Perupa Eksplorasi Narasi Kematian Demokrasi

Gindring Wasted mengolah narasi visual bernuansa ironi tentang kemiskinan, program MBG, kerakusan penguasa, hingga perilaku berselimut agama.

 

Karya lukis Gindring Wasted (The Death of Democracy, 2026). Foto: Dok. The Daging Tumbuh/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Seni rupa ruang publik dengan narasi kritik membawa Gumilar Lukisani (1992) ke ruang galeri lewat pameran bertajuk ‘Bad Vibes’ di The Daging Tumbuh, Yogyakarta, 15 Mei – 12 Juni 2026.

Pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah pada 1992 yang juga dikenal dengan nama Gindring Wasted ini mulai berkarya dijalanan sekitar tahun 2007-an sebagai seorang street artist. Karena merasa teriakannya tidak pernah didengar dia memutuskan tembok jalanan adalah sebagai media berkaryanya saat itu dengan pernyataan yang brutal. Seiring berjalanannya waktu Gindring memutuskan untuk bereksplorasi di atas media kanvas lewat Versus Project nomer 34.

Sejumlah karya lukis Gindring Wasted.

Pada delapan karya lukisnya, Gindring menampilkan karya terbaru, tapi masih dengan semangat kritis yang sama. “Sindirannya semakin mengena tapi juga membikin orang tertawa,” ujar Eko Nugroho, pemilik The Daging Tumbuh.

Gindring membuat narasi ironi yang menyentil baik untuk kalangan atas maupun kalangan bawah. Ada figur yang terlelap tidur di atas trotoar dekat tempat pembuangan sampah, sementara di sisi depan ada figur dengan wajah berpoles cat hitam putih, mengenakan topi jalanan, memakai kaos bertuliskan Partai Anjing, sembari memegang poster bertuliskan: MISKIN CARI TUHAN KAYA JADI TUHAN (Miskin, 2023).

Pada karya lain Gindring menggunaka media skate board yang biasa dia pakai sebagai skateboardis untuk menyoroti isu nasional yang sedang heboh ihwal program Makan Bergizi Gratis yang menimbulkan kasus keracunan. Ada tiga sosok pelajar SD dan SMP mengenakan seragam baju merah, celana putih, dan topi merah seperti sedang mengkonsumsi sesuatu dari kareng bertuliskan: thinner, lem fuck (Generasi Penerus Bangsa, 2026).

Gindring masih memotret sosok siswa SD di dalam ruang kelas lewat mimpinya: When I grow up, I want to become like Dad (Cita-citaku Setinggi Tanah, Parth 1, 2026). Sementara sang ayah (The Dad) seorang ‘silverman‘ di perempatan jalan sedang menyapa dengan penuh harap diberi sesuatu dari seorang pria di dalam mobil (Cita-citaku Setinggi Tanah – Part 2, 2026).

Gindring juga menyoroti kerakusan penguasa lewat enam figur berwajah menakutkan dengan kepala bertanduk seperti sedang memperebutkan makanan berhiaskan berdera merah putih (Prasmanan Para Monster, 2026). Karya ini menghadirkan alegori satir tentang wajah kekuasaan dan kerakusan dalam masyarakat kontemporer.
“Ini refleksi bagaimana kerakusan, oportunisme, dan hasrat konsumtif kerap dinormalisasi dalam sistem sosial maupun politik,” ujar Gindring.

Rusaknya bangsa muncul lewat ironi perilaku lima figur berpakaian keagamaan seperti sedang berpesta minuman keras sembari menonton film porno (Pemersatu Bangsa, 2024), atau sosok berkepala tengkorak mengenakan surban dan baju putih bak sedang berceramah dengan gestur tangan kanan menujuk ke atas berupa teks: Kita semua adalah atheis di saat senang, dan beragama di saat susah (Atheis, 2026).

Pesta para penguasa dan para pendukungnya ditutup dengan prosesi pemakaman yang dihadiri figur bertopeng, mengenakan peci, berkacamata hitam berdiri di depan peti mati berselubung kain hijau bertuliskan: DEMOCRACY, (The Death of Democracy, 2026). “Simbol atas hilangnya nilai-nilai demokrasi yang perlahan terkikis oleh sistem dan masyarakat itu sendiri,” kata Gindring.

Melalui “Bad Vibes”, Gindring tidak bermaksud menawarkan solusi. “Saya
lebih tertarik untuk membuka ruang di mana keganjilan itu bisa dirasakan secara utuh—sebagai pengalaman yang mungkin selama ini kita sadari, tetapi jarang kita hadapi secara langsung,” ujar Gindring.■ Raihul Fadjri