Musisi Pulau Dewata Galang Dana Banjir Bandang Sumatera, Gelar Pentas Musik dan Jual Karya Seni Rupa

Kolektif Kongkow menyuarakan solidaritas tanpa memandang asal daerah, meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya empati dan aksi nyata dalam menghadapi krisis kemanusiaan.

DialogDaerah382 Dilihat

 

 

Denpasar, dialoguejakarta.com – Dalam upaya membantu meringankan beban korban bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra akhir November 2025 lalu, salah satu kolektif di Pulau Bali bernama Kongkow Kongkow berinisiatif mengajak dan bekerjasama dengan musisi independen asal Pulau Dewata. “Aksi itu berupa acara penggalangan dana atau persembahan amal yang digagas secara mandiri tanpa afiliasi dengan sektor komersial, sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan dan empati atas tragedi yang melanda tanah air,” ujar Angga Baskara, panitia penyelenggara Sumatra Calling.

Bencana alam hujan ekstrem yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah memicu banjir bandang dan longsor dengan skala sangat besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga 8 Desember 2025 korban tewas mencapai 929 jiwa, ratusan masih dinyatakan hilang, dan ribuan mengalami luka serta kehilangan tempat tinggal.

Tidak hanya rumah warga yang hancur, tetapi juga fasilitas umum seperti sekolah, pusat kesehatan, jembatan, dan infrastruktur vital lainnya banyak yang rusak berat. Lebih dari 150 ribu hunian terdampak membuat ratusan ribu jiwa terpaksa mengungsi.

Di beberapa wilayah terdampak, akses logistik dan bantuan sempat terputus karena infrastruktur rusak, mempersulit distribusi bantuan darurat. Pemerintah dan Tim SAR saat ini terus berupaya membuka jalur akses dan mendistribusikan bantuan.

“Kondisi saat ini sangat membutuhkan bantuan bersifat mendesak, mulai dari makanan, pakaian, obat-obatan, hingga kebutuhan dasar pengungsi dan korban luka,” kata Angga Baskara.

Merespon situasi itu musisi independen dari Bali bergerak menggalang donasi untuk disalurkan ke korban bencana di Sumatra. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk:
Menyuarakan solidaritas tanpa memandang asal daerah; Meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya empati dan aksi nyata dalam menghadapi krisis kemanusiaan; Memberi harapan dan bantuan konkrit bagi korban yang tengah berjuang melewati masa sulit.

Acara dengan nama ‘Sumatra Calling’ ini akan digelar pada Senin, 15 Desember 2025, Berbagi Ruang, 17.00 WITA hingga selesai, berupa acara penggalangan dana dan barang, konser amal berupa pertunjukan musik dan seni.

Para penampil pertunjukan musik adalah Dialog Dini Hari, Navicula, Jangar, Scared Of Bums, Jacko Kaneko, Sandrina Malakiano, dan Morbid Monke. Sedangkan lelang lukisan oleh Ken Gaga (@masgaga), Brian Ekan Frii Zamroni (@varkoiivark), Chandra B Kerthapati (@masbe_basme), Made Kaek (@madekaek), dan Abima Narasatriangga (@narsatriangga)

“Semua hasil dari acara ini 100% akan disumbangkan untuk korban terdampak banjir dan longsor di Sumatra, lewat jalur resmi dan transparan melalui Agam Rinjani (@agam_rinjani),” ujar Angga Baskara. Media dan publik diundang untuk terlibat, ikut berbagi, serta menyebarkan informasi agar bantuan dapat menyentuh mereka yang paling membutuhkan.

“Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat Bali untuk bergandeng tangan, menunjukkan bahwa empati dan kepedulian tidak mengenal batas geografis. Bila Anda ingin berdonasi atau mengambil bagian dalam penyelenggaraan acara, panitia dengan terbuka menerima dukungan.”

Angga berharap, semoga melalui aksi kecil ini, dapat mengurangi beban para korban, menyebarkan harapan, dan memperlihatkan bahwa rasa kemanusiaan tetap hidup bahkan di masa sulit.

Kolektif KongkoKongkow adalah komunitas musik indie yang berbasis di Bali dan telah hadir sejak pertengahan tahun 2019. Komunitas ini didirikan oleh Nuel Lawalata , Yezki Kana Wadu, dan Jascha Ririhena, yang pada saat itu melihat keterbatasan ruang bagi musisi independen untuk menampilkan karya original mereka.■ Raihul Fadjri