Pameran Kain Tradisional Tiongkok Sambut Tahun Kuda Api

Proses pembuatan kain biru khas Tiongkok menggunakan bahan ramah lingkungan.

Sejarah & Budaya163 Dilihat

 

Salah satu kain tradisional Tiongkok Kain Cap Biru. Foto: Raihul Fadjri/ dialoguejakarta.com

Yogyakarta, dialoguejakarta.com – Tahun baru Imlek yang jatuh pada 17 Februari 2026 dirayakan dengan pameran kain tradisional Tiongkok di Bentara Budaya Yogyakarta pada pameran bertajuk ‘Cap Biru Santung’, 15 – 28 Februari 2026. Selain memamerkan 27 lembar kain tradisional Tiongkok, susana perayaan Tahun Baru Imlek terasa kental juga lewat karya lukis perupa Subandi Gianto betupa citraan bentuk kepala kuda disokong bentuk leher yang kukuh berhiaskan bentuk-bentur figur manusia dan hewan dengan warna merah menyala (Tahun Kuda Api, 2026).

Kain tradisional semacam batik tidak cuma ada di Indonesia, tapi juga di Tiongkok dengan teknik pembuatan yang berbeda. Tehnik tutup celup atau resist adalah teknik kuno dalam mewarnai kain yang telah dikenal sejak zaman Firaun di Mesir dan tersebar ke Asia, termasuk di Tiongkok. Teknik ini pada prinsipnya berupa kain ditutup dengan lilin atau lem hingga mengering, sebelum kemudian dicelup atau diwarnai. Proses selanjutnya, lilin penutup dilarutkan dengan air panas sehingga motif kainnya nampak.

Karya lukis Subandi Giyanto (Kuda Api, 2026)

Proses batik juga menggunakan Teknik tutup celup, hanya bedanya malam atau lilin dipanaskan dengan api, dan menggunakan canting untuk membatiknya. Sedangkan dalam pembuatan Kain Cap Biru, proses awal dimulai dengan membuat pola mengikuti lubang-lubang pada karton yang telah dipalit dengan minyak Tung atau getah buah kesemek. Karton ini kemudian diletakkan di atas kain putih, setelah itu dipalit dengan semacam kanji dari kapur dan tepung.

Selanjutnya kanji itu ditekan dengan pisau pahat supaya masuk ke dalam lubang-lubang lukisan dan melekat di atas kain putih. Setelah kanji kering, kain itu dicelup ke dalam nila dan diangin-anginkan, kemudian kanji itu direbus. “Hasilnya kain putih itu menjadi bergambar,” ujar Hermanu, kurator pameran ini.

Gambar-gambar kain cap biru yang di pamerkan berasal dari berbagai daerah di Tiongkok tengah, antara lain Provinsi Hunan, Zhejiang, Jiangsu, Hubei, Sensie, Hebei, Shandong, Ciangsi, dan Anhui. “Kami memilih daerah Santung atau Shandong mewakili produsen kain cap biru ini karena kata ‘santung’ lebih familier pada masyarakat Indonesia dengan produk kain santung yang banyak dipakai sebagai bahan pakaian,” kata Hermanu.

Kain cap biru itu punya beragam pola citraan kebentukan. Ada kain yang dipakai untuk korden berhiaskan bentuk vas bunga dengan empat citraan bentuk bunga yang sedang berkembang dalam warna monokrom (Lambang Bahagia dan Selamat #2).

Ada juga lembaran kain sarung untuk selimut dari Provinsi Hunan yang berhiaskan kombinasi citraan tumbuhan dan hewan berupa bentuk melingkar di bagian tengah dengan bentuk bunga teratai dan citraan bentuk burung Phoenix di sekelilingnya dalam warna dasar putih (Bunga Tetatai dan Burung Phoenix). Motif kain tidak cuma mengeksplorasi citraan bentuk tanaman, kain cap biru asal Tiongkok ini juga berhiaskan citraan dua bentuk ikan (Ikan Gurame).

Selain mengenalkan budaya Tionghoa dengan pameran Kain Cap Biru, diharapkan teknik dan cara pembuatan kain cap biru ini diadopsi oleh seniman batik atau perajin kain untuk mengembangkan dan memperkaya teknik pembuatan batik atau cap batik. Karena bahan pembuatan kain cap biru ini lebih ramah lingkungan, seperti bahan capnya dari karton dan lem kanji serta pewarnanya alami bukan dari pewarna kimia. “Kita berkewajiban untuk menjaga lingkungan untuk kelangsungan generasi yang akan datang,” ujar Hermanu.■ Raihul Fadjri