Hamparan Lanskap Alam Lewat Karya Lukis Tugas Akhir Siswa SMK

Siswa SMK tuangkan pandangan mereka tentang alam, mulai dari hamparan sawah, garis pantai, hingga pegunungan.

Pendidikan4 Dilihat

Karya lukis siswa SMKN 58 Jakarta. Foto: dokumentasi SMKN 58 Jakarta/ dialoguejakarta.com

Jakarta, dialoguejakarta.com – Sebanyak 32 siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 58 Jakarta menggelar pameran tugas akhir bertajuk “Spektrum Alam” di Museum Basoeki Abdullah, Cilandak, Jakarta, 22 – 26 April 2026.

Karya-karya lukis yang dipresentasikan bertema tentang lanskap alam, sebagai hasil pembelajaran, eksplorasi dan proses kreatif selama menempuh pendidikan di sekolah pada Program Studi Seni Lukis. “Melalui warna, tekstur, komposisi dan interpretasi para siswa menuangkan pandangan mereka tentang alam, mulai dari hamparan sawah, garis pantai, pegunungan, hingga sudut pandang tertentu, sekaligus merekam dan mengekspresikan perasaan dan pengalaman personal mereka,” ujar Kepala Konsentrasi Keahlian Seni Lukis SMK 58 Jakarta, Apriani, S. Pd.

Menurut kurator pameran ini, Mayek Prayitno, pelukis seperti Affandi dan Hendra Gunawan mengolah alam dengan pendekatan yang lebih personal. Affandi, misalnya, tidak melukis alam sebagaimana adanya, tapi sebagaimana ia rasakan, melalui sapuan cat yang spontan dan emosional. Sementara Hendra Gunawan sering menghadirkan alam sebagai ruang hidup manusia, penuh aktivitas dan warna yang dinamis.

“Dalam perkembangan seni rupa kontemporer, alam tidak lagi hanya dipahami sebagai lanskap visual, tetapi juga sebagai isu, ekologi, kerusakan
lingkungan, hingga relasi manusia dengan alam,” kata Mayek.


Konteks historis ini menjadi landasan bagi pelajar kelas Xll, jurusan seni lukis SMKN 58 Jakarta dalam mengartikulasikan tema Spektrum Alam. “Tema tugas akhir ini menunjukkan bahwa alam tidak tunggal, melainkan memiliki spektrum makna dan persepsi yang luas. Para pelajar tidak lagi sekadar meniru bentuk alam, tetapi menafsirkan
ulang melalui pengalaman, teknik, imajinasi, dan kesadaran mereka,” ujarnya.

Menurut Mayek, dalam karya mereka terlihat keberagaman pendekatan. Ada yang mengeksplorasi komposisi lanskap secara realistis dengan perspektif
yang matang. Sudut pandang pun menjadi variatif dengan melibatkan obyek hewan, gunung, sungai, laut dan pepohonan, dari pandangan mata burung (bird’s eye view), perspektif intim yang dekat dengan objek, hingga interpretasi simbolik yang menjadikan alam sebagai metafora psikologis.

Ada sosok kuda yang menerjang ombak di bibir pantai di bawah langit senja. Percikan air yang dinamis melambangkan keberanian, sementara bentang pantai yang luas menjadi simbol kebebasan jiwa. Melalui kontras gerak liar dan cahaya matahari terbenam, sang pelukis, Siti Fathurohmah, menegaskan bahwa kebebasan sejati adalah keberanian untuk terus berjuang meski arus kehidupan menerjang (The Gallop, 2026).

Pada karya lukis Maulida Surya Aulia, ada citraan bukit curam yang melambangkan tantangan dan rintangan dalam perjalanan hidup, pepohonan pinus yang menjulang tinggi menunjukkan ketahanan dan pertumbuhan, serta  matahari yang jauh melambangkan keinginan  yang terlihat sulit digapai namun bisa digapai pada waktunya (Edge of Tranquility, 2026) “Lukisan saya bertujuan menyampaikan perasaan saya serta mengabadikan keindahan alam,” ujar Maulida

Ada juga lanskap alam berupa alur sungai dengan airnya yang jernih dan bunga liar yang indah di tepinya. Di seberangnya terdapat citraan rumah kayu yang sederhana dengan latar pegunungan serta hutan rimbun membawa suasana ketenangan, sementara sepasang rusa berjalan bebas di arah kejauhan (Fadillah Ash Shiddiq, Hening, 2026). “Sebuah potret keselarasan antara tempat tinggal manusia dan keasrian alam liar yang abadi, membawa kedamaian bagi setiap mata yang memandang,” kata Fadillah.

Ada juga pemandangan pegunungan dengan jalan kecil diantaranya, berlatar suasana senja dan berwarna hangat yang memanjakan mata (Ridwan Insanudin, Twilight Road in the Mountain, 2026). “Setiap gunung melambangkan cobaan dalam hidup. Jalanan melambangkan kehidupan seperti kadang kita berjalan diatas dan kadang dibawah,” ujar Ridwan.

Di kedalaman hutan yang sunyi, terdapat kolam yang memiliki air yang tenang
namun menyimpan bisikan tentang kehidupan yang pernah tenggelam. Ada citraan tengkorak yang bukan sekadar sisa raga melainkan jejak cerita yang terputus, gubuk kecil dengan lentera yang menyinarinya berdiri rapuh seperti memiliki kisah lama yang terlupakan, sosok air itu datang tidak sebagai ancaman, melainkan sebagai penjaga rahasia yang tak pernah di ucapkan hutan (Paraslestri Airani Kusnanto, Hutan Sunyi, 2026) “Suasana yang mengajak siapapun merasakan bisikan sunyi dari alam gaib yang tersembunyi,” ujar Paraslestri.

Cut Farida Nabila Najla menerjemahkan tema “Spektrum Alam” yang berbeda dengan kawannya lewat simbol sederhana berupa citraan bentuk bunga dalam komposisi warna kuning, pink, merah beserta citraan bentuk kupu-kupu dan capung di atas kanvas yang dipoles sapuan kuas dalam warna terang (Alam, 2026). “Daun dan juga bunga matahari
sudah saya modifikasi menjadi warna merah muda, karena saya suka warnanya,” kata Cut Farida. Bahkan Bryan Jordan Bangun menerjemahkan tema pameran ini lewat  suasana kesibukan di tengah pasar (Seperti Pasar Tradisional, 2026).

Menurut Kepala SMK Negeri 58 Jakarta
Dra. Maria Ulfa Agustin, M. Pd, dengan mengangkat tema “Spektrum Alam”, karya lukis pada pameran ini merepresentasikan kekayaan, keindahan, serta dinamika alam yang
dituangkan melalui berbagai perspektif artistik siswa. “Setiap goresan dan warna mencerminkan kepekaan rasa, imajinasi, serta interpretasi terhadap alam sebagai sumber inspirasi yang tak pernah habis,” ujar Maria Ulfa.■ Raihul Fadjri