
Bandung, dialoguejakarta.com – Ruang pamer Orbital Dago, Bandung, dipenuhi karya tiga dimensi dan dua dimensi yang mengingatkan orang pada gaya estetika Gothic yang menonjolkan nuansa gelap, misterius, dramatis, dan mistis, juga karya seni lukis dan patung bercorak Baroque yang menonjolkan kontras gelap-terang yang tajam. Adalah Hendra Suryadi yang juga dikenal dengan panggilan Ikie Morphacio (1980) menghadirkan 54 karya gambar dan 18 karya instalasi patung lewat pameran bertajuk Bizzare Ladies, 25 Februari – 29 Maret 2026.
Pada pameran tunggal ini Ikie Morphacio menampilkan karya yang terdiri dari gambar dan rangkaian instalasi patung dada atau tubuh sosok perempuan berpakaian mewah yang tak biasa, dengan garapan aksesorisnya berupa mahkota, kalung hingga gaun atau kostum dengan beragam ornamen.
Sekilas instalasi patung itu seperti dipengaruhi oleh gaya gothic dan juga memiliki elemen baroque Eropa, bahkan bisa dibilang merupakan perpaduan keduanya. Seperti kemunculan bentuk menara runcing, arsitektur katedral dengan nuansa gelap, misterius, dan monumental. Detail seperti reruntuhan kota, tekstur organik menyerupai akar pohon yang membelit bangunan dengan siluet dramatis dan kontras cahaya yang kuat.
Ikie berlatar pendidikan seni lukis di ITB (Institut Teknologi Bandung), tapi dia lebih tertarik mendalami body painting, baik untuk kebutuhan pemotretan berbagai acara seni kostum (cosplay), dan kemudian banyak mengeksplorasi dunia fashion untuk acara yang bersifat festival, karnaval, performative atau fashion fantasi yang tidak umum. Ikie dikenal dengan pendekatan estetikanya yang khas: gabungan nuansa fantasy, dark beauty, dan unsur mitologis untuk menciptakan genre yang ia sebut sebagai fantasy fashion.
“Bagi Ikie, pameran Bizarre Ladies adalah perjalanan visual dan spiritual – sejak kurang lebih satu dekade – yang merefleksikan perempuan sebagai entitas multidimensi luka, cinta, keindahan, dan kekuatan menyatu dalam satu tubuh yang tak pernah habis ditafsirkan,” ujar Rifky Effendy, kurator pameran ini.
Karya tiga dimensionalnya banyak memakai elemen yang tajam dan runcing, seperti busur dan anak panah, atau tanduk. Meski muncul juga bentuk seperti bunga mawar tapi tampak cenderung keras karena material dan penerapan warnanya. Ada patung badan berupa citraan bentuk figur perempuan setengah dada dalam warna hitam. Bagian kepala berhiaskan mahkota, sementara bagian badan diselubung hiasan berwarna kontras merah dan hitam (Lysandra Darkrose, 2025). Sebaliknya ada patung dada berwarna metalik berhiaskan mahkota di kepala dengan bentuk tanduk lurus di bagian tengah dalam warna keemasan (Unicorn, 2021).
Selain memakai gaya fantasi dari Gothic maupun Baroque, beberapa patungnya juga memakai elemen yang berasal dari budaya Nusantara seperti motif hiasan megamendung atau juga mahkota atau hiasan kepala bergaya pakaian adat Sumatera.
Pada karya gambarnya Ikie lebih liar dan cenderung sureal. Dia mengeksplorasi citraan tubuh perempuan dari dunia lain yang bermetamorfosa menjadi bagian dari alam atau fauna. Ikie menggambarkan tubuh menjadi citraan akar pohon yang saling terjalin, menancapkannya ke bumi, sementara bagian atas tubuhnya mekar menjadi kelopak, daun, dan pelepah emas (Arunika, 2020). Atau sebagian menjadi burung merak sebagai mahluk hibrida, bahkan menjadi mahluk mitologi, seperti mengingatkan pada dunia kartun, avatar dalam citraan dari dunia gaming. “Gambar-gambar itu cenderung bak lazimnya sketsa pembuatan fashion, kostum atau aksesoris,” ujar Goro, panggilan akrab Rifky Effendy.
Ikie banyak terinspirasi dari kisah nyata yang dia dengar, alami, dan rasakan, kisah tentang penderitaan yang membentuk karakter, tentang perilaku yang dianggap ‘aneh’ oleh masyarakat. “Padahal semua itu merupakan bentuk perlindungan diri, dan tentang keberanian untuk tetap hidup dalam keunikan,” kata Rifky Effendy.
Praktek artistik Ikie Morphacio menempati wilayah hibrid antara seni rupa, fashion art, dan performativitas tubuh. “Karyanya tidak dapat dibaca semata sebagai desain kostum, melainkan sebagai wearable sculpture—objek visual yang memperoleh makna utuh ketika dikenakan dan diaktifkan oleh tubuh,” ujar Rifki Effendy. Dalam konteks seni rupa kontemporer Indonesia yang semakin lintas disiplin, pendekatan Ikie Morphacio memperluas batas antara objek, tubuh, dan ruang pertunjukan.■ Raihul Fadjri