Dampak Erupsi Gunung Tangkuban Perahu Lewat Citraan Monokromatik Karya Seni Rupa

Integrasi antara material bertekstur alami dengan narasi historis dan geologis untuk menelaah relasi antara manusia dengan alam dan ketahanan hidup.

Feel The Flow and Float Within, 2025. Foto: dokumentasi Lutfi Yanuar/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Bagaimana perupa menggambarkan ketegangan emosional ketika terjadi erupsi gunung berapi yang berdampak pada penduduk di sekitarnya? Perupa Lutfi Yanuar (1994) membawa penikmat karya dua dimensinya lewat citraan warna cenderung monokrom dan sapuan warna lembut pada karya seri bertajuk ‘The Ground of Fire Sterilized Volcanic Ash from the 2019 Eruption of Mount Tangkuban Perahu’. Karya seri lewat 24 karya dua dimensi ini dipajang pada pameran bertajuk ‘The Ground of Fire’ di Redbase Foundation, Yogyakarya, 14 Feb – 18 April 2026.

Adalah erupsi Gunung Tangkuban Parahu pada 26 Juli 2019 yang terjadi pada pukul 15:48 WIB yang menjadi salah satu narasi karya dua dimensi Lutfi. Letusan itu dengan tinggi kolom abu mencapai 200 meter di atas puncak. Erupsi berlangsung sekitar 5 menit 30 detik, menyebabkan hujan abu, penutupan kawasan wisata, dan evakuasi pengunjung, tapi tidak menimbulkan korban jiwa. “The Ground of Fire menghadirkan karya-karya yang memantik kembali naluri bertahan hidup manusia di dunia yang sejatinya tidak stabil,” ujar sarjana seni rupa dari ITB ini.

The Ground of Fire Sterilized Volcanic Ash, 2025.

Dia mengintegrasikan material bertekstur alami dengan narasi historis dan geologis untuk menelaah relasi antara manusia dengan alam dan ketahanan hidup. Pada karyanya Lutfi menggunakan tehnik cetak fotografi Cyanotype yang menghasilkan cetakan berwarna biru untuk menggambarkan dampak dari erupsi itu lewat citraan bangunan yang rusak dan terselimuti debu vulkanik lewat komposisi warna monokrom yang mewakili suasana kawasan terdampak.

Ada kerumunan warga dalam situasi panik sedang berlari menyelamatkan diri saat erupsi sedang berlangsung (The Ground of Fire #13, 2026). Ada juga potret bagunan rumah yang rubuh (The Ground of Fire #5, 2026). Atau potret permukiman dengan kondisi bangunan rusak dan kosong karena sudah ditinggalkan warganya yang mengungsi (The Ground of Fire #21, 2026).

Lutfi menggambarkan struktur bangunan itu seperti bayangan dalam warna monokrom bak menggambarkan ingatan tentang suatu peristiwa yang masih tersisa dari masa lalu yang sudah kehilangan detil dalam memori. “Saya cenderung menggunakan warna yang monokrom dan lembut karena saya ingin menggambarkan dunia kita secara lebih liris dan rapuh,” katanya. Bagi dia, warna yang terlalu kuat sering kali terasa terlalu pasti. “Sementara dunia yang saya rasakan justru penuh ketidakpastian, seperti sesuatu yang perlahan memudar, sementara, dan terus berubah. Palet yang lebih redup memberi ruang bagi kesan itu.”

Masih dalam narasi erupsi gunung merapi, Lutfi menyajikan karya instalasi site-specific yang memakai endapan abu vulkanik Gunung Tangkuban Perahu dari erupsi tahun 2019, dicampur dengan tanah setempat dan benih pangan dari sekitar lokasi. Tubuhnya dalam posisi meringkuk dicetak di atas endapan abu, lalu ditaburi benih dan dibiarkan tumbuh melalui proses waktu, ruang, endapan, dan pertumbuhan alami (No One at the Center, Only the Cycle, 2026). “Sebuah refleksi bahwa ketahanan hidup tidak lahir dari dominasi, melainkan dari pemahaman akan cara kerja siklus alam itu sendiri,” ujar Lutfi Yanuar.

Citraan warna monokrom pada karyanya juga menghadirkan bentuk figur yang tak biasa. Tubuh- tubuh itu diisi citraan berupa susunan garis yang membangun bentuk tumbuhan berupa batang, ranting, daun dan bunga. Hal ini tampak jelas pada lima karya lukis Lutfi dengan narasi relasi manusia dengan lingkungan. “Sebagai ruang eksistensial, tempat manusia hadir tanpa identitas personal, untuk menegaskan identitas kolektif kita sebagai satu spesies yang saling terintegrasi dengan alam,” kata Lutfi.

Figur manusia digambarkan dengan motif floral yang terinspirasi dari Kalpataru, pohon kehidupan, memakai serbuk marmer dan pasir sebagai material yang membumi, taktil, rapuh, namun sekaligus tangguh. Ruang keseharian digarap dengan tinta yang liris dan meluruh, lalu disandingkan dengan tehnik sulaman bentuk hewan berupa rusa bertanduk sebagai simbol keterhubungan ekologis yang membentuk satu kesatuan kehidupan.

The Living Eden (2025), Sometimes We Need to be Alone (2025), The Mechanic (2025), Grace in Suspension (2025).

Pada karya lukis dengan warna dominan biru ada sosok figur dalam posisi duduk bersila di atas bebatuan dengan latar berupa citraan guyuran air sungai di perbukitan dengan bentuk rusa bertanduk yang dibangun lewat jalinan garis merah dengan tehnik sulaman bak bayangan di atas batu (Feel The Flow and Fload Within, 2025). “Sulaman menjadi bentuk intervensi pada ruang lukisan, sesuatu yang tidak benar-benar berada di dalam ruang itu, tetapi sengaja dihadirkan untuk mengingatkan bahwa secara eksistensial segala hal saling terhubung,” ujar Lutfi.

Masih dengan narasi lingkungan berupa sosok figur duduk bersila bersama seekor rusa di depan tenda camping di tengah hutan (Some Times We Need to be Alone, 2025). Dari lingkungan alam terbuka Lutfi memindahkan narasinya ke dalam ruang di dalam rumah yang menggambarkan relasi dua figur–perempuan dan laki-laki–duduk di atas sofa dan masih menyertakan citraan rusa bertanduk di belakangnya seolah menarasikan kehidupan keluarga yang tetap menjaga lingkungan (The Living Eden, 2025). “Lima lukisan ini merupakan fragmen kehidupan saya dan orang-orang di sekitar di Kota Bandung, yang mewakili pengalaman keseharian manusia hari ini,” kata Lutfi Yanuar.■ Raihul Fadjri