
Jakarta, dialoguejakarta.com – Banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat menyisakan kepedihan yang mendalam bagi penduduk terdampak. Rumah rakyat lenyap, ribuan nyawa melayang diterjang air dan potongan kayu yang mengambang. Bencana di tengah kondisi alam yang sudah rusak ini diangkat pelukis Cindy A Budiono di atas media kertas dengan menggunakan cat air, berupa sosok perempuan sedang memeluk bayi di tengah air banjir setinggi pinggul tubuhnya di antara tebaran tumpukan potongan kayu di bawah kegelapan mendung yang menggelayut.
Karya lukis Cindy berjudul ‘Human Greedines and Neglectfullness’ ini satu dari 51 lukisan cat air karya 31 peserta pameran bertajuk ‘Smara Bhumi’ di Balai Budaya, Jakarta, 1 – 8 Februari 2026. Peserta pameran mengeksplorasi narasi lingkungan lewat torehan kuas yang menghasilkan citraan transparan yang khas karya lukis cat air di atas kertas. “Cindy memaparkan peristiwa apa adanya, antara mereka yang menderita dan kerusakan ekologis,” ujar Bambang Asrini, pengamat seni rupa. “Mereka bersama merayakan beragam ekspresi, yakni saling membeda dalam pola, bentuk, serta topik dan karakter lukisan.”
Para pelukis cat air ini pernah mengikuti pendidikan lukisan cat air di komunitas seni Agus Budiyanto Aquarelle Studio (ABAS) yang berdiri pada tahun 2000 di Jakarta. “Peserta pameran adalah murid-murid saya. Kalau dihitung dari awal ABAS berdiri, pesertanya sudah lebih dari 100 orang,” ujar Agus Budiyanto, seorang pelukis cat air senior.
Frasa Smara Bhumi sebagai judul pameran ini dimaknai sebagai ketulusan para seniman untuk mendekat pada alam, sesuatu yang secara kodrati ada dalam diri tiap manusia. “Aku melukis bukan merekam apa yang aku lihat tapi menuangkan yang aku rasakan. Aku
menangkap bunyi tidak dengan telinga tapi lebih kepada rasa”, ujar Agus Budiyanto yang ikut mendirikan Komunitas Lukis Cat Air Indonesia (Kolcai) pada 2012.
Pada karya lukisnya bertajuk ‘Infinity’, Agus Budiyanto (1960) yang mendirikan International Watercolor Society (IWS) Indonesia pada tahun 2014, mengeksplorasi corak lukisan abstrak berupa sapuan kuas dalam warna hitam transparan dikombinasikan dengan warna merah.
Corak lukisan abstrak juga dieksplorasi Vera Eve Lim, seorang bankir yang jatuh hati pada seni lukis cat air. Dia mengeksplorasi sapuan kuas dalam bentuk melengkung dengan komposisi warna cerah merah, biru dan hitam pada karya berjudul ‘No Limit to Transform’. “Melukis abstrak butuh waktu melatih kemampuan menuangkan imajinasi, insting pelukis dan menuangkan dalam lukisan,” ujar Vera yang juga seorang kolektor lukisan.
Peserta pameran juga mengeksplorasi corak lukisan realis dengan narasi lingkungan dan habitatnya, sebagaimana karya Niken Vijayanti berupa citraan hewan di habitatnya, antara lain kupu-kupu, ulat, hingga bebek yang berjalan beriringan pada karya lukis berjudul ‘Quiet Thresholds’ dan ‘The Silence of Growth’. Karya ini seakan menarasikan pentingnya menjaga habitat hewan.
Narasi kerusakan lingkungan dieksplorasi oleh Tianty Trisna Dewi lewat karyanya berjudul ‘Help’, ‘Jo Rocks’ dan ‘Ikan Plastik’, berupa citraan biota laut–kura-kura, ikan– yang terjerat sampah plastik, dan lingkungan tepi pantai, yang habitatnya dipenuhi dengan sampah berupa kemasan makanan dan minuman. Kecintaannya terhadap mahluk hidup dan alam, membuat tema karya Tianty selalu berhubungan dengan kehidupan. Baik itu kehidupannya sendiri atau alam sekitarnya. “Saya berharap karya saya bisa membuka hati dan rasa empati orang yang melihat,” ujarnya.
Di sisi lain Ernani Hastuti pada karya lukisnya yang berjudul ‘Di Ujung Senja’ menangkap keindahan lanskap laut lepas lewat pengalaman estetiknya berupa citraan perahu layar di tengah suasana monokromatik yang transparan di bawah keremangan cahaya bulan nan terasa syahdu.
Dari tampilan karya lukis cat air ini dengan berbagai narasi membawa penikmat lukisan cat air ke alam rasa yang mempesona.■ Raihul Fadjri