026. Karyanya mengkombinasi antara figur realis dan emosi ekspresif, yang biasa disebut sebagai abstrak figuratif. “Preferensi inilah kemudian menjadi ciri khas dan unikalitas visual yang diperkuat dengan konsep atau gagasan perihal tubuh, problem sosial dan urbanisme kota,” ujar Mayek Prayitno, kurator pameran ini.

Hudi Alfa menampilkan situasi di dalam ruang bangunan yang tampak hancur dengan konstruksi besi bertebaran dan dua bocah berada di tengah tumpukan sampah. Di depan dua bocah itu teronggok helm tempur bertuliskan GENOCIDE dengan alat pelindung pernapasan.

Karya ini mengingatkan pada agresi militer Israel eskalasi besar terhadap Gaza yang masih berlangsung hingga kini dengan korban lebih dari 50 ribu anak-anak dilaporkan tewas atau terluka sejak Oktober 2023. Menurut laporan UNICEF, rata-rata 28 anak kehilangan nyawa setiap hari, sementara puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka.

Hudi juga mengulik narasi dunia urban. Dia melihat konstruksi industrial kota berisi manusia dengan mentalitas yang rapuh, saling menindas dan terisolasi dari dunia yang dibangunnya sendiri. Mereka seolah hidup dari pikiran ekspektatif dan validatif, lalu berpura – pura menjadi apa saja untuk menenangkan egonya. Pola hidup urban ini terlihat dilukisan panel kedua, dengan gestur dan tekstur yang kuat, selain pilihan warnanya. Menurut Hudi, inilah keruntuhan modernitas secara mental yang memprovokasi hampir setiap pikiran, dari yang banal sampai yang irasional. “Karena modernitas hanya berfokus pada rasio tujuan yang mengagungkan materialitas, bukan kepada rasio yang berorientasi nilai etis, estetis dan religius,” kata Mayek Prayitno.

Di kanvas Hudi yang terakhir tampak mengalami derivasi abstraktif. Sapuan kuasnya yang ekpresif cenderung bernuansa merah mengalir ke bawah yang membentuk seperti tiang-tiang bangunan. Karya yang ini merupakan bagian paling ujung dalam gagasannya kali ini, ia mereduksi bentuk hingga paling dasar, yang tersisa adalah goresan yang merepresentasikan esensi dari gagasan urban itu sendiri, yakni abstrak. “Realitas itu dilihat seolah sebuah abstraksi, karena kenyataan semakin tidak masuk akal dan irasional. Sengkarut kenyataan urban itu pada akhirnya tidak membentuk apapun,” Mayek Prayitno.■ Raihul Fadjri