Pameran Retrospektif Pelukis Otodidak Irawan Surianatanegara

Irawan Surianatanegara konsisten mengeksplorasi lukisan potret dan naturalis sejak usia 17 tahun hingga kini berusia 82 tahun.

Sejarah & Budaya100 Dilihat

Live Model/ Ibu, 1984. Foto: dokumentasi Orbital Dago/ dialoguejakarta.com

Bandung, dialoguejakarta.com – Karya seni rupa bisa lahir dari tangan siapa saja, termasuk dari orang yang tidak memiliki pendidikan akademis seni rupa. Adalah R. Irawan Surianatanegara, seorang yang lahir pada 1944 di Tasikmalaya dari seorang ayah yang berprofesi sebagai polisi, memilih profesi sebagai pelukis potret dan naturalis saat menginjak usia 17 tahun. Hingga kini Irawan memasuki usianya yang ke 82 dia masih rutin melukis setiap hari di rumahnya di Kota Sukabumi.

Irawan melukis potret dan corak naturalis sebagai pengisi kegiatan dan sebagai bentuk kecintaan serta integritas terhadap profesi yang ditekuni sepanjang hidupnya. Dia dahulu sering melukis potret berdasarkan undangan dari pejabat dan pengusaha, temannya dan keluarganya. “Dia melukis potret anggota keluarga inti dan terdekat sebagai cerminan untuk lebih mengenal keluarganya,” ujar Ulfah Yulaifah, salah seorang muridnya sejak 1994 yang sekarang menjadi pelukis potret di Sukabumi.

Karya lukisan potret dan lukisan bercorak naturalis itulah yang muncul pada pameran retrospektif Irawan Surianatanegara bertajuk ‘Si Konsisten dari Sukabumi’ di Orbital Dago, Bandung 4 April – 31 Mei 2026. “Pameran ini menjadi retrospektif selama ia berkarya dengan memetakan lintasan perjalanan artistik Irawan dalam berbagai fase: dari lukisan observasional yang akurat hingga komposisi yang lebih imajinatif dan reflektif,” ujar Rifky Effendy, kurator pameran ini.

Sea Scape, 1990

Menurut Goro, panggilan akrab Rifky Effendy, karya-karya potret awal—seperti figur anak pada Son (1976) atau Daughter (1984)—menunjukkan penguasaan anatomi, pencahayaan, dan struktur bentuk yang kuat. Namun kekuatan utama karya ini tidak hanya terletak pada ketepatan teknis, melainkan pada suasana batin yang hening. “Tatapan subjek tidak dramatis, tetapi menyimpan jarak emosional yang subtil.”

Warna-warna yang digunakan lembut, tonal (kualitas gelap – terang), dan tidak agresif. Irawan membangun volume melalui gradasi yang sabar, bukan kontras tajam. Pendekatan ini menempatkannya dalam tradisi lukisan realis klasik: realisme yang tidak fotografis, namun juga tidak ekspresionistik.

Irawan menghindari gestur yang meledak-ledak, memilih keseimbangan dan kesadaran struktur. Pada karya lanskap berupa hamparan laut dan horizon luas menjadi arena penghayatan ruang (Pelabuhan Ratu, 1990). “Tidak ada narasi dramatik. Ombak tidak menggulung secara heroik, langit tidak meledak dalam warna kontras,” kata Goro. Dia  justru menghadirkan atmosfer berupa langit, laut, dan garis pantai yang dibangun lewat lapisan warna tipis dan terkendali. Horizon menjadi garis meditatif yang membelah bidang. “Dalam lanskap ini, Irawan tidak sekadar merekam alam, tetapi menata ulang pengalaman visual menjadi ruang batin.”

Adapun beberapa karya lukisan still life dalam karyanya adalah sebagai media untuk latihan sebagai penunjang saat dia melukis portrait. Irawan melukis lukisan still life berdasarkan objek benda-benda yang ada disekitar dimana ia tinggal (Still Life 5, 1977). “Setiap kanvas menjadi ruang dialog antara pengamat dan dialektika warna-bentuk yang dilihat, diamati langsung sang seniman,” ujar Goro.

Menyelami karya-karyanya ini berarti membuka lembar baru pemahaman tentang seni lukis modern yang berakar pada kemampuan teknis melukis yang cenderung akademik klasik barat, walaupun ia tidak pernah mengalami pendidikan formal seni lukis. Ia banyak belajar dan melihat hasil karya seniman pendahulu dari buku-buku dan secara tidak langsung, baik teori melukis Eropa atau dari karya-karya pelopor seni lukis modern seperti Abdullah Suryosubroto, Affandi, dan lain sebagainya, walaupun bukan sebagai pengagum, pun tidak memuja lukisan maestro modern Eropa seperti Rubens, Rembrandt atau Van Gogh. Tetapi Irawan mempelajari soal ‘kejujuran’ mereka dalam melukis.

Bagi Goro, pameran retrospektif ini bukan sekadar peninjauan kembali perjalanan seorang pelukis, tetapi pengingat bahwa modernisme Indonesia dibangun oleh berbagai jalur: yang eksperimental, yang ekspresif, dan juga yang kontemplatif. “R. Irawan Surianatanegara berdiri dalam jalur terakhir itu—sebagai pelukis yang konsisten merawat disiplin, menjaga keseimbangan, kewarasan dan mengolah kesunyian menjadi bahasa visual,” katanya.■ Raihul Fadjri