Ketika Bantal Membawa Kenyamanan Hidup Lewat Karya Seni Rupa

Karya seni instalasi, narasi kenyamanan hidup dibangun dari bahan terakota lewat panasnya tungku terbuka.

Sejarah & Budaya433 Dilihat

Karya Loranita Theo (Mencoba Mimpi Bersama, 2026). Foto: dokumentasi Orbital Dago/ dialoguejakarta.com

Bandung, dialoguejakarta.com – Sebelum Presiden Prabowo Subianto menggagas program gentengisasi sebagai atap pengganti materi seng, perupa Loranita Theo (1970) telah membuat karya instalasi dengan menggunakan genteng pada pameran tunggalnya bertajuk Open Oven di ruang pamer Orbital Dago, Bandung, 28 Januari – 22 Februari 2026.

Salah satu karya instalasinya menggunakan susunan bentuk bantal dengan kemunculan satu bentuk tangan menjulur dari salah satu sisi bantal dan satu bentuk kaki di ujung sebaliknya. Struktur tubuh bantal ini bak figur sedang terlelap dalam tidurnya, berada di atas sudut persegi bentuk bumbungan atap rumah dengan susunan genteng dari terakota (Nyarungsum Sumsum Suwung Wuwung, 2025). “Bagi saya bantal adalah gerbang mimpi, portal imajinasi tentang harapan,” ujar Loranita Theo yang menjalani pendidikan seni lukis di Fakultas Seni Rupa dan Disain (FSRD) Institut Teknologi Bandung.

Karya instalasi ini menggambarkan relasi fungsional dan emosional manusia dengan bantal. “Tangan dan kaki yang dalam imajinasi saya bagian tubuh itu seolah menembus dimensi mimpi, ada tangan yang mencoba menguasai ruang dan kaki yang mencari arah bersama waktu,” kata Yumma, panggilan akrab Loranita.

Dalam Open Oven atau artian harfiahnya “tungku terbuka”, Yumma menampilkan karya-karya tiga dimensional berupa citraan bentuk bantal berlapis warna yang dihasilkan dari serbuk terakota. Bentuk bantal itu dikombinasikan dengan elemen patung dari terakota berupa bagian tubuh — tangan, kaki — dan genteng, serta elemen media lainnya, seperti suara, kayu, rotan, besi, tambang dan elemen pendukung lainnya.

“Karya-karya Yumma dengan elemen bantal menyimbolkan kenyamanan, harapan sekaligus kegelisahan. Ia mengungkapkan bahwa kenyamanan atau homy, muncul dari lingkungan rumahnya di Jatiwangi,” ujar Rifki Goro Effendy, kurator pameran ini.

Bantal juga menjadi metafora tentang kenyamanan hidup Yumma bersama keluarganya di rumah lewat karya berupa struktur membulat dari susunan bentuk bantal dengan sejumlah bentuk tangan dan kaki menerobos keluar dari struktur bantal itu (Mencoba Mimpi Bersama, 2026).

Kenyamanan bantal tidak sekadar membantu menghasilkan mimpi yang indah tapi juga mampu menghadirkan penggalian ide kreatif dan solusi masalah dengan memanfaatkan fikiran saat tidur dengan membiarkan imajinasi mengembara. Yumma menggambarkan proses kreatif itu lewat jalinan rotan yang keluar dari bentuk bantal di bagian bawah, menjulang keatas membelit struktur tubuh yang direpresentasikan lewat bentuk tangan dan kaki yang mencuat dari belitan itu (Dream Storming, 2026).

Yumma juga mengeksplorasi narasi kerasnya upaya manusia menembus halangan yang dihadapi lewat sejumlah bentuk tangan berhasil menerobos bentuk melingkar berupa struktur dinding dari susunan batu bata, seolah upaya itu dilakukan tanpa menyebabkan kerusakan berarti (Penyintas Retas Bata, 2025).

Bak menutup proses panjang kenyamanan perjalanan hidup dengan segala rintangannya, Yumma menghadirkan dua bentuk bantal yang dibangun lewat struktur geometris. Masing-masing bentuk bantal yang sudah berubah itu muncul dua pasang kaki seolah menggambarkan pasangan hidup yang tetap dengan semangat menempuh sisa perjalanan hidup ini berdua (Seiring Seharap, 2026).

Sementara di dinding dipajang dua karya lukis. Satu karya lukis berupa citraan bentuk bantal berhiaskan garis-garis geometris dengan bentuk dua telapak kaki di atasnya yang ditopang struktur bentuk geometris berujung tajam, seolah menggambarkan situasi yang tidak nyaman (Prematur Dream, 2026). Adapun lukisan di sebelahnya dalam struktur bentuk yang sama dengan citraan bentuk tangan bak sedang berdoa (ILLUSORY, Very Glossy, Almost Holly, Imaginary, 2026).

“Karya-karya Yumma memperlihatkan praktek dimana seniman sebagai individu otonom dan heterotonom yang bisa menghasilkan kekaryaan  eksploratif terhadap gagasan maupun medium melalui bahasa rupa yang lebih lugas dan simbol– simbol yang akrab,” ujar Rifky Goro Effendy.■ Raihul Fadjri