Eksplorasi Bahasa Rasa Lewat Karya Dua Dimensional

Perupa menerjemahkan Bahasa Rasa lewat berbagai corak ekspresi bentuk pada karya seni lukis dan grafis.

Sejarah & Budaya311 Dilihat

Sejumlah karya pada pameran Bahasa Rasa. Foto: dokumentasi Indieart House/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Lima perupa yang tergabung dalam kelompok ART-i mengekspresikan tema pameran Bahasa Rasa lewat karya dua dimensi di Indieart House, Yogyakarta, 3 – 27 Februari 2026. Masing-masing peserta punya sudut pandang yang berbeda terhadap tema pameran.

Bahasa rasa adalah bentuk komunikasi emosi, pikiran, atau pengalaman batin yang disampaikan secara halus, puitis, dan penuh makna, melampaui sekadar ejaan kata-kata, untuk membangkitkan empati dan penghayatan.

Dalam konteks pameran ini, bahasa rasa mencakup estetika, etika, dan nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa visual. Pelukis bercorak abstrak, Acil P Buana (1992), mengeksplorasi tema Bahasa Rasa dengan bentuk kanvas yang tidak sesuai dengan bentuk standar kanvas lukisan lewat karya seri distorsi (distortion series).

Eksplorasi bentuk kanvas ini berdasarkan pengalamannya saat melihat perupa menjadi tidak percaya diri ketika ada kesalahan pada bentuk kanvas (spanram) yang tidak simetris atau tidak presisi. “Mereka menjadi tidak percaya diri untuk menampilkan karya, karena kesalahan yang ada pada bentuk dari kanvas,” ujar Acil.

Dia mengekspresikan tema pameran lewat bentuk kanvas yang tidak biasa dengan corak lukisan abstrak ekspresif dalam komposisi warna cerah yang diimbuhi teks tertulis (Asymmetric, 2026). “Di sini saya mencoba merespon sebuah kesalahan yang sebelumnya dianggap gagal atau tidak layak menjadi sebuah karya yang lebih layak dan sangat pantas untuk ditampilkan.”

Bagi Nurohman Malik (1986), bahasa rasa muncul lewat Nandang Wuyung, sebuah konsep dalam budaya Jawa yang menggambarkan perasaan sedih, kesepian, dan kehilangan yang mendalam. Nurohman mengekspresikannya lewat permukaan kanvas yang mengesankan citraan kerutan pada permukaan kertas dengan menghadirkan bentuk dua kepala kuda dan bentuk kelopak bunga dalam komposisi warna lembut (Asmarandana, 2025). “Nandang wuyung menggambarkan perasaan sedih dan kesepian karena terpisah dari seseorang yang dicintai,” ujar Nurohman.

Adapun Ubaidullah (1995) menggabungkan citraan bentuk animasi dengan bentuk realis pada salah satu karya lukisnya berupa bentuk realis separo badan ikan pada posisi vertikal dengan tumbuhan hijau tertancap di mulutnya. Di sebelahnya menjulur bentuk pohon berhiaskan bentur figur animasi berdiri dengan tangan terentang di dahannya (Diary Series #2, Hal-hal yang tak pernah usai, 2026). “Saya mencoba memaknai bahasa rasa  dengan hal-hal apa saja yang paling dekat dengan saya waktu di studio dan rutinitas apa yang aku kerjakan tanpa rasa bosan,” kata Ubaidullah.

Sementara Na’illa Ika Suzanna (1999)  menggunakan visual semi-surreal dan objek utama tubuh, berharap dapat lebih dekat dalam pemahaman yang dia disampaikan. Ada sosok perempuan tanpa busana dengan bentuk kepala berupa tengkorak berhiaskan bentuk tanduk di atasnya. Sosok ini dalam posisi duduk bak sedang suntuk berfikir di atas kursi bak singasana raja (Throne of Repetition, 2026). “Dalam proses mencari jati diri, seringkali melewati beberapa perasaan yang muncul berulang: bosan, penasaran, kesadaran, dilema dan kasmaran,” ujar Na’illa.

Bahasa rasa dalam hidup manusia bagi Ellyana Khoirunnisa (1999) diwakili lewat frasa melankoli sebagai salah satu tipe kepribadian dasar yang ditandai dengan sifat analitis, perfeksionis, sensitif, dan pemikir. Pada salah satu karya grafisnya dengan tehnik cukil, Ellyana menggambarkan sosok perempuan berkerudung dalam posisi tampak belakang sedang menguak tirai yang memisahkan dirinya dengan dunia luar (Lapang Dada, 2026) “Melankolis cenderung lebih sering merenung dan melihat dunia dengan lebih serius,” kata Ellyana.■ Raihul Fadjri